AJI PANCASONA

Resi Subali transver ajian Pancasona kepada Prabu Dasamuka,tanpa ketahuan pihak PPATK.

GARA-gara berebut Cupu Manik Astagina, ketiga bocah Gunung Sukendra itu salah kedaden (menjelma) menjadi kera. Sesuai dengan petunjuk orangtuanya, Resi Gotama, tiga ABG Subali-Sugriwa-Anjani itu segera berangkat ke tempat bertapa yang telah ditentukan. Dengan cara ini diyakini dewata segera memberikan grasi sehingga dipulihkan sebagai wayang cakep seperti dulu.

Kemudian Subali tapa ngalong (menirukan kelelawar) di Gunung Sunyapringga, yakni tidur menggantungkan di atas pohon. Masih di tempat yang sama, Sugriwa tapa ngidang (menirukan rusa). Makan dan minum hanya bergantung pada apa-apa yang terjatuh di depannya. Mereka dilarang keras panggil mie pangsit atau tukang ketoprak!

Paling berat si sulung Anjani, dia harus tapa nyantuka (menirukan katak), telanjang bulat di tepi Danau Madirda, jongkok mojok kedinginan. Padahal biasanya, setiap tanggal 21 April, Anjani pasti pakai kebaya. Kini tak bisa lagi.

“Jika kalian bertapa dengan tekun, dijamin #Tahun 2019 Ganti Wajah….” janji resi Gotama.
“Ah, kayak hastag PKS aja rama ini.” Jawab para putra dan putri malang ini.

Tidur bergantung seperti kelelawar bertahun-tahun lamanya, tubuh Subali makin mengurus, rambut semakin kusut. Tapi tak jadi masalah. Dewa pun kasihan juga jadinya. Tapi  bila dibikin ganteng sekarang, dikhawatirkan Subali malah pacaran melulu. Karenanya dia cuma dikirim Aji Pancasona sebagai imbalan keteguhan bertapa.

“Saudara Subali, dengan Aji Pancasona ini Saudara akan terbebas dari kematian.” Pesan Betara Narada melalui WA.

“Kalau begitu saya bisa ambil rumah DP nol rupiah dengan masa angsuran 100 tahun dong,” jawab Subali lewat WA pula.

Subali sangat berterima kasih dengan hadiah Aji Pancasona tersebut. Dia berfikir, tinggal selangkah lagi targetnya kembali sebagai wayang cakep tercapai. Logika-nya, yang tidak diminta saja diberikan oleh Dewa, apalagi yang dibutuhkan umatnya, pasti di-ACC!

Pada hari kemerdekaan Kerajaan Ngalengkadiraja yang ke 504, Prabu Dasamuka blusukan dengan terbang solo di atas wilayah Gunung Sunyapringga. Tepat di atas pertapaan Resi Subali, Dasamuka alias Rahwana itu terkena kram lantaran kualat akan kesaktian sang pertama, sehingga terjatuh terhempas ke bumi. Terjun dari ketinggian 3.000 kaki bisa dibayangkan. Prabu Dasamuka pingsan.

Melihat raja tak dikenal jatuh di depannya Resi Subali segera bangkit menolong si wayang pingsan. Dikeluarkannya minyak PPO dan dioleskan ke hidung Dasamuka sehingga siuman.

“He, he, bangun! Sudah siang nih…!” bisik Subali.

“Diem! Brisik lu ah, ganggu orang tidur aja,” jawab Dasamuka malah songong.

Dasamuka rupanya raja wayang yang tak tahu berterima kasih. Memperoleh pertolongan semacam itu malah tersinggung. Bahkan Resi Subali yang terlalu getol bertapa itu diejek. Katanya, tiada guna bertapa berlama-lama, karena dewata telah menentukan bahwa wayang paling sakti dalam kotak cuma Rahwana semata.

“Percuma resi Subali bertapa, bertahun-tahun menahan lapar yang diperoleh cuma penyakit maag doang! Karena bertapa itu fiksi. Dewa Yang Maha Agung juga telah teken kontrak denganku, bahwa hak monopoli kesaktian di pewayangan ada padaku,” kata Dasamuka pongah, sambil pamer gigi palsunya.

“Siapa bilang? Justru gue lah wayang nomer satu di seluruh kotak.” Tangkis Subali.

Ngotot sama ngotot akibatnya bisa diduga, berantem! Mereka sama kuat, rosa-rosa macam Mbah Marijan.  Sampai beberapa ronde kedudukan tetap seri. Berkat Aji Pancasona, Resi Subali yang beberapa kali bisa ditewaskan, setelah menyentuh bumi langsung hidup kembali.

“Kalau begini terus,  bisa repot.  Mendingan gue nyerah aja deh. Dengan berguru padanya, semoga gue diberi ajian tersebut,” pikir Dasamuka kemudian.

