JAKARTA – Kesuksesan pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah Indonesia.
Pemerintah menjanjikan peraih emas Olimpiade mendapat bonus Rp 5 miliar. Bukan itu saja, pemerintah juga akan memberikan tunjangan sebesar Rp 20 juta per bulan seumur hidup. Hal ini merupakan kemewahan yang baru pertama terjadi.
Biasanya tak ada tunjangan seumur hidup seperti ini. Setelah mendapat kemenangan, atlet akan dibanjiri bonus. Tapi setelah karir olahraga selesai, tak ada perhatian yang diberikan pemerintah. Karena itu banyak atlet nasional yang kerap meminta dijadikan pegawai negeri sipil (PNS) agar mendapat kepastian penghasilan setiap bulan usai tak berkarir di olahraga.
Tak bisa dimungkiri banyak ditemukan atlet berprestasi hidup suram di masa tua. Petinju Ellyas Pical misalnya, di tahun 1980an dia membuat nama Indonesia harum di dunia. Lama tak terdengar kabar, Elly ditemukan menjadi office boy di kantor Kemenpora.
Ada lagi nama Lenni Haeni. Atlet dayung ini total mempersembahkan 20 medali untuk Indonesia. Bahkan pada Sea Games 1997 Lenni sukses mendulang tiga medali emas dan satu medali perak. Namun itu dulu selepas ‘menggantung’ dayung, kehidupan Lenni seolah memprihatinkan.
Untuk menyambung hidup, dirinya bekerja sebagai buruh cuci dan bekerja serabutan. Bahkan pada 2012, Lenni tidak mampu untuk membiayai pengobatan anaknya yang menderita hepidemolosis gulosa (kulit sensitif) di RS Cipto Mangunkusumo.
“Kalau bonus tidak bisa mengelola pasti cepat habis. Memang banyak atlet tak pintar berbisnis. Bingung uang bonus dipakai buat apa. Rata-rata habis bukan untuk usaha,” kata seorang atlet nasional yang enggan disebutkan namanya seperti dilansir merdeka.com sabtu (20/08/16).
Belum lagi kisah Suharto mantan atlet balap sepeda yang sejak tahun 1981 memilih berprofesi sebagai tukang becak di kota Surabaya. Masih banyak kasus serupa. Jika ada tunjangan setiap bulan sejak dahulu, cerita sedih seperti ini mungkin tak terjadi.





