NEGERI Ngamarta kini sedang ditimpa musibah. Tiba-tiba dolar menyentuh angka Rp 14.000,- Negeri yang hendak tinggal landas itu mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, gara-gara semua harga mahal. Ribuan warga tiap hari berseliweran jadi tukang ojek dan taksi online. Kaum oposisi juga tebar spanduk dan poster dengan motto: #2018 ganti raja! Tukang sablon dan print digital untung gede.
Prabu Yudistira kemudian menggelar sidang kerajaan bersama keempat adiknya, Bima, Harjuna, Nakula dan Sadewa. Hasilnya mereka memutuskan untuk menugaskan Gatutkaca dan Abimanyu ke pertapaan Begawan Abiyasa di Candi Saptaharga, mohon petunjuk bagaimana caranya menangkal musibah berkepanjangan itu. Sekaligus menangkal kaum oposisi yang waton sulaya.
“Biaya perjalanan dinas sudah disiapkan belum, kanjeng rama?” Gatutkaca memberanikan diri bertanya.
“Kamu kan bisa terbang, kenapa minta anggaran? Itung-itung berhemat demi negara.” Jawab Werkudara sinis.
Karena pejabat top di Jodipati itu terus ngeloyor pergi begitu saja, Gatutkaca dan Abimanyu berangkat sambil menggerutu. Dengan merogoh kocek sendiri mereka menuju Candi Saptaharga tempat tinggal paranormal Bagawan Abiyasa. Kali ini terpaksa jalan darat saja, sebab baju Antrakesuma yang bisa membuatnya terbang sedang dijadikan jaminan ke Pegadaian.
Sungguh luar biasa. Pertapaan Candi Saptaharga yang biasanya kumuh dan kumal, kini nampak asri seperti mau ada kunjungan pejabat saja. Rupanya baru saja ada pesta ulang tahun. Begawan Abiyasa merayakan ultahnya yang ke-92. Dia memang seangkatan dengan PM Malaysia Mahathir Mohammad.
“Percayalah anak cucuku, negeri Ngamarta baru akan kembali adil makmur dan bebas utang luar negeri, asalkan ditumbali (dikorbankan) siraman darah Ki Lurah Semar,” jawab Bagawan Abiyasa to the point, padahal Gatutkaca dan Abimanyu ngomong juga belum.
“Itu pelanggaran HAM berat. Diganti darah sapi dan kerbau dari RPH Cakung masak nggak bisa Mbah?” Abimanyu mencoba menawar.
Tapi Abiyasa menggeleng. Maka sesuai petunjuk Eyang Bagawan, Gatutkaca dan Abimanyu segera menyampaikan pesan Begawan Abiyasa. Persyaratan itu sungguh bikin keluarga Pandawa bergidik bulu romanya. Dosa apa yang diperbuat Ki Lurah Semar, sehingga dia harus dibunuh sebagai tumbal?
Apa kesalahan dia? Sebagai Lurah Karangkebolotan, diketahui persis Semar ini bersih. Makan Dana Desa tidak pernah, target PBB dan KB selalu tercapai. Apa lagi nambah bini tak pernah melakukannya. Seumur- umur istrinya ya cuma Ny. Kanastren yang punya sambilan dagang pulsa!
“Motong Dana Desa saja tidak pernah, kok harus leher Semar dipotong. Gua nggak nyanggup dah….!” reaksi Prabu Yudistira spontan.
“Tapi demi kepentingan nasional, hal itu harus dilakukan, Kangmas. Apalagi cuma soal Semar, demi bisnis bangunan bersejarah saja bisa dikorbankan kok….!” jawab Werkudara tegas.
Suasana sidang di Ngamarta menjadi panas, karena AC-nya memang belum diservis. Pejabat pejabat top di Pendawa itu berselisih faham tentang perlu tidaknya Ki Lurah Semar dibunuh. Karena tak ada jugu penyelesaian, akhirnya diadakan voting. Dan apa hasilnya? Yudistira kalah suara melawan pendapat keempat adiknya. Karenanya, dengan tegas Werkudara menugaskan kembali Abimanyu untuk membunuh Ki Lurah Semar secepatnya. Semboyan Bima kali ini met zonder Semar, Ngamarta jalan terus!
Sementara Abimanyu berangkat ke Karangkebolotan, di rumahnya Ki Lurah Semar sudah mengetahui secara persis tentang rencana jahat Keluarga Pendawa atas dirinya. Maklum, wayang paranormal juga sih dia. Belum juga selesai memikirkan kelakuan para pejabat Ngamarta, Lurah Semar ketamuan Abimanyu sambil menangis tersedu-sedu. Bagi kesatria Tanjunganom ini memang sangat berat rasanya bila harus membunuh pemomongnya selama ini.
“Daripada harus membunuh Pakde Semar, mendingan gue bunuh diri aja dah,” kata Abimanyu terbata-bata.
“Jangan-jangan, anak muda tak boleh cengeng. Semua masalah musti ada jalan keluarnya.” Ki Lurah Semar menghibur.
