ABIYASA MUKSWA (1)

Setelah menjadi begawan di Candi Saptaharga, Abiyasa mengangkat jubir cantrik Sapto Nyebelin.

BEGAWAN Abiyasa merupakan tokoh yang sangat dihormati di jagad perwayangan. Meski nama depannya pakai “abi”, dia bukanlah anggota partai PKS. Tapi dia memang abi (ayah, Bahasa Arab)-nya bangsa Kuru yakni Pandawa dan Kurawa. Semua problem apa saja yang terjadi di negeri Amarta pimpinan Puntadewa dan Astina pimpinan Duryudana, selalu minta petunjuk bapak Begawan Abiyasa.

Lalu cantrik Sapta Nyebelin selaku jubir pertapan Saptaharga memberi keterangan pada pers dengan tutur kata yang terpatah-patah, karena saking hati-hatinya. Maklum, meski santun dan seiman, Sapta Nyebelin bukan ahli menata kata. Dia takut ucapannya keselio lidah lalu dipelintir oleh pers. Maka cantrik Sapto sampai dijuluki “nyebelin” karena jika di depan pers selalu pakai kata yang aaa dan eee…..melulu.

“Katanya penasihat kerajaan Amarta-Astina, tapi ketika dua negara itu bertikai memperebutkan negeri Astina kok Begawan Abiyasa diam saja?” Tanya pers pada Sapto Nyebelin.

“Karena eee…..,  beliau mantan raja Astina yang tak mau ngrepotin para penerusnya. Eee…., biar saja mereka menyelesaikan sendiri, Begawan Abiyasa tak mau intervensi. Eee….., mereka kan sudah gedhe-tuwa (dewasa),” jawab cantrik Sapto nyebelin terbata-bata.

Memang, Begawan Abiyasa dulu sempat menjadi raja di Astina, menggantikan Wicitrawirya yang mati muda. Tapi sesungguhnya Prabu Kresnadwipayana itu tidak suka kekuasaan. Apa artinya kekuasaan, jika jadi raja malah berumur pendek seperti raja Astina sebelumnya, yakni kakak beradik Citragada-Citrawirya. Enakan jadi orang biasa tapi panjang usia, bebas bully dan demo oleh rakyatnya.

Maka diam-diam raja Astina ini pergi ke kahyangan Ngondar-andir Bawana, sowan Sanghyang Wenang. Beliaunya mau minta petunjuk, bagaimana caranya bisa hidup panjang umur, istri banyak, tak punya utang di bank, bebas dari kewajiban setor LHKPN tiap tahun ke KPK.

“Kan enak jadi raja, tiap bulan terima Dana Operasional Raja sampai Rp 5 miliar, bisa dibawa pulang ke rumah.” Sindir Sanghyang Wenang.

“Tapi pendahulu saya, Citragada dan Citrawirya, semua mati muda gara-gara stress jadi raja Astina. Apa artinya harta melimpah jika tak bisa menikmati, Pukulun.” Kata Prabu Kresnadwipayana member alas an.

Maunya Abiyasa tetap jadi raja tapi juga panjang usia. Sanghyang Wenang menolak mentah-mentah. Dia tak mau umat di ngercapada jadi Prabu Dasamuka kedua. Jadi raja kaya raya, bebas kematian pula karena punya ajian Pancasona warisan dari Resi Subali. Tapi dalam prakteknya, kerajaan Alengkadiraja rusak, korupsi merajalela, Prabu Dasamuka suka kongkalikong dengan pengembang, untuk alih fungsi lahan dengan suap puluhan miliar.

“Opsinya hanya dua, Abiyasa. Bisa panjang umur, tapi harus mungkur kadonyan (lepaskan duniawi) alias resign dari jabatan raja. Atau tetap jadi raja, tapi usia kamu paling 80 taunan. Pilih mana?” tantang Sanghyang Wenang.

“Kalau begitu saya minta usia 500 tahun, nggak jadi raja nggak papa.” Jawab Prabu Kresnadwipayana cepat.

