Agar Terhormat Sepanjang Zaman

Relawan Minang Perantauan Muhammad Furqan

“Sebuah kapal akan aman jika tertambat di tepian dermaga, tetapi bukan itu tujuan kapal diciptakan.”

Prinsip hidup ini melekat erat di dalam diri Muhammad Furqan Akbar, mahasiswa sekaligus relawan kelahiran Sungai Dareh, Dharmasraya, Sumatera Barat.

Furqan merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Bapak Nuryanuwar dan ibu Evawani. Selama duduk dibangku SMA furqan telah aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di majalah sekolah, surat kabar, hingga dibukukan di sebuah novel kumpulan cerpen. Furqan memutuskan merantau ke Pulau Jawa tepatnya di Kota Bandung melanjutkan pendidikan di Universitas Telkom mengambil Prodi Jurusan S1 Teknik Telekomunikasi.

Dibangku kuliah Furqan mengikuti beberapa organisasi diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa IT Telkom, Himpunan Mahasiswa Teknik Telekomunikasi, Mahasiswa Pecinta Alam dan Unit Seni Budaya Minang. Selain memiliki hobi menulis, furqan juga memiliki hobi naik gunung, bersama mahasiswa pecinta alam Furqan pernah berdiri di 3 Puncak Gunung berapi di Indonesia yaitu Puncak Gunung Kerinci, Gunung Rinjani dan Gunung Semeru.

Kecintaannya terhadap alam membuat hatinya tersentuh untuk menjadi relawan diberbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia. Antaranya banjir di Dayeuhkolot, longsor di Banjarnegara, serta kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan tersebarnya kabut asap ke kampung halamannya sendiri di Sumatera Barat.

Furqan sebagai Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Unit Seni Budaya Minang bersama Pengabdian Masyarakat BEM Universitas Telkom membentuk kepanitiaan relawan untuk melakukan aksi penggalangan dana di Kota Bandung untuk korban kabut asap di Sumatera Barat. Dengan kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukan furqan dan rekan-rekan Unit Seni Budaya Minang dan BEM Universitas Telkom berharap bisa mengurangi penderitaan yang dirasakan masyarakat di pulau Sumatera dan Kalimantan terkhususnya di Sumatera Barat .

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang zaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang tersebut tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.

Ini merupakan kutipan Pramoedya Ananta Toer yang saya jadikan pegangan hidup karena beliau menginspirasi dan mengajarkan kita untuk senantiasa  menjadi seseorang yang dapat membantu serta memberikan jalan keluar bagi kesulitan saudara-saudara kita. Dengan ini semoga Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitan kita di hari kiamat kelak,” tutur Furqan. – nisa

Advertisement