SEKOTHAK wayang di jagad pakeliran, mungkin yang paling jujur hanyalah Kala Bendana, putra bungsu Prabu Arimba dari negeri Pringgodani. Saking jujurnya dia, Kala Bendana hanya tahan bekerja di Kantor Pajak, sebab sehari-hari selalu ada godaan dari para WP (Wajib Pajak) yang minta keringanan pajak. Dia rela membayar puluhan juta pada Kala Bendana, asalkan tagihan pajak bisa dikurangi, tinggal 75 persen dari yang seharusnya.
Tak tahan dengan cara demikian akhirnya Kala Bendana pilih mengundurkan diri. Resikonya, teman-teman yang berani “nggayus” kaya dan punya mobil bagus, Kala Bendana tetap hidup miskin jika tak mau disebut kere. Mobil tak punya, rumah kecil di gang, dan kendaraan satu-satunya hanya sepeda motor Honda 1969 yang selalu berbunyi nguk-enguk.
“Jadi wayang jangan terlalu idealis, bisa mati kaliren (kelaparan) sampeyan.” Sindir punakawan Togog.
“Ah biar saja. Sak beja-bejane sing lali, isih begja sing eling lan waspada.” Kata Kala Bendana mengutip pesan pujangga Jawa, R. Ngabehi Ranggawarsita.
Pringgodani memang negeri sarat korupsi, kecemburuan sosial terjadi di mana-mana akibat perbedaaan si kaya dan si miskin mencolok sekali. Tapi semenjak Brajadenta kakak Kala Bendana tewas karena memberontak pada Gatutkaca raja Pringgodani sekarang, kondisi negara mulai tenang. Manipulasi dan korupsi menurun, tapi belum hilang sama sekali. Karena kejujurannya tersebut, oleh Gatutkaca Kala Bendana hendak dipromsikan, diangkat jadi Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Pringgodani. Ternyata menolak! Selain takut dianggap KKN, dia kerepotan mengisi LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara). Apa motor Honda 69 pantas dilaporakan, karena ya hanya itu asetnya. Itupun hasil hibah dari mertuanya dulu. Ini hibah asli bukan rekayasa.
“Kalau begitu paman Kalabendana saya jadikan staf khusus, dengan tugas pada seksi Penghubung Persiapan Perang Baratayuda saja, ya?” ujar Gatutkaca yang merasa kerepotan untuk memuliakan pepundhen (sesepuh)-nya.
“Lha kalau ini saya mau. Kan nggak ada urusan dengan uang, kan?” jawab Kalabendana senang.
Gatutkaca sendiri mengumumkan langsung pengangkatan Kala Bendana sebagai staf khusus. Biasanya dia tampil seadanya, kini pakai celana hitam baju putih lengan panjang. Lihat di TV rakyat Pringgodani heran, staf khusus biasanya usia 30 tahunan, kok ini nyaris kepala 5. Gajinya juga fantastis, sebulan terima Rp 51 juta bagi Kala Bendana buat apa?
Seksi Penghubung sesungguhnya cuma pesuruh, tugasnya disuruh ke sana kemari mengantar surat atau barang, mirip Gosend. Menjelang Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ), pekerjaan Kalabendana jadi seabrek. Ketika sepi tugas kurir, oleh Gatutkaca diminta menjaga Siti Sendari di kesatrian Tanjung Anom. Sebab Abimanyu suami Siti Sendari sibuk ikut penataran Pedoman Penghayatan & Pengamalan Perang (P-4) sistem 120 jam (tipe A) di Wiratha. Pendek kata, menjelang PBJ putra Pendawa dikerahkan semuanya. Tanpa punya sertipikat P-4 tersebut, tak bisa diangkat menjadi senapati PBJ.
“Jadi senapati PBJ resikonya kan mati, kenapa kok mau ya?” tanya Tumenggung Prajamingkalpa.
“Karena lewat P-4 itu mereka dicuci otak bahwa senapati gugur di PBJ akan langsung masuk surga, disambut 72 bidadari yang semua halal digauli.” Jawab Tumenggung Surapralaya.
Sesungguhnya Siti Sendari menikah dengan Abimanyu baru sebulan jalan. Ibarat sepeda motor begitu, masih inreyen, plate putih dan dilarang untuk boncengan. Oleh karenanya tak mengherankan, baru ditinggal beberapa hari, Siti Sendari sudah kangen pol pada Abimanyu. Biasanya main WA, sekarang ditelpon pun tak mau menjawab. Setiap ditilpun hanya dapat jawaban dari mesin penjawab: jurusan yang Anda hubungi sedang sibuk, atau di luar jangkauan, silakan hubungi beberapa saat lagi.
“Kala Bendana, tolong dong Mas Manyu disusul ke Wiratha, rinduku setengah mati. Suwerrrr…..,” Siti Sendari merajuk.
“Sabar dulu Neng, minggu depan sudah pulang. Suamimu sekarang tengah mengikuti penataran P-4, calon manggala…,” Kala Bendana mencoba menenangkan.
Ternyata Siti Sendari benar-benar seperti anak kecil, susah dibilangi! Dia ngotot menuntut segera kembalinya Abimanyu, apa sih susahnya ke Wiratha? Karena Kala Bendana tetap menolak sesuai petunjuk Bapak Gatutkaca atau Bapak Gautkaca memberi petunjuk, sekarang Siti Sendari malah jadi salah paham, menuduh bahwa Kala Bendana mengharapkan dirinya. Cari kesempatan mumpung tak ada suami. Ujung-ujungnya, Siti Sendari menangis macam sendaren anak main layang-layang!
Tentu saja Kala Bendana kaget sekali, kok ini duplikasi tuduhan Dewi Sinta kepada Lesmana saat menolak diperintahkan menyusul Rama ke tengah hutan. Gila! Memangnya dia punya potongan cakep seperti Lesmana? Sesama anak Prabu Arimba, dia ditakdirkan lahir sebagai buta bajang paling jelek di dunia. Kala Bendana juga tidak paham, mengapa cacat di tubuhnya borongan. Mungkin karena kesalahan ayahnya juga. Sebab di masa hidupnya Prabu Arimba demen ke Pasar Kembang Yogya dan Gang Dolly Surabaya.
“Ketimbang dituduh ngincer si Eneng, ya sudah saya berangkat. Tapi kalau sumpah potong titit macam Lesmana, nggak berani gua. Nanti kalau mau pipis bagaimana?” ujar Kala Bendana sambil pamitan, bablas ke Wiratha.
“Udah jalan! Jangan banyak kata….” Omel Siti Sendari.
Di gedung BP-7 (Badan Pusat Penyelenggara Penataran Pedoman Penghayatan & Pengamalan Perang) Wiratha, keluarga Pandhawa dan Wiratha tengah mengikuti penataran P-4. Yang menjadi manggala (penatar) tercatat Seta, Utara dan Wratsangka, adapun anak-anak Pandhawa yang tak terlihat hanyalah Wisanggeni, Antaseno dan Antareja, karena mereka telah dimatikan dewa, tidak diperkenankan mengalami dan dan menyaksikan perang Baratayuda.
Abimanyu juga ikut penataran P-4 tersebut. Tapi dasar anak Harjuna, bakat mata kranjangnya tak jauh beda dengan sang ayah. Ketika wayang lain sibuk mendengarkan ceramah penatar, dia malah keluar ruangan, bercanda dengan Dewi Utari yang bertugas di seksi Penggandaan Makalah. Putri bungsu Prabu Matswapati itu memang cantiknya selangit. Meskipun statusnya eyang, kali pertama melihat Utari, ukuran celananya langsung berubah. Lupa bahwa sudah memiliki bini baru, Abimanyu justru merayu bungsu Wiratha tersebut untuk diambil istri. Bener-bener gila, nenek sendiri kok ditelateni. Ingat-ingat anak Harjuna, soal poligami memang maju maju dan karem (doyan) banget.
“Sampeyan kok naksir aku, memangnya masih bujangan? Kebanyakan lelaki suka begitu, mengaku perjaka thing-thing ternyata sudah “thingkrang-thingkring”…..!” Dewi Utari to the point.
“Suwerrrr (sumpah), aku ini bujangan tulen. Bila mana ternyata aku sudah punya bini, se,oga aku mati dikrocok (dihujani) panah dalam Baratayuda,” sumpah Abimanyu sambil ketuk-ketuk dhengkul sendiri.
Padahal di kahyangan sana segala ucapan Abimanu dicatat oleh Bethara Penyarikan di komputer dan langsung masuk server kahyangan Jonggring Salaka. Sampai kapanpun data kata itu takkan terhapus, karena program anti virusnya beli di Pemrov DKI seharga Rp 12,9 miliar.
Di saat Abimanyu-Dewi Utara asyik pacaran di pojok gedung BP-7, tahu-tahu Kala Bendana muncul tanpa permisi. Melihat Abimayu bersama wanita lain, langsung saja angkat bicara.
“Trembelane, dicari ke sana kemari nggak ketemu, ternyata Abimanyu malah ngoblang (main tak jelas) di sini…,” kata staf khusus Pringgodani sekaligus utusan Siti Sendari tersebut.
“Sst, paman Kala Bendana, ngomong jangan keras-keras, ada penataran!” ujar Abimanyu sambil menyilangkan jari di bibirnya. (Ki Guna Watoncarita)



