Amnesty Desak Eropa Tak Mendeportasi Pengungsi Afghanistan

Pengungsi Afghanistan di Pakistan/ AFP
NEW YORK – Kelompok hak asasi manusia Amnesty International mendesak negara-negara Eropa untuk berhenti mengirim orang-orang Afghanistan yang tidak memenuhi syarat kembali ke negaranya yang belum aman.

Seruan tersebut muncul setelah sebuah peningkatan kekerasan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir karena Taliban telah memperoleh tanah di seluruh negeri dan kota-kota termasuk ibukota Kabul.


“Amnesty International meminta semua negara Eropa untuk menerapkan moratorium pengembalian ke Afghanistan sampai disana kembali aman dan bermartabat,” kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada hari Kamis (5/10/2017), dilansir Reuters.

Dikatakan bahwa pemerintah Afghanistan seharusnya tidak bekerja sama untuk mengirim orang kembali, terlepas dari ketergantungannya pada bantuan luar negeri.

Laporan tersebut menyusul kenaikan tajam jumlah orang Afghanistan yang kembali dari Eropa, baik akibat deportasi paksa atau secara sukarela. Dikatakan hampir tiga kali lipat dari 3.290 ke 9.460 antara tahun 2015 dan 2016.

“Dalam tekad mereka untuk meningkatkan jumlah deportasi, pemerintah Eropa menerapkan sebuah kebijakan yang sembrono dan tidak sah,” kata Anna Shea, Peneliti Amnesty International mengenai Hak Pengungsi dan Migran.

Dia mengatakan bahwa pemerintah “sengaja buta” terhadap bukti bahwa kekerasan disana berada pada rekor tertinggi.

Warga Afghanistan termasuk di antara kelompok pencari suaka di Eropa, dengan 108.455 pencari suaka pertama kali terdaftar di Uni Eropa dalam 12 bulan sampai akhir Juni, kedua setelah Suriah, menurut agen statistik UE Eurostat.

Namun angka tersebut telah turun dalam satu tahun terakhir, turun 24 persen antara kuartal pertama dan kedua dan 83 persen antara kuartal kedua 2017 dan periode yang sama tahun 2016.

Afghanistan menjadi negara konflik dan menurut angka Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 1.662 warga sipil terbunuh dan 3.581 orang luka-luka pada paruh pertama tahun ini, dengan hampir 20 persen korban sipil datang ke ibukota Kabul itu sendiri.

“Afghanistan sangat tidak aman, terlebih  beberapa tahun terakhir. Namun negara-negara Eropa mengembalikan orang ke Afghanistan dalam jumlah yang semakin besar, bahkan saat kekerasan di negara tersebut meningkat, “kata laporan tersebut.

Advertisement