
TIBA-TIBA saja potongan bata merah banyak dicari. Bukan ditumbuk untuk pengganti semen, tapi untuk obat gabagen yakni gatal-gatal seluruh tubuh. Meski bukan penyakit mematikan, tapi sangat menjengkelkan karena orang tak basa lagi fokus akan pekerjaanya. Sepanjang hari hanya krik-krikan tidak keruan. Paling memalukan jika rasa gatal itu sampai ke yang dalem-dalem. Tak digaruk terasa gatal, tapi digaruk di depan umum juga bikin malu.
Negeri Ngastina dewasa ini kondisinya seperti itu. Dari rakyat hingga pejabat mengalami penderitaan yang sama, terkena penyakit gabagen secara masal. Karenanya Prabu Suyudana yang lebih dikenal sebagai Jakapitono atau popular disebut Jokopit, segera menggelar sidang selapanan. Yang hadir bukan saja Patih Sengkuni, tapi juga Pendita Durna dari Sokalima. Prabu Baladewa dan Adipati Karno kali ini absen, karena dilaporkan keduanya juga terkena gatal-gatal seluruh tubuh.
“Wakne Gondel, mendekat sini dong, masak peserta sidang menjauhi Prabu Jokopit,” ujar Patih Sengkuni sebelum sidang dimulai.
“Sudah sini saja, nggak papa. Dari sini juga dengar kok.” Jawabnya pendek.
Rupanya dia terkena gabagen juga, sampai-sampai pakai jubah rangkap dua. Maksudnya tak lain, agar obat Salep 88 yang dipakaianya tak tercium ke mana-mana. Nggak etis kan, sowan raja yang dipertuan agung kok bau salep. Padahal aslinya bau itu tercium juga oleh Prabu Jokopit, hanya beliaunya tak mau permalukan Pendita Durna di depan publik.
Demikianlah, siang itu sidang kerajaan Ngastina tengah membicarakan persiapan menghadapi wabah gabagen yang melanda secara nasional. Bukan saja mempersiapkan anggaran pengobatan, tapi juga cara mengantisipasi agar penyakit itu tak berjangkit kembali. Obat bata merah yang ditumbuk, sebetulnya hanya obat darurat, yang sangat tidak hiegenis. Karenanya tak direkomendasikan oleh pemerintahan Prabu Jokopit.
“Sebagai pimpro, saya menunjuk bapa Pandita Durna, karena Bapa Durna adalah tokoh senior di Ngastina. Saya minta pula, bapa Durna bisa maneges (mohon petunjuk) pada dewa kahyangan, apa obat pandemi gabagen ini.” Kata Prabu Jokopit.
“Aduh, mohon maaf anak prabu. Jangan sayalah, nggak enak pada Resi Bisma. Dia kan lebih senior.” Ujar Pandita Durna mencoba menawar.
“Dia memang senior jika ukurannya umur. Tapi pengalaman, Wakne Gondel jauh lebih mumpuni,” potong Patih Sengkuni.
Kenapa Pendita Durna menolak sebagai Pimpro pemberantasan wabah gabagen di Ngastina? Di samping tidak enak pada resi dari Talkanda tersebut, sebetulnya anggaran untuk meneges (berdoa pada dewa) itu kecil sekali. Berapa sih biaya untuk beli kembang dan kemenyan? Nggak sampai Rp 50.000,- Maka sebagai proyek sama sekali tak bisa dimainkan, dan Pendita Durna jadi tak semangat karenanya.
Tapi karena Prabu Duryudana memohon dengan sangat, bahkan SK-nya sudah dibuat, akhirnya pendita Sokalima itu tak bisa menolak. Itu artinya, mulai hari itu dia harus banyak bekerja yang sifatnya perjuangan, bahkan kalau perlu harus rogoh kantong sendiri alias nombok. Coba bagaimana rasanya, yang lain nantinya memperjualkan obat penangkal gabagen, dia sendiri kantongnya tongpes.