Raja Ngalengka ini segera sujud pada Resi Subali, minta maaf dan mohon dijadikan murid untuk berguru. Subali wayangnya ternyata pemaaf, dia mengampuni secara tulus. Dasamuka diterima tanpa uang pangkal dan gedung, bahkan dapat KSP (Kartu Subali Pintar). Dalam empat kali semester, dia dinyatakan lulus dan Aji Pancasona ditransver kepadanya tanpa ketahuan pihak PPATK (pusat pelaporan dan analisa transaksi keuangan).  Sekarang dia berhak menyang nama: Dasamuka AP (Aji Pancasona).

Sepeninggal Dasamuka, Resi Subali kedatangan Sanghyang Narada yang mau minta bantuan. Katanya, di Kahyangan sedang ada kemelut, gara-gara demonstrasi 2104 yang dipimpin Prabu Maesasura dan kedua patihnya, Lembusura – Jatasura. Ketiga tokoh dari Guwa Kiskenda ini menuntut diizinkan menikahi Dewi Tara, sekretaris PKK di Kahyangan sana. Tapi kalangan dewa serta merta menolaknya.

“Kalau kau bisa membunuh Maesasura Dkk, ada hadiah istimewa buatmu. Dewi Tara boleh kau ambil sebagai bini,” bujuk Narada.

“Kalau kita kasih saja miras oplosan, bagaimana?”

“Husy! Itu termasuk pembunuhan berencana, bisa dihukum mati.” Kata Narada.

Dibanding hadiah rumah mewah di Pondok Indah atau umroh tapi lewat Abu dan First Travel, tawaran Batara Narada itu lebih menarik bagi Subali. Dia segera teken berita acara proyek tersebut. Sepeninggal Sanghyang Narada, Subali menelepon Sugriwa adiknya, agar ikut bersama-sama menggarap proyek itu.

“Dimas Sugriwa, ada waktu nggak? Ini ada borongan dari Kahyangan. Kalau gol, kita-kita jadi konglomerat, nih!” ujar Subali dalam telepon.

Dengan pakai taksi online, Subali – Sugriwa berangkat ke Guwa Kiskenda tempat tinggal Prabu Maesasura dan kedua patihnya, Jatasura – Lambusura.Tiba di mulut gua yang di bawahnya tampak air sungai mengalir jernih, Subali bagi-bagi tugas. Sugriwa ditugaskan jaga-jaga saja di luar macam Satpam, sementara dia sendiri yang masuk untuk membereskan demonstran di Kahyangan itu. Subali juga wanti-wanti, bila kemudian warna air sungai ini berubah jadi merah, berarti ketiga pemberontak Suralaya itu tewas. Tapi kalau warna air kali menjadi putih, berarti Subali yang gugur dalam perkelahian.

“Karenanya, buru-buru mulut gua itu kamu cor pakai beton. Kalau perlu panggil kontraktor PT Adi Karya, ya!” kata Subali lebih lanjut.

“Wah, kelamaan. Kan harus dilelang dulu proyeknya.” Saran Sugriwa.

Subali kemudian menyelinap ke lorong Guwa Kiskenda, yang cuma diterangi lampu listrik 15 watt itu. Di Istana Prabu Maesasura ternyata ketiga bos ini sedang teler kebanyakan minum miras Cap Tikus. Mereka dibangunkan dan ditantang berkelahi.

“Hai bangun, lu! Calon pacar Dewi Tara masak tidur melulu. Hayo bangun, berani nggak kalian lawan gue?” tantang Subali serta merta.

“Emangnya gue salah apa? Datang-datang ngajak berantem?”

Prabu Maesasura dan kedua patihnya bangun ogah-ogahan. Mereka semula menduga yang datang petugas amnesty pajak, tetapi begitu tahu ini urusan kasus Dewi Tara, mereka segera mengeroyok Subali. Dalam waktu singkat bisa dilumpuhkan. Cuma Maesasura – Lembusura saja yang alot, sampai berjam-jam lamanya tak juga bisa dibinasakan.

Berkat Aji Pancasona, Subali cuma lecek saja tanpa harus kehilangan nyawa. Lama-lama Maesura – Lembusura yang berkepala sapi dan kerbau tersebut lengah, keduanya ditangkap Subali secara bersamaan dan kepalanya diadu; bress ! Kedua raksasa rupanya lupa pakai helm, sehingga benturan keras itu menyebabkan mereka gegar otak dan tewas seketika. Darah merah bercampur otak mereka terbawa arus sungai.

Di pintu goa Sugriwa melihat air berwarna campur putih, menganggap kakaknya sampyuh (tewas bersama). Dia segera ingat pesan Subali, maka pintu goa itu ditutup pakai batu raksasa. Untuk mengecornya dengan beton, tak sempat lagi menghubungi kontraktor. “Nah,  kalau begini Dewi Tara jadi bagian gue,” ujar Sugriwa kegirangan.

Dia segera berangkat ke Kahyangan, menagih janji kepada Batara Narada. Menerima laporan bahwa Subali sudah tewas bersama ketiga demonstran itu, dewa model pulau Kalimantan tersebut percaya saja tanpa mengecek lebih dulu.

“Hati-hati lho ya, sebelum 1.000 Km jangan dibuat boncengan,” wanti-wanti Narada.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement