ABIYASA KEMBAR (1)

Tumben-tumbenan, Begawan Abiyasa datang sendiri ke Istana Indra Prasta, untuk bertemu Prabu Puntadewa.

SAMA-sama menjabat patih, Tambak Ganggeng sebagai patih Ngamarta sama sekali tak dikenal. Beda dengan patih negeri lain sebagaimana Prahastho di Ngalengka, Pragota di Mandura, atau Udawa di Dwarawati, namanya selalu ngetop. Apa lagi patih Ngastina bernama Sengkuni atau Haryo Suman, dia paling tinggi popularitasnya. Sampai 90 persen kata lembaga survei Indo Barometer. Pernah terkerek hingga 95 persen, gara-gara sumpah mau jalan kaki Ngastina – Mandura sejauh 350 Km tapi tak pernah ditepati.

Kadang-kadang Patih Tambak Ganggeng ngedumel dalam hati.  Sama-sama jadi patih, tapi dalam pisowanan di negeri Ngamarta, kenapa dia tak pernah dihadirkan oleh Prabu Puntadewa di depan publik. Dalam setiap sidang kerajaan, yang hadir selalu Pendawa Lima, ditambah Prabu Kresna. Semua dalang anggota Pepadi sepertinya juga sudah kompak, tak pernah menampilkannya di adegan jejeran pertama. Popularitasnya benar-benar jeblok.

“Kali ini kakang Tambak Ganggeng harus hadir, sebab ada tamu penting yang lain dari kebiasaan. Beliau adalah Begawan Abiyasa, bukankah dulu dia merupakan gurumu di Padepokan Wukir Retawu?” kata Nakula-Sadewa waktu datang langsung ke kepatihan.

“Tumben Begawan Abiyasa ngalahi datang ke Ngamarta, ada pesan politik apa yang hendak disampaikannya?” jawab Patih Tambak Ganggeng terheran-heran.

“Makanya, sampeyan harus datang. Ini moment penting tak boleh dilewatkan.”

Seperti negara-negara lain di seantero jagad perwayangan, semuanya juga terimbas Covid-19. Prabu Puntadewa juga mengeluarkan seruan yang sama, seminggu sebelum Lebaran 1442 H sampai seminggu sesudahnya, semua rakyat Ngamarta dilarang mudik. Ini tindakan preventip demi menghindari tsunami Corona sebagaimana India. Gara-gara Ngamarta merupakan bagian hilir DAS (Daerah Aliran Sungai) Gangga, rakyatnya juga dilarang mandi dan mengambil air sungai Gangga.

Berkaitan dengan larangan mudik ini, entah apa hubungannya, Begawan Abiyasa minta waktu pada Prabu Puntadewa untuk bertemu secara empat mata. Jika tak bisa ketemu lama, 15  menit seperti Amien Rais – Abdullah Hemahahua juga sudah cukup. Kata Begawan Abiyasa saat ditanya pers, ini semua demi kepentingan anak bangsa. Entah bangsa yang mana.

Sesuai dengan jadwal, Begawan Abiyasa datang sekitar pukul 10.00 pagi dengan baju kebesaran jubah dan sorban di kepala. Jenggot putihnya semakin mengesankan bahwa dia memang tokoh kharismatik  yang menjadi panutan keluarga Pendawa Lima, atau rakyat Ngamarta berikut jajarannya.

“Cucu Prabu Puntadewa, saya dukung keputusanmu untuk melarang semua warga Ngamarta mudik Lebaran. Tapi apakah tidak ada kebijaksanaan atau dispensasi sedekit pun atas aturan itu. Soalnya, jika aturan itu benar-benar diterapkan secara ketat, bisa bangkrut padepoan milik saya.” Kata Begawan Abiyasa ketika sampai inti pembicaraan.

“Apa hubungannya Eyang Abiyasa? Masa aturan Covid-19 juga bikin bangkrut padepokan?” jawab Prabu Puntadewa, sepertinya belum dong (paham) dengan maksud ucapan Begawan Abiyasa.

Begawan Abiyasa itu lalu menjelaskan, selama pandemi Corona, pembayaran SPP ratusan cantrik di Wukir Retawu tersendat-sendat, bahkan banyak yang tak mampu bayar. Dan selama pandemi ini, semua anggaran jadi beban pertapan. Jika mereka dibolehkan mudik dengan alasan Lebaran, keuangan pertapan bisa tertolong karena tak ada kewajiban ngempani ratusan cantrik secara gratis. Tapi jika mereka tetap makan gratis di padepokan, keuangan yayasan bisa jebol.

“Karenanya, saya sebagai pengasuh padepokan Wukir Retawu, mohon agar para cantrik dapat dispensasi bisa mudik.” Kata Begawan Abiyasa.

“Nanti jika muncul kluster baru Covid-19 bagaimana Eyang Begawan?” jawab Prabu Puntadewa.

“Enggaklah, cantrik saya rajin dan selalu jaga kesehatan kok.” Jawab Begawan Abiyasa, sepertinya yakin betul para cantrik anti Corona.” Jawab Prabu Puntadewa.

“Saya belum bisa putuskan, eyang. Kami harus rundingan bersama DPL (Dewan Pendawa Lima). Karenanya Eyang Abisaya saya persilakan tunggu sebentar di bangsal dana pratapa, nanti dipanggil kembali.”

Ini benar-benar berbeda dengan karakter Prabu Puntadewa selama ini. Biasanya apapun permintaan orang, raja Ngamarta itu tak pernah menolak. Jangankan hanya sekedar izin atau dispensasi, bini diminta saja jawabnya pendek: mangga (silakan).  Prabu Puntadewa jaman milenial emang beda!

Begawan Abiyasa keluar, masuklah Patih Tambak Ganggeng menghadap Prabu Puntadewa. Dia ditanya soal track record atau jejak rekam Begawan Abiyasa, mengingat Patih Tambak Ganggeng dulu merupakan murid atau cantriknya di padepokan Wukir Retawu yang juga dikenal sebagai Candi Sapta Harga.

“Kakang Tambak Ganggeng, apakah dulu Eyang Abiyasa suka nempel-nempel pejabat agar dapat fasilitas atau dispensasi?” kata Prabu Puntadewa nadanya bertanya.

“Setahu saya enggak tuh. Dia begawan yang jujur dan lurus. Dulu banyak orangtua cantrik mau nyogok agar NEM anaknya dikatrol untuk bisa masuk universitas. Tapi Begawan Abisaya menolak mentah-mentah.”

Hanya itu kesaksian yang diminta oleh Prabu Puntadewa atas Patih Tambak Ganggeng. Setelah ketemu benar-benar selam 15 menit, Patik Tambak Ganggeng diminta keluar lewat pintu belakang. Menurut laporan Satpam istana Indra Prasta, di luaran banyak menunggu. Mereka ingin mengetahui dalam rangka apa Patih Tambak Ganggeng dipanggil secara khusus. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement