KERAJAAN Astina sekarang telah berganti pimpinan, dari Prabu Kresna Dwipayana kepada Pandu, yang kemudian bergelar Prabu Pandu Dewanata, karena kebetulan dia juga gemar musiknya Dewa Bujana dari Grup Gigi. Awalnya Prabu Pandu mau bergelar: Kalipatulah Sayidin Panatagama, Raden Ngabei Loring Pasar. Tapi dilarang dewa, karena itu gelar khusus keturunan raja-raja Mataram.
Sebagai raja negeri Astina, mestinya Prabu Pandu berhak koleksi bini banyak-banyak-banyak, tapi dia hanya dua saja, yakni Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Dari hasil “madu bersyariah” inilah, Prabu Pandu punya anak 5, yakni dari Kunthi terlahir Puntadewa, Bima (Werkudara) dan Harjuna. Dari istri Madrim, lahir Nakula dan Sadewa, sehingga ketika namanya dipakai Kak Seto sebagai nama yayasan anak kembar, putra Dewi Madrim ini tiap tahun dapat royalty.
“Mustinya kamu tambah bini berapa kek, namanya juga raja. Itu sah-sah saja,” kata Begawan Abiyasa beberapa minggu setelah jadi petapa di Candi Saptaharga.
“Sudahlah rama, dua istri cukup, perempuan dan wanita sama saja. Wong baru dua bini saja wajahku pucat pasi begini, apa lagi beristri banyak, bisa seperti kertas HVS nanti,” jawab Prabu Pandu.
Memang, sejak lahir Pandu berwajah pucat pasi seperti kurang darah. Itu karena pengaruh sang ibu, Dewi Ambika saat bermalam pertama dengan Abiyasa ketika masih muda. Maaf kata, waktu muda Abiyasa ini bertampang jelek, hidung mancung ke dalam, sementara giginya malah mancung keluar alias tonggos. Akibatnya setiap diajak hubungan intim oleh suaminya, Dewi Ambika ketakutan sampai pucat. Beruntung kemudian setelah jadi raja langsung ganti gigi system implant, jadi ketolonglah penampilan raja Astina ini.
Demikianlah, sejak menjadi begawan di Candi Saptaharga atau biasa disebut Wukir Retawu, Begawan Abiyasa mungkur kadonyan (tinggalkan duniawi). Dia focus mengelola pertapan dengan para cantriknya. Nonton TV juga tidak pernah, apa lagi ILC di TV One, karena isinya suka “ngomporin” publik dengan nara sumber itu-itu saja.
“Kenapa panembahan tidak mau nonton TV sekarang?” Tanya cantrik Sapto Nyebelin, omongannya lancer karena tidak pada pers.
“TV sekarang mah hanya mengejar rating, banyak tayangannya yang nggak bermutu. Tiap hari cengengesan melulu….,” jawab Begawan Abiyasa.
Namun demikian Begawan Abiyasa tak ketinggalan informasi, karena masih mengikuti berita media online. Maka dari situ dia masih bisa tahu perkembangan politik di negeri Astina yang telah ditinggalkannya. Misalkan Pandu yang meninggal saat istri keduanya, Madrim hamil tua dan kemudian melahirkan si kembar Nakula-Sadewa. Ironisnya Begawan Abiyasa tak juga mau ngelongok, padahal naik busway juga gratis.
Demikian juga ketika kerajaan Astina dikuasai anak pertamanya, Destarata yang buta, kemudian diserahkan kepada Jakapitono atas rayuan Gendari, dia juga mendengar. Tapi Begawan Abiyasa tak mau intervensi. Dia baru mau memberi nasihat manakala mereka datang ke pertapan Saptahargo. Tapi karena mereka melupakan Begawan Abiyasa, ya sudah…….
“Ini gawat Panembahan, Astina dikuasai Jakapitono dan patihnya pun digantikan oleh Sengkuni. Dia malah berwacana, raja Astina nantinya dipilih oleh rakyat melalui Pilraja langsung, yang diusung oleh partai.” Cantrik Sapto Nyebelin memberi informasi.
“Biar saja, karena pemikiran Sengkuni ketularan Amien Rais dari Indonesia. Rupanya dia pengin juga jadi raja, tapi feling saya mengatakan, Sengkuni takkan berhasil.” Jawab Begawan Abiyasa seakan jadi dukun politik niru alm. Suhardiman SE.
Tapi Begawan Abiyasa sedikit terhibur ketika Pendawa Lima, berhasil bikin kerajaan sendiri namanya Amarta, di bekas perkebunan sawit Wanamarto. Dia ikut senang, ketimbang jadi perkebunan sawit malah kena karhutla (kebakaran hutan dan lahan) melulu. Bahkan pernah, padepokannya tutup sementara gara-gara asap tebal sampai ke Candi Saptahargo. Mau protes bagaimana, wong ini ulah pemerintahan Destarata anak sendiri, yang kemampuan indranya sangat terbatas.
Selama pemerintahan Amarta – Astina dipimpin anak muda Puntadewa dan Jakapitono, Begawan Abiyasa juga tahu bahwa kedua negara itu terus sering bertikai. Pandawa menuntut kembalinya Astina negara warisan leluhurnya, tapi Jakapitono beserta adik-adiknya Kurawa 99 mencoba mempertahankannya karena lagi-lagi diotaki Sengkuni yang sekarang semakin eksis di barisan Astina, sampai mampu bikin pertokoan besar Jenar Plaza. Lagi-lagi Begawan Abiyasa hanya diam, tak mau intervensi.
“Kalau kita bertikai terus, yang enak malah para dalang wayang kulit.” Keluh Durmagati sekali waktu.
“Apa hubungannya, kita sebagai wayang kan tinggal bagaimana maunya kidalang.” Jawab Kartomarmo yang rupanya belum dhong (paham).
Maka Durmagati pun berlogika. Katanya, pertikaian Pendawa-Kurawa menjadikan dalang semakin bebas bikin lakon carangan (di luar pakem) dengan latar belakang intrik Astina-Amarta. Dan dalang macam Hadisugito, Anom Suroto, Timbul Hadiprayitno atau Ki Seno Nugroho yang baru ngetop dewasa ini; semakin laris ditanggap.
Bagi Begawan Abiyasa sih nggak masalah. Para kidalang juga selalu mengenang nama besarnya, sebagai Begawan yang jujur, sederhana, tak mau terseret arus politik, apa lagi ikut mimpin demo di Monas. Dalam setiap lakon apapun, pasti Abiyasa sering ditampilkan menjelang pagi. Jika tak disowani Harjuna, juga Abimanyu. Keduanya sering konsultasi dengannya. Sebagai oleh-oleh cukup membawa teh gula, kopi, sudah cukup. Dalam bentuk uang Begawan Abiyasa tak pernah mau, takut dituduh terima gratifikasi.
“Karena kalau sekedar teh gula dan kopi takkan diusut KPK.” Kata Begawan Abiyasa, saat ditanya cantrik Sapto Nyebelin.
“Betul juga ya Panembahan. Jika KPK sampai menyita teh gula dan kopi, nantinya gedung KPK seperti toko sembako jadinya.” Ujar si cantrik sambil manggut-manggut.
Demikianlah, pertiakaian Pendawa-Astina sampai pada wacana Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ). Kaget juga Begawan Abiyasa membaca berita di Detik.com. Tapi sesuai dengan konsesus dengan hati nurani, dia akan mencoba tetap diam. Padahal resikonya, ribuan nyawa akan jadi korban dan APBN dua negara itu akan membengkak untuk membiayai perang. (Ki Guna Watoncarita)