Lurah Semar sangat memaklumi kemelut yang ada di kalbu momongannya. Maka demi keselamatan dua-duanya, yakni nyawa Semar dan karir Abimanyu, lurah Karangkebolotan itu kemudian memberikan jalan alternatif nan canggih. Yakni, dengan sukarela Semar mau dibuang di tengah hutan dan kemudian dilaporkan ke Ngamarta sebagai telah dibunuh oleh Abimanyu. Politik ini dijamin manjur sebab Semar tahu persis pejabat-pejabat Ngamarta masih suka laporan ABS lantaran malas turun ke lapangan.
“Tapi awas, jangan ketahuan wartawan tabloid “Obor Rakyat” ya, nanti digoreng-goreng….!” pesan Semar wanti-wanti.
“Kan mereka sudah masuk penjara.”
Berita meninggalnya Kyai Lurah Semar membuat gempar dunia perwayangan. Tidak sekedar di lingkungan rakyat Ngamarta tetapi juga di kalangan cantrik-cantrik Begawan Abiyasa di Saptaharga. Bahkan di sini terasa paling parah. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba oknum kaum raksasa berdatangan dan menjarah penduduk. Mereka merusak dan menggusur apa saja, tanpa memberikan ganti rugi.
Keluarga Pendawa mendengar berita tersebut sudah barang tentu tak bisa tinggal diam. Werkudara dan Gatutkaca turun ke lapangan, mencoba menindas para tokoh reretu (huru- hara) di Saptaharga itu.
Ternyata lawan Werkudara memang bukan sembarang raksasa. Mereka jin siluman yang juga doyan uang siluman. Sangat kenal upeti tak kenal mati. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, Werkudara keteter. Bahkan di bekas galian pasir dia terperosok masuk lumpur tanpa bisa bangun untuk membebaskan diri.
Saat Werkudara tersiksa merintih-rintih minta tolong itu Lurah Semar muncul. Bima yang pernah mendengar tokoh tua bermata: rembes (penyakit mata) itu telah tewas, bergidik bulu romanya karena mengira bertemu arwah penasaran. Tapi begitu melihat kaki Semar menyentuh bumi, yakinlah kini Semar yang sebenarnya. Tanpa malu-malu dia minta tolong kepada tokoh yang dulu disponsori akan kematiannya itu.
“Itu soal gampang. Tapi imbalannya, kau harus berani balas membunuh Begawan Abiyasa dan menyegel pertapaannya,” kata Semar mengajukan syarat.
“Oke. Ternyata dia wayang pekok, rupanya.” Gumam Werkudara seusai dibisiki Semar.
Begitu terbebas dari jebakan lumpur berkat kesaktian Ki Lurah Semor, Werkudara segera melabrak ke Saptaharga. Begawan Abiyasa yang kala itu sedang diskusi politik langsung diseret keluar dan dihajar. Gusrak-gusrak-gusrak! Selop entah mental ke mana, sorban entah terbang ke mana.
Ternyata Abiyasa memang bukan wayang kemarin sore. Meskipun sudah loyo dan krembat-krembut pakai jubah, dia masih rosa-rosa macam Mbah Marijan. Dengan tiupan mantra-mantra canggih, Abiyasa dengan mudah melumpuhkan Werkudara. Namun kebanggaan begawan tak lama. Sebab Semar yang tadi masih berada di hutan, tiba-tiba saja muncul membantu. Abiyasa langsung ditimpe dari belakang. Wush! Keruan saja tokoh terhormat di Saptaharga itu terjajar di got depan pertapaan.
Saat Begawan Abiyasa merayap bangun, kembali diseret Ki Lurah. Pantatnya yang besar bulat itu tiba-tiba diasongkan ke wajah sang bagawan dan kentut… duuuut! Padahal Lurah pinggiran ini sangat doyan semur jengkol dan lalap pete. Maka mencium bau aroma jengkol yang khas dan mulek (muter di situ saja), serta merta Begawan Abiyasa teler dan kemudian kebadaran (menjelma) sebagai Betari Durga dari Setra Gandamayit.
“Hai Betari Durga, sudah tua begini masih juga suka mengganggu stabilitas perwayangan, kau! Tunjukkan di mana Begawan Abiyasa kau sembunyikan, atau kukempit saja kau jadi tape?” ancam Semar sambil mencekal kutang Betari Durga, sementara jari-jarinya sibuk entah ke mana!
“Itu tuh di kamar depan; sedang menjalani skrening begawan….!” jawab Betari Durga gelagepan.
Semar mengendorkan pegangananya dan kemudian diantar Betari Durga ke kamar yang dimaksud. Di sana tampak Begawan Abiyasa asli sedang duduk takzim diperiksa oleh seorang dewa, Betara Tremboko. Sambil corat-coret di buku, dewa kahyangan itu sedang mengadakan “penelitian khusus” terhadap penguasa Saptaharga. (Ki Guna Watoncarita)