Sanghyang Wenang lalu kontak Sanghyang Yamadipati, pemegang jadwal kematian para wayang ngercapada, termasuk pelaksana pencabutan nyawa itu sendiri. Minta dibuka file-nya Abiyasa, raja Astina. Ternyata di situ usia Abiyasa dipatok 75 tahun. Sekarang sudah usia 40 tahun, berarti kontrak usianya tinggal 35 tahun lagi. Namanya ngontrak, kalau dijalani terasa cepat sekali.

“Tolong, kamu ubah jadi 200 tahun ya. Dia mau lebih lama menikmati tiga istrinya.” Perintah Sanghyang Wenang.

“Baik Pukulun, tapi mohon Abiyasa diperintahkan ke sini dulu.” Jawab Yamadipati.

Sesuai perintah Sanghyang Wenang, Prabu Kresnadwipayana segera ke kahyangan Argodumilah, menemui Sanghyang Yamadipati. Ternyata di sana diminta teken kontrak politik yang isinya pernyataan bahwa perpanjangan usia ini sifatnya sangat rahasia. Si pemohon berjanji untuk merahasiakan kepada siapapun termasuk istri sendiri. Paling penting, di bawah ada klausul yang menyebutkan: siap membayar uang administrasi Rp 50 juta.

“Tapi uang tunai saja ya, jangan lewat trasnver, nanti ketahuan PPATK,” Yamadipati berbisik pada Abiyasa.

“Tambahi dong, masak Rp 50 juta hanya 200 tahun.” Protes Abiyasa.

“Kayak beli kacang saja ente. Nambah usia ya nambah uang administrasi, dong.” Yamadipati ngeyel tanpa malu-malu.

Akhirnya usia lama Abiyasa diperpanjang jadi 210 tahun, karena hanya mau nambah lagi Rp 5 juta. Data lama 75 tahun didelet, diganti dengan yang baru. Legalah kini Abiyasa karena nantinya teman-teman seangkatan sudah dut (meninggal), dia masih bisa malang melintang di muka bumi. Tadinya Yamadipati juga menawarkan pertambahan usia bagi istri-istrinya, tapi Abiyasa menolak. Buat apa mereka diperpanjang juga, toh punya istri tua thuyuk-thuyuk apa enaknya, wong sudah tak menggairahkan lagi.

Dengan bertambahnya usia, bagi Abiyasa punya andil memperlambat Tanah Kusir tak segera penuh. Padahal Abiyasa sebagai raja kalau mati kaplingnya pastilah bukan Tanah Kusir, paling tidak di Sandiaga Hill di Karawang sana. Padahal meski dimakamkan di TPU mewah, belum tentu di sononya mewah pula kehidupannya.

“Hei patih Bintang Samodra, tolong persiapkan prosesinya ya, minggu depan saya mau mundur sebagai raja Astina,” kata  Prabu Kresna Dwipayana tiba-tiba setibanya di istana Gajahoya.

“Memangnya ada kasus, Boss? Kok mendadak mau mundur, kayak anggota KPK saja.” Jawab Patih Bintang Samodra, yang katanya masih punya hubungan famili sama Sri Bintang Pamungkas, oposan lama yang tetap eksis sampai sekarang.

Prabu Kresna Dwipayana tak menjawab, karena latar belakangnya sudah merupakan konsesus dengan dewa. Tahu-tahu minggu depannya raja Astina sudah berpindah ke putranya yang bernama Pandu. Mestinya yang lebih berhak Destarata, sayangnya dia bermata buta, sehingga berhalangan tetap.

Abiyasa setelah lengser terus hidup menjadi pertapa, di tanah perkaplingan di Gunung Saptoharga. Dia mengangkat cantriknya yang bernama Saptohudaya, sebagai jubir pertapan. Tapi gara-gara kalau ngomong di depan pers tersendat-sendat, namanya populer jadi cantrik Sapta Nyebelin. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

Advertisement