BINGUNG juga Raden Rama. Ketika dirinya sedang repot tapi harus pula membantu kerepotan pihak lain. Bisa rugi bandar nih. Untung Rama segera ingat akan jati dirinya bahwa dia bukanlah pengusaha tapi seorang kesatria muda. Sebagai kesatria dia tak boleh egois, harus siap membantu sesamanya dalam kondisi apapun. Apalagi agama juga mengajarkan, umat harus bisa berbagi pada orang lain meski dalam kesulitan. Percayalah, Allah Swt itu Maha Kaya.
“Kita ternyata senasib sepenanggungan, sama-sama jomblo kisanak. Saya akan coba membantu semampuku.” Ujar Raden Rama pada akhirnya.
“Terima kasih Raden.” Jawab Sugriwa sambil mengguncang-guncang tangan Rama, saking semangatnya berjabatan tangan. Mereka jadi lupa akan protokol kesehatan.
Keduanya lalu saling memperkenalkan diri. Ternyata keduanya memang sama-sama terkenal dalam lingkungan masing-masing, karena keduanya juga disebut dan bisa dilacak datanya di Mbah Google. Sugriwa tokoh dari Pancawati dan Rama adalah putra almarhum raja Dasarata dari Ayodya. Hanya sekarang sedang istirahat sebagai raja, cuti di luar tanggungungan negara.
Sugriwa pun lalu menjelaskan secara detil akan problem yang dihadapi. Dia ingin kembali merebut Dewi Tara dari Subali yang sebetulnya kakak kandung sendiri. Meski Tara kini sudah turun mesin lantaran sudah melahirkan Kapi Anggada, Sugriwa siap menerima apa adanya. Penguasa negri Pancawati itu punya prinsip, buah manggis Kalianda enak rasanya, tak dapat gadis sudah janda pun sama saja!
“Kakang Sugriwa tega akan kakak kandung sendiri hanya karena masalah selangkangan?” Raden Rama mencoba menjajagi perasaan sohib barunya.
“Dia sendiri tega sama adik, jadi kalau saya tega sama kakak, apa salahnya?” jawab Sugriwa tegas.
Sugriwa pun lalu menunjukkan foto kakaknya. Ada yang berseragam kesatria, ada yang berkostum begawan; pakai jubah dan pelihara jenggot, agar nampak radikal. Padahal aslinya dia bukan tipe begawan seperti itu, karena Resi Subali bukan aktivis PA-212 dan juga tak pernah datang ke Monas, Jakarta.
Keduanya juga mengatur siasat, bagaimana bisa memancing Resi Subali keluar dari pertapan Guwa Kiskenda tersebut. Mantan pemilik ajian Pancasona itu nantinya akan ditantang berkelahi. Dan ketika keduanya mengadu kekuatan, Raden Rama “menyelesaikan” melalui panah sakti Guwa Wijaya. Asyik kan, Raden Rama ke Guwa Kiskenda sambil bawa panah Guwa Wijaya gara-gara urusan “guwa” seorang wanita Dewi Tara!
“Begitu kami berkelahi, Raden langsung sikat kakak saya, gitu.” Saran Sugriwa.
“Nanti saya dikira petrus (pemanah misterius) dong.” Kata Ramawijaya agak keberatan.
“Ya nggak papalah, ini kan bukan petrusnya Pak Domo dulu.”
“Saya kan kesatria, masak berperang main belakang. Kata Kho Ping Ho, ini kan namanya membokong.”
“Dalam kondisi pandemic Corona kan dilarang tatap muka. Perangpun harus virtual.” Jawab Sugriwa ngeyel.
Jika sudah mengatasnamakan Covid-19, apapun masalahnya bisa dimaklumi dan ditolerir. Karenanya Rama harus mengikuti taktik tak terpuji Sugriwa. Dia periksa isi ransel tempat panah Guwa Wijaya disimpan. Jangan heran, panah Guwa Wijaya memang bisa dilipat macam sepeda, sehingga masuk ransel pun mudah. Panah itu dulu warisan dari gurunya, Begawan Sutikno. Dan kini, lewat panah Guwa Wijaya dirinya akan kembali jadi pembunuh? Sebelumnya, Rama Wijaya memang pernah membunuh Rama Bargawa yang ke mana-mana hanya pakai kancut kayak mau olahraga renang.
Merasa telah memperoleh “backing”, Sugriwa dengan pedenya menemui Resi Subali di Guwa Kiskenda. Tuan rumah baru saja selesai memberi wejangan ke para cantrik, sehingga masih mengenakan kostum begawan radikal. Padahal meski sudah tak memiliki ajian Pancasona, tapi di sanubarinya tetap berjiwa Pancasila.
“Tumben, siang-siang begini ke Guwa Kiskenda, ada apa Dimas Sugriwa?” tegur Resi Subali ramah sambil udud klembak menyan.
