SALFIT – Dulu Salfit, Tepi Barat adalah kota yang indah, tempat tujuan wisata masyarakat Palestina. Bila sore dan hari libur, banyak keluarga yang mendaki ke perbukitan untuk bersantai dan berfoto. Rumput hijau dan padang perbukitan membuat suana segar. Di bawahnya mengalir air sungai yang bersih.
Semua kenangan itu masih segar dalam pikiran Jamal Hammad. Bahkan ketika musim semi al-Matwa di kota Salfit adalah tujuan populer bagi penduduk setempat. Beberapa dekade yang lalu, daerah ini sering dipenuhi orang-orang Palestina yang mendaki di lembah dan keluarga berpose bersama dengan arus sungai yang bersih dan mengalir.
Sekarang semuanya sirna, sungai jadi kotor oleh limbah yang mengalir, bau menjadi tengik. Kawasan ini menjadi surganya lalat dan nyamuk dan lembah Al Matwa menjadi sepi.
“Semua limbah ini berasal dari permukiman Israel, kebanyakan dari pemukiman Ariel,” Hammad mengatakan kepada Al Jazeera di pertanian sederhana yang berdekatan dengan mata air. “Kami sangat khawatir tentang dampak jangka panjang polusi yang akan terjadi di masa depan.”
Isu pengelolaan sampah telah berlangsung selama beberapa dekade di Tepi Barat yang diduduki. Tahun lalu, sekitar 83 juta meter kubik air limbah mengalir di sepanjang Tepi Barat yang diduduki, dimana sekitar 19 juta meter kubik berasal dari permukiman Israel yang dibangun di wilayah Palestina yang melanggar hukum internasional, menurut Knesset Research Institute.
Alon Cohen-Lifshitz, seorang peneliti untuk LSM Israel Bimkom, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa banyak permukiman Israel tidak memiliki fasilitas pengolahan limbah yang tepat. Sekitar 12 persen dari sampah pemukiman menyusup ke sungai yang mengalir ke pemukiman Palestina.