“Oke, jabatan ini saya terima karena kepepet. Tapi demi cintaku pada rakyat Ngastina, akan saya kerjakan,” jawab Pendita Durna.
“Nah, gitu dong! Ini baru pendita yang cinta tanah air.” Sanjung Patih Sengkuni.
Tidak salah memang Prabu Jokopit menunjuk Begawan Durna sebagai pimpro penanggulangan gabagen. Sebab dia banyak koneksi di kahyangan. Bahkan salah satu bidadari Jonggring Salaka bernama Dewi Wilutama, juga pernah dipersuntingnya, terlepas dari caranya yang tidak etis bahkan hina. Bagaimana mungkin Dewi Wilutama yang dalam bentuk seekor kuda karena sedang dikutuk dewa, dikencani juga. Jika Asmuni Srimulat masih hidup pastilah akan dibilang, “Durna ini wayang cap apa?”
Sebagai penasihat spiritual atau ahli nujum raja Ngastina, maneges adalah bagian dari tugasnya. Karenanya dia sebagai Pimpro pemberantasan wabah gabagen sama sekali tak ada hak keuangan yang baru alias gaji. Dan sejak SK pengangkatan diterima, malam harinya Begawan Durna mulai masuk sanggar pamujan (tempat semedi). Kembang dan kemenyan termasuk air sumur dari 7 tempat, dibeli dengan dana sendiri. Biaya property itu setidaknya menghabiskan dana Rp 50.000,-
“Bagaimana Bapa Durna, sudah ada info menarik dari kahyangan?” begitu Prabu Jokopit telpon ke Pendita Durna, seminggu setelah nujum Ngastina itu menjalani ritualnya.
“Belum ada kabar baik, masih sepi-sepi saja anak Prabu. Mungkin dewa takut juga ke ngercapada, khawatir kena gabagen, krik-krikan sepanjang hari,” jawab Pendita Durna.
Begitulah, tepat 30 hari setelah Pendita Durna semedi setiap malam, pada malam Jumat Kliwon barulah ada dewa turun ke Sokalima, namanya Betara Surya lengkap dengan APD (alat pelindung diri). Kata beliaunya, pandemi gabagen akan sirna asalkan ditumbali wayang perempuan yang berpotongan rambut pendek seperti lelaki. Wayang perempuan yang suka nyinyir itu nantinya diblender, kemudian ekstraknya dijadikan serum dan vaksin. Yang sudah terkena mendapat suntikan 1 dosis sebagai serum, dan yang belum terkena cukup setengah dosis sebagai vaksin.
“Nama serum atau vaksin itu ulun namakan Aji Kopid Selawe (25). Ini harus disuntikkan pada segenap penduduk Ngastina, baik yang sudah terjangkit (serum) maupun yang belum terkena (vaksin). Insya Allah dalam waktu setaun pandemi akan beres.” Kata Betara Surya bisik-bisik.
“Lalu siapa kira-kira wayang yang bakal dibuat tumbal tersebut, pukulun?” Pendita Durna bertanya penasaraan,
“Ini harus dirahasiakan dulu. Sebab jika disebut sekarang, ulun bisa dituduh menyebarkan kegaduhan di tengah masyarakat, nanti dipolisikan orang. Sudah ya, ini dulu…..” jawab Betara Surya dan kemudian menghilang.
Begawan Durna terpana dan terkesima. Tak sia-sia dia sisihkan anggaran sampai Rp 1,5 juta untuk beli kembang menyan. Tapi masalahnya siapa ya wayang perempuan yang layak blender tersebut? Bukankah perempuan suka nyinyir sudah hal biasa? Dan wanita berambut cepak macam lelaki kini kan juga biasa? Akhirnya Durna punya niat, hal itu akan ditanyakannya pada ……rumput yang bergoyang, ho ho ho …….. (Ki Guna Watoncarita)