“Masalah kita kan belum selesai, harus kita bicarakan bersama kangmas Subali.”
“Soal Dewi Tara, maksudmu? Apa ente tega pada ponakanmu Anggada, bakal tercerabut akan kasih sayangnya seorang ibu?”
“Apa kangmas Subali juga mikir, “keponakan” saya juga lama terlantar gara-gara Dewi Tara sampeyan rebut,” jawab Sugriwa seenak jidatnya.
Resi Subali sadar, rupanya Sugriwa sudah punya modal lagi. Rebutan perempuan kok jadi seperti Pilkada saja, asal ada modal maju lagi. Tapi Subali juga tak tahu siapa sponsor Sugriwa terakhir ini. Mungkin juga pabrik rokok, sebab biasanya setiap ada event olahraga penting sponsornya pasti pabrik rokok.
Resi Subali ganti kostum. Jubah radikalnya dilepas dan berganti pakaian kesatrian seperti biasanya. Keduanya lalu berantem seru sekali, saling gebuk saling cakar, namanya juga golongan wanara (kera). Sepuluh menit berperang di mulut Guwa Kiskenda, Sugriwa mulai terdesak, tapi melirik ke belakang kok tak ada tampak Raden Rama. Karenanya Sugriwa cabut dari palagan (arena perang) mencari Raden Rama.
“Gimana sih raden? Gua hampir mati dicekik kangmas Subali, tapi panahmu mana, kok tak beraksi jug?” protes Sugriwa kesal. Maklum berantem sambil pakai masker napas bisa semakin ngos-ngosan karena terbatasnya oksigin.
“Maaf kakang Sugriwa, maaf. Saya bingung, karena bodi kalian sama presis. Sulit membedakan mana Subali mana Sugriwa.” Jawab Raden Rama sejujurnya.
Sugriwa paham sekarang. Maka untuk pembeda, dia segera ganti pakai kaos bekas seminar sehari. Dengan pakaian Sugriwa yang berbeda itu Raden Rama memang tak jadi keder lagi. Maka baru berantem barang 2 menit panas Guwa Wijaya lepas dan langsung mengarah ke dada Resi Subali sampai berbunyi mak jleb. Resi Subali pun tumbang, darah mengucur deras seperti kran air dibuka.
Raden Rama dan Lesmana segera mendekat, menyaksikan Resi Subali kejet-kejet menunggu kehadiran dewa elmaut Yamadipati. Namun demikian Subali masih sadar akan kehadira orang asing itu. Pastilah dia yang jadi sponsor tunggalnya.
“Siapa kamu? Berani amat campuri urusan orang lain. Gua salah apa ama elu?” protes Resi Subali.
“Kamu nggak salah sama saya, tapi kamu bersalah sama dewa. Sebab secara lancang kamu telah memberikan ajian Pancasona kepada Prabu Dasamuka, raja durmalaning bumi (pembawa petaka di dunia). Tahu nggak kamu, Dasamuka kini telah nyeponsori demi rusuh tolak UU Cipta Kerja.” Raden Rama memberikan penjelasan panjang lebar.
Setelah dapat “kultum” (kuliah tujuh menit) ala Raden Rama, Resi Subali kini sadar akan kesalahannya. Akhirnya dia minta maaf, dan kepada Sugriwa dia titip Kapi Anggada agar dirawat baik-baik sebagai anak kandung. Lalu lessssss…..sukma Resi Subali ke alam barzah. Jazadnya kemudian dimakamkan secara protokol kesehatan. Dalam kondisi begini, apa pun sakitnya memang direken korban Covid-19. Maka tak mengherankan jumlah korban tewas Corona sudah mencapai 11.000 lebih.
“Terima kasih Raden, berkat jasa Anda saya bisa mengambil kembali Dewi Tara.” Kata Sugriwa sambil menjabat tangan Rama dan Lesmana.
“Sama-sama, tapi dosa pembunuhan itu bukan tanggungjawab saya lho ya, saya kan cuma pelaksana.” Jawab Radem Rama persis Satpol PP habis bongkar kios PKL di jalur hijau.
Demikianlah, Sugriwa telah berhasil mengambil alih Dewi Tara meski hanya sekedar jadi “generasi penerus”. Adapun ajian Pancasona tetap dikuasai oleh Prabu Dasamuka. Ajian itu baru kembali ke kahyangan nantinya setelah Dasamuka tewas oleh panah Guwa Wijaya yang dilepas Raden Rama dalam perang Brubuh Ngalengka. Itu pun masih mampir ke Trajutrisna dalam lakon “Gojali Suta”. Prabu Boma Nrakasura penguasa ajian Pancasona terakhir, tewas di tangan Prabu Kresna raja Dwarawati. (Ki Guna Watoncarita-tamat)



