PRABU Puntadewa raja Ngamarta sedang pusing tujuh keliling. Soalnya sedang menjadi korban fitnah keji tiada tara. Nama keluarga besar Pendawa dicatut oleh kelompok penipu “Pendawa Grup”, untuk cari uang tidak halal. Mereka jadi investor ke KSP (Koperasi Simpan Pinjam) “Pendawa” dengan nilai total Rp 250 miliar, tapi dananya dibawa kabur. Gara-gara gunakan nama Pendawa, Prabu Puntadewa ikut dikejar-kejar para investor, dimintai tanggungjawab.
Maka Prabu Puntadewa benar-benar iri kepada Indonesia. Karena kedatangan raja Salman bin Abdulazis, investor dari Arab pada masuk. Giliran Ngamarta kedatangan Salman Nuryanto pemilik “Pendawa Grup”, para investor justru tertipu. Mereka bahkan menuntut keluaga besar Pandawa untuk mengembalikan modal yang dilarikan Salman Nuryanto van Depok tersebut.
“Ini gara-gara mental preman belum bisa dikalahkan revolusi mental.” Keluh Prabu Puntadewa.
“Lha wong mentrinya abal-abal, bagaimana bisa kerja, kerja, kerja.” Kritik Werkudara.
Di mana saja preman selalu menjadi musuh masyarakat, termasuk kalangan wayang semesta. Karena sepak terjangnya selalu merugikan banyak kalangan. Dia butuh uang, tapi tidak mau capek, kecuali kompas sana, kompas sini sampai kemudian masuk harian Kompas. Bahkan di Indonesia, presidennya pun sampai berulang kali menyerukan, kita jangan kalah melawan preman.”
“Kita harus tegas melawan preman dan premanisme,” saran Prabu Betara Kresna dalam sidang kerajaan Ngamarta secara terbatas.
“Tapi kalau kita berantas dari mulai yang kecil-kecil, diusili Fadli Zon dan Fahri Hamzah,” tambah Prabu Puntadewa.
Karena kebanyakan rakyat Pendawa hanya pintar mengkritik dan demo berjilid-jilid, akhirnya Prabu Puntadewa membentuk Komisi Pemberantasa Preman (KPP). Yang ditunjuk jadi personalnya adalah: Gatutkaca (ketua) – Antasena – Antareja – Setyaki. Sayangnya, baru saja KPP berdiri DPR-nya sudah berusaha mengkerdilkan. Sepertinya mereka takut akan menyasar anggota sendiri. Katanya, usianya cukup 12 tahun, harus ada lembaga SP3 dan penyadapan izin pihak pengadilan
Begitulah. Dalam rangka memberantas preman seakar-akarnya, Gatutkaca Cs menggelar latihan perang melawan preman. Tempatnya di alun-alun Tegal Kurusetra, yang berlokasi berbatasan dengan negeri Ngastina. Demikian seriusnya latihan perang tersebut, Gatutkaca manakala memantau latihan selalu naik helikopter Bell 412. Lho, Gatutkaca kan bisa terbang sendiri, kenapa musti naik heli?
“Itu kan pemborosan anggaran,” kritik Sadewa suatu ketika.
“Justru anggaran harus dihabiskan menjelang tutup tahun.” Tambah Nakula.
Ternyata, terlalu seringnya Gatutkaca patroli udara dengan helikopter, bikin gerah Prabu Duryudana penguasa Ngastina. Masalahnya, suara berisik heli tersebut menjadikan Prabu Duryudana tak bisa istirahat. Maklum, lokasi Istana Gajahoya hanya sepenggalah dengan alun-alun Tegal Kurusetra. Sering kali terjadi, baru Duryudana mau ngliyep (memejamkan mata), tiba-tiba werrrr-ewerrrrr….. helikopter Gatutkaca melintas.
“Jangkrikkk! Tegur itu Gatutkaca. Kapan saya bisa menyusun pidato kenegaraan? Minggu depan kan HUT Negeri Ngastina,” ujar Prabu Duryudana kesal sekali.
“Bagaimana mau negur, anak prabu. Tegal Kurusetra kan wilayah bebas. Kalau mau aman, tutup saja telinga pakai kapas.” Saran Pendita Durna sekenanya.
Meski namanya pakai dur yang berarti jelek, tapi Durna memang selalu mencoba mengikuti prosedur. Beda dengan Patih Sengkuni, sebagai politisi dan pejabat demen cari muka, dia mencoba menyenangkan hati bos meski caranya menyimpang. Maka diapun segera memperalat Dursala, tokoh preman dari Banjarjungut, yang masih putra kandung Dursasono. Bekas mahasiswa yang di-DO berbagai universitas itu diminta mengacaukan sekaligus membubarkan latihan perang melawan preman.
