Aksi Teroris Rekatkan Hubungan Turki – Rusia

Presiden Putin dan Presiden Erdogan/ haaretz.com

TIDAK ada lawan atau kawan sejati. Yang ada hanyalah kepentingan abadi” bunyi adagium lawas tentang  hubungan apa saja, pertemanan, antarnegara,  kolaborasi atau koalisi politik.

Ungkapan itu agaknya pas untuk menggambarkan mesranya kembali hubungan antara pemerintah Turki dan Rusia pasca tertembak matinya Dubes Rusia untuk Turki Andrei Karlov oleh pelaku, diduga teroris, di Ankara, Turki, Senin lalu.

Kedua negara sepakat menyatakan perang terhadap terorisme dengan cara lebih efektif dan berjanji untuk bekerjama mengungkap kejadian itu.

Baik Presiden Rusia Vladimir Putin maupun mitra kerjanya, Presiden Turki Recep Tayip Erdogan juga sependapat, pembunuhan keji itu bertujuan untuk merusak hubungan baik kedua negara.

“Pemerintah Rusia dan Turki tidak akan terperangkap provokasi tersebut, “ kata Tajip Erdogan menambahkan.

Hubungan Rusia-Turki berada di titik nadir saat sebuah pesawat tempur Sukhoi SU-24 Rusia yang ditempatkan untuk membantu kelompok oposisi Suriah melawan rezim Presiden Bashar al-Asaad ditembak jatuh oleh pesawat F-16 Turki di tapal batas Turki dan Suriah, Noember 2015.

Rusia pasca insiden tersebut membatasi impor makanan, frekuensi penerbangan, kunjungan wisata dan kerjasama pertahanan antara kedua negara. Hubungan Rusia dan Turki agak mencair setelah lawatan Erdogan ke Rusia baru-baru ini.

Dalam konflik Suriah, Turki bersama Arab Saudi dan koalisi barat pimpinan Amerika Serikat berada di kubu  kelompok oposisi,  sedangkan Rusia bersama Iran di kubu berseberangan, mendukung pasukan loyalis al-Asaad.

Rusia sejak lama merupakan sekutu Suriah dalam perang melawan Israel. Pelabuhan Tartus yang menghadap ke Laut Tengah,  di Suriah menjadi satu-satunya pangkalan angkatan lautnya di Timur Tengah.

Ketegangan antara Rusia dn Turki terjadi karena negara beruang merah itu menuduh Turki menembak jatuh pesawatnya yang masih berada di dalam koridor udara Suriah, sementara Turki mengklaim pesawat naas itu melanggar wilayahnya.

Walaupun cuma mengakibatkan jatuhnya sebuah pesawat, insiden tersebut menyangkut harga diri Rusia, karena pesawat andalannya dijatuhkan oleh F-16, pesawat buatan saingannya, AS yang juga seterunya di palagan Suriah.

Saling memerlukan

Namun di balik ketegangan yang terjadi, Turki dan Rusia faktanya saling memerlukan, terutama hubungan ekonomi kedua negara yang saling menguntungkan.

Kedua negara Agustus lalu mencapai kesepakatan kerjasama dalam pembangunan saluran pipa gas TurkStream bernilai 20 juta dolar AS yang membentang sepanjang 900 Km antara Rusia dan Turki melalui Laut Hitam.

Sekitar empat juta wisatawan Rusia membanjiri kota-kota dan obyek wisata di Turki sepanjang tahun, sehingga menambah kocek pemasukan devisa bagi Turki dari mata uang rubel Rusia yang dibelanjakan mereka.

Bagi perekonomian Turki  yang terpuruk akibat aksi-aksi teroris dan baru lepas dari gunjang-ganjing politik akibat kudeta yang gagal beberapa waktu lalu, Rusia merupakan salah satu negara mitra strategisnya.

Turki juga memberikan andil atas jatuhnya kota Aleppo timur yang dipertahankan mati-matian oleh kelompok perlawanan ke tangan pasukan loyalis Presiden Suriah, Bashar  al-Assad yang didukung Rusia dan Iran.

Kekuatan oposisi langsung melorot setelah Turki tidak sepenuh hati mengalirkan pasokan logistik dan senjata kepada mereka. Penyebabnya,  mungkin saja Turki merelakan Aleppo jatuh ke tangan pasukan al-Asaad  “deal-deal” rahasia dengan Rusia.

Ada kepentingan Turki yang lebih besar yakni mengamankan Operasi Perisai Eufrat yang digelarnya untuk membendung pembentukan Pemerintah Federal Kurdi di perbatasan Suriah (di Afrin sampai Kobane).

Konflik Suriah terjadi antara kelompok perlawanan melawan rezim al-Assad ditambah akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh serta  konspirasi politik regional.

Di tingkat sektarian (antara Sunni dan Syiah), di tingkat nasional (rezim al-Assad melawan kubu oposisi), perebutan pengaruh dan kepentingan regional (antara Arab Saudi, Turki, Yordania, Qatar di satu pihak dan  Iran, Irak serta Kurdi di pihak lain) dan di tingkat  global, antara AS dan Rusia).

Nasib Suriah selanjutnya pasca jatuhnya Aleppo juga akan ditentukan oleh “kartu-kartu” selanjutnya yang akan dimainkan oleh para pemangku kekuatan di Suriah, termsuk Turki dan Rusia.

Dan yang menjadi tumbal, tetap saja rakyat Suriah.

Advertisement