KAPI Hanoman telah mendarat di negeri Pancawati. Dia melapor pada Prabu Rama bahwa memang benar Dewi Sinta dalam cengkeraman Prabu Dasamuka raja negeri Ngalengkadiraja. Istri Prabu Rama ini dicuri di hutan Dandaka, saat Rama dan adiknya, Leksmana memburu kidang kencana. Yang sangat menggembirakan bagi Prabu Rama, Dewi Sinta dalam keadaan baik-baik saja dan sepertinya masih dalam kondisi segelan plastik alias belum terjamah.
“Ini cincin dari Dewi Sinta, bukti bahwa hamba sudah bertemu langsung dengan beliau,” ujar Hanoman sambil menyerahkan cincin tersebut. Dia memang tak mau dituduh bikin perjalanan fiktif.
“Terima kasih Hanoman. Sedianya cincin ini untuk jaga-jaga, bila ada kesulitan keuangan bisa dilego di toko emas.” Jawab Prabu Rama, matanya berkaca-kaca karena ingat istri yang kini jauh di rantau.
Prabu Rama beserta Patih Sugriwa disaksikan Hanoman dan Anggodo, segera berunding bagaimana harus membebaskan Dewi Sinta. Informasi yang diberikan oleh paksi Jatayu ternyata memang benar adanya. Orang lain yang bukan kerabat bukan famili saja rela berkorban nyawa demi Dewi Sinta, apa lagi dia sebagai suaminya, harus menunjukkan kesetiaan dan tanggungjawabnya.
Semula Prabu Rama hendak segera mengerahkan prajurit kera untuk menyerbu Ngalengka. Namun Patih Sugriwa menyarankan, sebaiknya diadakan diplomasi antar negara saja dulu. Siapa tahu Dasamuka bisa dibujuk, sehingga dia rela memulangkan Dewi Sinta. Ini kan sangat menghemat anggaran APBN Pancawati. Kata Patih Sugriwa lebih lanjut, sebaiknya dikirim seorang duta kembali, demi mengetahui sikap resmi Ngalengka.
”Apa Hanoman kita kirim lagi kembali ke Ngalengka?” usul Prabu Rama.
”Jangan, Baginda. Dia kan masih capek, lagi pula luka bakar di tubuhnya perlu segera disembuhkan. Sebaiknya dicari tokoh lain, yang kredibel dan kafabel.”
Memang, Kapi Hanoman masih perlu banyak istirahat. Ketika dibakar oleh Prabu Dasamuka dan para kroni, Hanoman memang bisa menyelamatkan diri, tapi di sana sini tetap saja keslomot api. Tak mengherankan, saat sowan Prabu Rama di tubuhnya masih banyak plester dan yodium di sana-sini.
Prabu Rama kemudian menunjuk Kapi Anggodo, tapi Patih Sugriwa agak ragu. Soalnya beberapa bulan lalu ada isyu dia bermasalah dengan KPK. Takutnya, Anggodo yang yang diisyukan terlibat e-KTP itu nantinya juga bisa dibayar oleh Prabu Dasamuka. Bayangkan, jika nanti yang kembali ke Rama Dewi Sinta aspal.
”Anggodo, segera berangkat ke Ngalengka, semua akomodasi ditanggung negara. Tapi awas, jangan tidur di rumah teman nanti ngaku nginep di hotel lho ya.” ancam Patih Sugriwa.
”Enggaklah Oom. Kalau saya korupsi, boleh potong leher saya.” jawab Anggodo, diilhami sesumbar mantan Ketua MK Akil Mochtar.
Demikianlah, Kapi Anggoda telah terbang menuju negeri Ngalengka. Tapi entah kenapa sampai sebulan lamanya dia tak juga kembali ke Pancawati. Kabar terakhir lewat SMS mengatakan bahwa Prabu Rahwana telah memberikan pernyataan resmi bahwa takkan tunduk perintah Pancawati. Sampai kapan pun Dewi Sinta akan dikuasai dan dinikmati.
Sejak itu HP Kapi Anggodo tak bisa dihubungi. Tentu saja Prabu Ramawijaya berikut jajarannya menjadi demikian gelisah. Apakah Anggodo berbalik pikiran memihak Ngalengka, atau dia mengalami kecelakaan penerbangan. Dua kemungkinan yang sangat tidak dikehendaki oleh kubu Pancawati.
”Lihat karekternya itu anak, saya khawatir kemungkinan pertama,” kata Patih Sugriwa.
”Andaikan dia jatuh ke laut, bagaimana?” Prabu Ramawijaya cenderung kepada kemungkinan kedua.
Sementara nasib Anggodo masih dipertanyakan, dari SMS terakhir yang dikirim ke Pancawati menunjukkan bahwa Anggodo gagal membujuk Prabu Dasamuka. Tapi sial kedua kalinya rupanya terjadi. Saat dia hendak kembali ke Pancawati, di tengah perjalanan saat terbang dalam ketinggian 1000 meter dari bumi, tiba-tiba terkena torbulensi udara. Serta merta Kapi Anggoda terhempas dan terbawa angin entah ke mana.
Ternyata Anggodo kemudian terdampar di daerah Cipinang Besar, Jakarta Timur. Paling sial, dia masuk ke wilayah perkampungan pengamen Topeng Monyet. Serta merta Anggodo hendak ditangkapnya. Apa lagi setelah tahu kera itu bisa tatajalma (berbicara), para pemburunya semakin bernafsu. Maklum, buat ngamen pasti laku keras.
“Nama saya Anggada, itu sesuai dengan akte kelahiran dan nama di e-KTP, jadi jangan seenaknya mengganti nama orang,” protes Anggada setelah berhasil disandera.
“Bodo amat! Selama dalam penguasaan kami, kamu harus ganti nama menjadi Sarimin. Nanti kamu saya ajari naik motor mini dari kayu, bawa payung dan tas. Setelah mahir baru saya buat cari duit ke jalan-jalan ibukota.” Kata seorang lelaki setengah baya, nampaknya dia yang menjadi penguasa sekaligus juragan topeng monyet.
Demikianlah, HP di tangan Anggodo disita. Setelah masuk “diklat” sistem 50 jam, Kapi Anggodo Sarimin siap buat ngamen dengan muka ditutup topeng boneka, Biasanya sang pengamen hanya dapat Rp 50.000,- sehari, dengan bintang tamu Sarimin Anggodo bisa memperoleh Rp 1 juta. Sungguh sedih Anggodo, di Pancawati biasa makan ayam goreng, jadi Topeng Monyet hanya dikasih makan timun dan pisang.
“Duh dewa, kapan saya bebas dari penderitaan ini. Sakit leher saya, sebentar-sebentar ditarik buat tontonan anak kecil.” ratap Sarimin Anggodo.
Agaknya doa Anggodo Sarimin didengar para dewa di kahyangan. Sebab bersamaan dengan itu, beredar di Youtube secara firal tentang Sarimin yang buat ngamen, tapi bisa ngomong seperti manusia. Kelompok penyayang binatang pun protes, sehingga Walikota Jakarta Timur pun mendesak juragan topeng monyet untuk membebaskan Sarimin Anggodo. Dengan sejumlah ganti untung, Anggodo kembali terbang ke Pancawati.
Para petinggi Pancawati sangat bersyukur atas kembalinya Kapi Anggodo dengan selamat. Kepada Prabu Ramawiaya, dia melaporkan dengan terbata-bata, ”Maaf paduka, kalau nggak ada Gubernur Jokowi, belum bebas saya hari ini…..!” (Ki Guna Watoncaritra)



