Anak Menderita Stevens Jhonson Syndrome, Bapak di Mojokerto Butuh Bantuan Biaya

Ilustrasi

MOJOKERTO – Aira Azara Latifa, balita berusia 2,5 tahun asal Dusun Kedungwulang, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menderita gejala penyakit Stevens Jhonson Syndrome (SJS) atau alergi antibiotik.

Sudah hampir 2 pekan ia  hanya bisa terbaring di ranjang Bangsal Kencana Wungu, Nomor 9, RSUD Wahidin Sudirohusodo, Kota Mojokerto.

Penyakit langka yang dideritanya  membuat sekujur tubuh anak pasangan Cipto Wiyadi (37), dan Sulami (36), melepuh seperti terbakar api dan membuatnya sering merintih kesakitan.

Cipto mulai menuturkan, seperti dikutip Okezone, Selasa (8/5/2017),  awal penyakit langka yang menimpa buah hatinya itu. Musibah itu bermula pada Jumat 28 April 2017. Ketika itu, Aira mengalami demam yang cukup tinggi disertai dengan penyakit batuk dan pilek.

Ia membawa berobat ke rumah sakit di Mojoagung (Kabupaten Jombang). Tapi tidak sembuh-sembuh. Karena khawatir, akhirnya iabawa ke rumah sakit spesialis anak.

Kendati sudah empat hari menjalani perawatan di rumah sakit spesialis anak, namun kondisi Aira tak kunjung membaik. Hingga akhirnya, pihak dokter memutuskan untuk merujuk Aira ke RSUD Wahidin Sudirohusodo untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

“Baru beberapa jam disini, langsung infeksinya itu keluar semua. Awalnya hanya di atas bibir, selang beberapa jam sudah merambat keseluruh tubuh. Bahkan waktu itu, sudah sempat tidak bisa melihat anak saya. Untungnya langsung ditangani dengan cepat, sehingga sudah mulai normal,” ungkap Cipto.

Meski Aira sudah membaik, namun Cipto yang bekerja serabutan kebingungan pontang-panting mencari pinjaman uang untuk membayar ongkos biaya perawatan, jika putrinya keluar dari rumah sakit nanti.

“Kami menggunakan jalur reguler. Saya sudah terdaftar BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan), tapi anak saya belum masuk. Sehingga kami membayar sendiri,” jelasnya.

Pemkab Mojokerto melalui ajudan bupati sudah meminta perangkat desa untuk mengurus Surat Keterangan Miskin (SKM) dari Dinas Kesehatan.

“Namun, SKM tersebut terpaksa tidak saya gunakan. Karena katanya perawat disini kalau menggunakan SKM anak saya harus turun kelas 3. Kalau turun kelas, perawatannya juga tidak maksimal. Anak saya harus bergabung dengan pasien lain, padahal penyakitnya ini rentan,” tandasnya.

Kini ia berharap ada pihak yang dapat membantu biaya pengobatan anaknya tersebut.

Advertisement