MYANMAR – Kelompok HAM Amnesty International mengatakan telah mencabut penghargaan yang diberikan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi karena gagal menghentikan kekejaman serius terhadap kelompok minoritas Muslim-Rohingya di negaranya.
“Sebagai Duta Hati Nurani Amnesty International, harapan kami adalah Suu Kyi akan menggunakan wewenang moral untuk berbicara lantang menentang ketidakadilan ketika melihatnya, bukan hanya di Myanmar,” ujar Sekjen Amnesty International Kumi Naidoo dalam surat yang dikirim kepada Aung San Suu Kyi hari Minggu (11/11) untuk menjelaskan keputusannya tersebut.
“Kami sangat prihatin bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian dan pembela abada hak asasi manusia,” tambahnya, Senin (12/11/2018), dikutip VOA.
Suu kyi yang dulunya ditempatkan pemerintah Myanmar yang dipimpin militer pada tahun 1989–2010 sebagai tahanan rumah karena perannya sebagai pemimpin oposisi politik dan aktivis pro-demokrasi, kala itu dibela negara-negara Barat dan kelompok-kelompok HAM, termasuk Amnesty International.
Selama menjalani tahanan rumah, Suu Kyi dianugerahi Nobel Perdamaian Tahun 1991. Pada tahun 2009, Amnesty International juga memberinya penghargaan tertinggi “Ambassador of Conscience.”
Namun sejak menjadi pemimpin de facto di Myanmar pada April 2016, Suu Kyi dan pemerintahannya tidak pernah mengutuk atau berupaya menghentikan pembantaian yang dilakukan militer terhadap kelompok minoritas Muslim-Rohingya di negara bagian Rakhine.
Pengungsi Rohingya mengantri daging di kamp pengungsi Balukhali di Cox’s Bazar, Bangladesh, 23 Agustus 2018.
Pengungsi Rohingya mengantri daging di kamp pengungsi Balukhali di Cox’s Bazar, Bangladesh, 23 Agustus 2018.
Pada Agustus 2017 militer Myanmar melakukan kampanye bumi hangus secara besar-besaran terhadap sebagian besar desa Muslim-Rohingya, yang disebut sebagai pembalasan terhadap serangan militan Rohingya yang menewaskan sepuluh polisi Myanmar. Lebih dari 700 ribu warga Muslim-Rohingya melarikan diri dari aksi kekerasan itu ke Bangladesh, di mana para penyintas memberi kesaksian tentang pembantaian yang mengerikan, antara lain: pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran desa-desa. PBB menyebut pembantaian itu sebagai bentuk klasik pembersihan etnis.
Selama peristiwa tersebut, Aung San Suu Kyi dikecam keras dunia internasional karena sikap bungkamnya. Ketika akhirnya berbicara, ia menolak dan meremehkan tuduhan terhadap militer Myanmar.