“Kalau berhasil, kamu nanti bisa dijadikan Ketua Komisi Penanggulangan Bencana Alam di Ngastina. Pengin nggak kamu?” iming-iming Patih Sengkuni.
“Ya penginlah. Di situ banyak pos basah, kan?” Dursala masih juga menyelidik.
“Kalau milih pos basah, kerja saja di PDAM sana.”
Sesuai denga petunjuk Bapak Sengkuni, preman Dursala segera mencari posisi aman untuk menyabot helikopter yang ditumpangi Gatutkaca. Dengan menyertakan ajian Aji Gineng miliknya, helikopter ksatria Pringgodani itu segera ditulup-nya, wush…..! Seketika itu juga helikopter oleng menimpa rumah penduduk, sedangkan Gatutkaca bisa menyelamatkan diri dengan terbang solo tanpa liwat Yogya dan Klaten.
Tak urung Gatutkaca kena klaim ganti rugi atas rusaknya rumah penduduk. Pendawa siap membayarnya. Tapi dia juga mencari tahu siapa yang jadi dalang sabotase itu. Maka baru tiga hari setelah pembayaran ganti rugi, sengaja Gatutkaca patroli udara kembali untuk memancing si “teroris”. Nah, di kala dia tengok bawah kiri dan kanan, terlihatlah Dursala sedang memegang sumpit di bawah pohon jamblang. Segera saja Gatutkaca loncat dari helikopter.
“Jangan lari kamu, hai preman durjana!” gertak Gatutkaca.
“Saya Dursala, bukan durjana…..,” jawab Dursala sambil terus berlari.
Dursala hendak berlari masuk gang, tapi Gatutkaca berhasil mencegahnya, sehingga buronan itu berhasil digiringnya masuk lapangan Tegal Kurusetra. Biasalah, teroris muda itu segera dipermak, biar ngaku siapa dalang di belakangnya. Ini murni politik atau ada unsur SARA-nya.
Tapi sungguh aneh bin ajaib, meski digebuki pasukan Ngamarta tak juga mati. Bahkan Gatutkaca Cs yang kerepotan. Hanya dipelototi dengan mata Dursala yang lebar dan besar itu, lawan sudah merasa kegerahan. Bahkan punakawan Petruk yang mencoba bertahan, kabur juga pada akhirnya. Kulit sih memang tak sampai mblonyoh, tapi rambut di bawah puser langsung licin tandas dengan meninggalkan bau yang khas.
“Petruk, maju lagi.” perintah Setyaki.
“Mboten mawon. Bini gue bisa pangling nih…..!” ujarnya sambil kabur.
Menurut data Youtube yang didukung e-KTP miliknya, Dursolo itu memang putra Dursasono dari Banjarjungut. Dia terkenal di dunia preman, khususnya Tanah Abang. Sering jadi penggerak demo bayaran, agen tembakau gorila, pokoknya apa saja yang bisa mendatangkan fulus.
Gatutkaca mencoba menghentikan perlawanan Dursala. Tetapi justru statusnya yang otot kawat balung wesi, menjadikan dia dengan cepat kalah melawan sorot mata Dursala yang berdaya panas 5.000 wat. Sebelum leneng (mencair) menjadi besi cor, Gatutkaca segera kabur, menemui guru supranaturalnya, Resi Seta, di pertapan Sukohini. Dia minta aji jaya kawijayan (kesaktian) agar bisa mengalahkan Dursala.
“Gatutkaca kok kalah lawan preman. Cemen…..!” hardik Resi Seta.
“Yang bisa mengalahkan cuma Petrus (penembak misterius), Eyang.” Jawab Gatutkaca malu-malu.
Resi Seta memang sangat sayang pada Gatutkaca. Segera saja dia diberi ajian Aji Narantaka, yang memiliki daya lebur lebih canggih dari Aji Gineng. Maka satu jam kemudian, Gatutkaca telah berhadapan kembali dengan Dursala. Yang satu pakai Aji Gineng, satunya lagi Narantaka. Sayang pesinetron Aji Pangestu dan janda Aji Masaid tak bisa nonton, karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Ternyata Aji Narantaka milik Gatutkaca lebih bagus daripada milik Dursala. Terbukti setelah saling pandang dan saling melotot dengan ajiannya, putra Dursasana meleleh hancur bagaikan blegedaba (cairan baja panas). Kubu Pendawa bersorak kegirangan, tapi pasukan Ngastina bertabur duka. Raden Dursasono mendadak stress, demi kehilangan putra kesayangan dan andalannya.
“Gatutkaca curang, awas gua adukan ke Komnas HAM….” ancam Dursasono sambil meratapi abu daripada putranya. (Ki Guna Watoncarito)



