GARUT, KBK – Ditengah tebalnya lumpur yang mengendap diseluruh wilayah RT 01, RW 04, Desa Haurpanggung, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sinta Sutika (43) terlihat sibuk mengais sisa-sisa perabotannya yang hancur.
Senyum Sinta pun mengumbar ketika tas anak semata wayangnya, Muhammad Jalaludin (12) berhasil ditemukan dalam tumpukan puing rumahnya yang roboh akibat terjangan banjir bandang selasa malam lalu.
Baju Sinta yang kotor penuh lumpur seakan mencerminkan usaha kerasnya bertahan hidup pasca amukan sungai Cimanuk.
Dengan wajah kelelahan Sinta berkisah, dirinya masih ingat betul detik-detik air bah itu menghancurkan rumahnya.
“Itu kejadiannya jam 10 malam, saya sudah siap-siap mau tidur tiba-tiba banjir datang. airnya cepat meninggi saya tidak sempat lagi selamatkan harta benda,” ungkap Sinta kepada KBK, Jumat sore (23/09/16).
Seluruh perabotan dapur dan elektronik milik Sinta habis tersapu air bah, impian dapat merasakan hidup nyaman yang ia bangun bersama sang suami Ujang Suherman (55) selama puluhan tahun seakan sirna dalam waktu semalam.
Sebagai sumber penghasilan sampingan, warung camilan Sinta juga tak luput dari daftar sederet bangunan yang roboh.
Sinta dan Ujang kini praktis hanya mengandalkan bantuan relawan yang silih berganti mulai berdatangan.
“Saya tidak punya apa-apa lagi, suami saya cuma hansip di kampung ini. penghasilannya tak seberapa. Satu-satunya yang berhasil diselamatkan hanya baju yang melekat pada tubuh saja” jelas Sinta.
Untuk melewati malam, keluarga kecil Sinta terpaksa harus terlelap hanya dengan beralaskan terpal beratapkan langit. Beruntung hujan deras tak lagi mengguyur wilayah Garut. Namun rintikan gerimis yang kerap turun saat menjelang magrib membuat Sinta lagi-lagi harus bersabar dalam menghadapi derita hidup.
Hal serupa juga menimpa Emaludin (64) juragan kontrakan di Desa Haurpanggung. Mantan supir bus AKAP lintas Sumatera itu mesti kehilangan 6 dari 20 petak kontrakannya yang hilang tersapu banjir.
Kala itu mendekati pukul setengah sebelas malam, ditengah guyuran hujan lebat Emal bersama tetangganya sudah bersiap diri akan datangnya banjir.
Namun siapa sangka air datang begitu cepat dan meninggi dalam hitungan menit.
Emal sangat tidak mengira bahwa banjir yang datang begitu besar hingga nyaris menenggelamkan rumahnya.
“Biasanya kalau banjir paling cuma sebetis, tidak seperti sekarang airnya sampai empat meter,” ujar Emal terbata-bata.
Hingga kini Emal mengaku masih tak percaya atas musibah yang menimpanya itu. Menurut Emal yang merupakan warga asli Haurpanggung, kejadian banjir bandang kali ini merupakan yang pertama dalam hidupnya.
“Puncaknya itu jam sebelas malam dan mulai berangsur surut jam 4 subuh,” jelas Emal sambil menunjukan atap rumahnya yang kotor penuh sampah sisa-sisa banjir.
Ketika air meninggi baik Emal, Santi dan warga Haurpanggung lainnya beruntung dapat menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi meski dalam kondisi gelap gulita dan guyuran hujan deras.
“Meski harta benda kami hilang tetapi alhamdulilah semua warga Haurpanggung selamat,” ucap Santi. (Jun Aditya)





