TETAPI Kala Bendana mungkin kebanyakan micin, jadi tak paham akan bahasa isyarat Gatutkaca. Dia terus saja ngomeli kesatria Tanjung Anom itu. Padalah Abimanyu ibaratnya main catur, sudah mati langkah. Dia benar-benar ditelanjangi oleh Kala Bendana. Sudah kadung mengaku bujangan tulen, eh……Kala Bendana malah mengatakan hal sebaliknya. Status dirinya yang sebenarnya sudah menikah, justru dibuka telak di depan Dewi Utari.
“Kulup Abimanyu, pulang sana buruan. Siti Sendari istrimu ngambek, saya diperintahkan menyusul kami.” kata Kala Bendana lancar sekali, padahal Abimanyu berulangkali mengucap ssstt ssstt….seperti rem biskota.
“Paman Kala Bendana, cari makan dulu yuk. Kan belum makan siang. Gudeg Yu Siyem di pojok sana itu enak, lho. Mari kita ke sana,” ujar Gatutkaca kemudian menengahi, sambil menarik paksa Kala Bendana diajak keluar.
Sebetulnya Kala Bendana tidak mau, tapi terus dipaksa keluar dan diseret hingga tiba di belakang gedung BP-7. Di sini Kala Bendana diomeli habis-habisan, dikata-katai sebagai orang tua tidak bijak alias sepuh sepah. Orangtua yang tak memahami selera anak muda jaman milenial dan start up.
“Jaman start up atau kue tart, kejujuran harus jadi panglima, Gatutkaca. Aku tidak suka anak muda yang jago bohong. Apa kata dunia?” kata Kala Bendana terus meletup-letup.
“Betul paman Kala Bendana, tapi demi kepentingan nasional, bolehlah bohong sedikit-sedikit,” kata Gatutkaca lagi.
“Ini bukan kepentingan nasonal, tapi ini kepentingan alat vital.” Jawab Kala Bendana semakin kesal dan semakin kasar.
Kala Bendana kemudian hendak balik ke gedung BP-7 lagi, untuk kembali menemui Abimanyu. Tapi langsung ditangkap oleh Gatutkaca, kali ini dengan kasar. Ternyata Kala Bendana malah teriak-teriak, menstigma Gatutkaca telah membungkam kebenaran. Habis sudah kesabaran ksatria Pringgodani tersebut. Lupa bahwa Kala Bendana adalah paman sendiri, untuk membungkamnya segera saja ditangkap kepalanya, lalu diuntir (diputar) seperti buah kelapa. Thelll……langsung terputuslah kepala itu dari badannya.
Gatutkaca terkesiap, kenapa jadi sekejam itu pada paman sendiri? Dia menangis meratapi jenazah pamannya, tapi tiba-tiba terdengar suara langit, jauh tapi jelas, karena ada ehonya. “Angger Gatutkaca, sudahlah lah lah lah, jangan kamu menyesali nasib, sib sib sib. Ini sudah menjadi takdir dewata, ta ta ta! Di perang Baratayuda nanti, ti ti ti, aku siap menjemputmu, mu mu mu….!”
Tiba-tiba jenazah Kala Bendana mukswa (menghilang), dia langsung masuk swarga pangrantunan tanpa hisab. Tapi ironisnya, tak ada bidadari yang menyambut dan mengelu-elukan. Jangankan puluhan, satu saja tidak ada. Maklum tampang Kala Bendana jelek sekali, tak ada satupun bidadari yang nafsu. Tapi bagi Kala Bendana, bodo amat, memangnya gua pikirin?
“Maafkan paman Kala Bendana, ponakanmu telah berbuat aniaya…,” ratap Gatutkaca.
Gatutkaca tak lagi melanjutkan penataran P-4 di gedung BP-7, dia langsung hendak ke Jodipati, ketemu ayah Werkudara dan ibu Arimbi. Kepada Abimanyu dia hanya kirim WA, mohon maaf seribu maaf, karena gagal menyelamatkan citra Abimanyu. Sebagai pejabat negara yang sudah cacat, dia ingin mengundurkan diri dari status senapati PBJ.
Werkudara dan istrinya, Arimbi, tentu saja kaget sekali atas kekejaman Gatutkaca pada pamannya. Mereka juga malu karena Kala Bendana dikorbankan hanya untuk menutupi sebuah kebohongan. Padahal jika sudah menutupi sebuah kebohongan, pastilah akan menciptakan kebohongan-kebohongan lain demi menutupi kebohongan perdana.
“Komnas HAM sudah tahu belum? Ini paling gawat, mereka nantinya bisa ngoceh sampai ke luar negeri. Kita yang bakal kerepotan.” Keluh Werkudara.
“Belum rama, tapi suatu saat pasti akan dengar juga. Sebab “bulan yang bisa ngomong” pasti akan menjadikan “berita pada kawan”….” Jawab Gatutkaca lesu.
Werkudara tak bisa memberikan solusi, kecuali kemudian memanggil Prabu Betara Kresna sebagi konsultan politik perang Baratayuda. Dia adalah “Eep Saefullah Fatah”-nya dunia perwayangan. Apa kata beliaunya, semua wayang akan mematuhi, terutama dari kubu Pandawa.
Dalam dunia perwayangan, hukum tak bisa tegak setegak-tegaknya. Sanksi hukum hanyalah nanti setelah kabanjut dewa (meninggal), jika banyak salahnya masuk kawah Candradimuka, jika banyak benernya masuk swarga pengrantunan. Karenanya Prabu Kresna dalam memberikan fatwa hanya sebatas kaitannya Gatutkaca denga statusnya sebagai senopati PBJ belaka.
“Gatutkaca tak mungkin mengundurkan diri dari senopati PBJ, sebab itu akan merusak skenario dewa di kahyangan. Karenanya Gatutkaca tenang saja, soal kematian Kala Bendana takkan mempengaruhi karier politikmu, gajimu juga akan utuh bebas potongan,” kata Prabu Kresna.
“Kayak di Indonesia saja, ya. Bekas napi boleh ikut Pilkada.” Potong Werkudara.
Demikianlah, skandal Abimanyu yang karem main perempuan tak membatalkan keputusan Prabu Matswapati menikahkan Utari dengan Abimanyu. Di kala Siti Sendari membanting-bantingkan tubuhnya karena dilamun cemburu, di Wiratha Abimanyu – Dewi Utari “banting-bantingan” di ranjang dengan sejuta nafsu.
Waktu berjalan begitu cepat, tahu-tahu Prabu Kresna telah diutus Pendawa untuk minta ketegasan Kurawa, tentang persiapan menghadapi PBJ. Ternyata Prabu Duryudana menjawab siap, lengkap dengan panggung dan sound sistemnya. Sebagai MC ditunjuk Tumenggung Sriyono Reksapraja. Tegal Kurusetra juga sudah diratakan, termasuk juga disiapkan lobang-lobang pemakaman mayat bagi mereka yang gugur di PBJ. Yang gugur diasuransikan, yang luka-luka berobat pakai fasilitas BPJS-Kes.
“Siapa saja korban PBJ nanti, wahai Prabu Kresna?” tanya pers.
“Oh, itu nggak bisa dibuka untuk umum. Itu rahasia kahyangan, saya juga nggak tahu detilnya,” jawab Prabu Kresna ngeles.
Singkat cerita PBJ hari pertama telah berlangsung. Gugur sebagai Ratna Resi Seta, disusul Resi Bisma. Mereka pendeta yang sangat dihormati kalangan wayang. Bedanya, Bisa radikal sesuai dengan jubah dan jenggotnya, sedangkan Resi Seta lebih moderat. Dia tak pakai jubah, pelihara kumis juga ala kadarnya. Saat gugur di PBJ, arwahnya segera masuk swarga pangrantunan. Puluhan bidadari menyambutnya, mereka rata-rata sudah minum jamu sari rapet.
Pada hari ketiga, majulah senopati Pandawa, Raden Abimanyu. Siapa lawannya tak jelas, tahu-tahu dia dihujani panah oleh kubu Kurawa. Tewaslah suami Siti Sendari dan Dewi Utari itu. Tapi itu sebagai penebus sumpahnya dulu. Dan karena dulu telah membohongi Dewi Utari, Abimanyu telah impas membayar utangnya. (Tamat – Ki Guna Watoncarita)



