ANGGADA NGGRANGSANG

Anoman mau angkat gunung Maenaka tidak kuat, sehingga minta bantuan Jaya Anggada.

BAGI kalangan LSM yang biasa diplesetkan jadi Lembaga Suara Miring, Brigjen Jaya Anggada ini sudah merupakan tokoh gagal. Dulu ditugaskan ke Ngalengka untuk membujuk Prabu Dasamuka, agar melepaskan Dewi Sinta, eh….malah mabuk-mabukan di sana. Dan sepulangnya ke Pancawati malah mengamuk mau bunuh Prabu Rawa dan Patih Sugriwa, karena dianggap sekongkol atas matinya Resi Subali sang ayah.

Pernah juga Anggada ini diplekotho (dikerjain) tokoh lembaga survey, untuk baca puisi berjudul “Semua milik sono” yang isinya menyerang Prabu Rama. Tanpa ditelaah dulu, langsung saja dibaca bla-bla-bla……. Rakyat Pancawati pro Prabu Rama heboh, Istana juga geger, tapi Brigjen Anggada tak dicopot Prabu Rama sebagai Wamenhan. Padahal banyak yang menyarankan, Anggada dicopot dan didubeskan di negara Afrika, misalnya Zimbabwe, biar makan bakso seharga Rp 600 juta semangkok.

“Apa itu? Prabu Rama terlihat sekali diskriminatif. Dia masih takut pada Patih Sugriwa, paman Anggada…,” ujar Jaya Nggenduki, direktur Pancawati Coruption Watch pada tayangan  stasiun TV swasta.

“Jelas dong. Soalnya jika Sugriwa mundur dari kabinet, program seratus minggu pembebasan Dewi Sinta, bisa berantakan. Dia kan menterinya menteri, ahlinya ahli…” tambah pengamat politik Ripta Lesmana. Dia memang masih famili jauh Raden Laksmana.

Entah dari mana sumbernya, semua koran, TV dan media online memuat twitter eks Sekmen (Sekretaris Mentri) Jaid Dudi yang isinye memojokkan Brigjen Jaya Anggada. Dikatakannya, Wamenhan Pancawati itu telah menerima transveran Rp 150 M dari Prabu Dasamuka, dengan kompensasi dia harus menggerogoti kekuasaan Prabu Rama dari dalam. “Heran gue, Wamenhan kok yang dipikirkan uang melulu….” Bunyi cuitan  Jaid Dudi bikin merah telinga Brigjen Jaya Anggada.

Publik pun terbius dengan cuitan tersebut. Layak sekarang Jaya Anggada beli rumah di Pondok Indah, rambutnya dicat ungu macam dr. Tirta. Mobil pribadinya juga lebih bagus dari jatah anggota kabinet. Dan kabarnya, sekarang dia juga terlibat affair dengan artis seks online Panisa Janggel. Gara-gara ini, Prabu Rama perlu memanggil Patih Sugriwa, Menhan Anoman, dan Gunawan Wibisono. Ini sangat sensitip soalnya.

“Kakang Sugriwa, ini harus diklarifikasi. Benarkah Jaya Anggada terima suap dari Ngalengkan dan main perempuan pula?” ujar Prabu Rama.

“Pejabat korup, itu masih biasa. Tapi pejabat main perempuan dengan artis onlen-onlenan, itu kurang ajar,” kata Patih Sugriwa emosi.

Kenapa disebut kurang ajar? Soalnya dalam hati Patih Sugriwa mau mengatakan, kok bisa-bisanya carter artis segala, sedangkan Prabu Rama bossnya sendiri, punya bini satu saja dicolong orang. Ini menunjukkan bahwa Jaya Anggodo tak punya kepedulian sosial malah memanjakan alat vital.

Semula Prabu Ramawijaya dan Patih Sugriwa tak peduli pada kabar begituan, dengan alasan tak mau terjebak pada berita dan opini LSM.  Tapi karena semakin massif di media online dan TV, bahkan jadi topik  di ILC TV-One, Prabu Ramawijaya kemudian membentuk Tim Lima  yang diketuai Raden Wibisana. Iki tokoh lama yang memenuhi syarat asas netralitas.

“Kabarnya sampeyan dapat transveran dari Prabu Dasamuka. Benarkah berita yang dilansir Jaid Dudi itu?” cecar Gunawan Wibisono setelah ketemu Jaya Anggada secara empat mata.

“Masak Oom Wibisana nggak tahu, Jaid Dudi kan tokoh penderita liver (baca: sakit hati). Saya bisa beli rumah di Pondok Indah kan sukses jadi Youtuber. Penghasilan saya sebulan tak kalah sama Atta Halintar,” Jawab Jaya Anggada.

Namun demikian Jaya Anggada tak mau bikin repot pemerintahan Rama-Sugriwa, sehingga sementara waktu ingin cuti di luar tanggungan negara. Maksudnya, mundur sementara jadi Wamenhan, sekedar untuk menyelidiki siapa dalang penyebar isyu yang ingin menjatuhan dirinya. Dia yakin, Jaid Dudi itu hanya pion belaka, pasti ada dalangnya, meski itu bukan Ki Seno Nugroho maupun Ki Anom Suroto.

Sikap Wamenhan Jaya Anggada dapat aplaus dari kalangan publik, yang nge-like ratusan ribu. Tapi ada juga yang nyinyir bahwa Jaya Anggada sekedar cari alasan untuk lebih banyak waktu di rumah. Bukan saja taat pada physical distancing, tapi juga banyak bikin tayangan Youtube yang bisa jadi tambang duit.

“Ah, itu kan cari simpati publik saja, memposisikan dirinya sebagai korban. Padahal Anggada itu tokoh ambisius, nggrangsang dan haus kekuasaan. Dia ingin menggeser posisi Menhan Anoman sepupu sendiri, tapi peluang belum hadir.” Kata Tumenggung Rocky Gareng di ILC TV One.

“Ah bisa aja ente,” potong Ridwan Mukidi yang rambutnya gondrong memutih macam kemoceng plafon rumah.

Sampai 3 bulan Tim Lima bekerja, tapi tak menemukan bukti bahwa Jaya Anggada terima “kardus” dari Prabu Dasamuka. Apalagi main cewek online bersama Panisa Janggel, lha mbok leher ditugel (potong) tidak pernah melakukannya. Mending uang Rp 80 juta dipakai menyantuni anak yatim ketimbang membeli kesenangan jangka pendek berdurasi 5 menit.

Bersamaan dengan itu wabah Covid-19 ternyata juga menerpa rakyat Pancawati yang 90 persen golongan pragosa atau kera, Di sini, RT, RW, lurah, dan camat hampir semuanya kera, termasuk anggota DPR-nya. Makanya jangan heran banyak yang rakus, gaji gede masih doyan main giring proyek. Berdasarkan petunjuk dewa, obatnya hanyalah lata Maosadi dari Gunung Maenaka.

“Maka kau Anoman, saya tugaskan ente mengambil daun Maosadi di Gunung Maenaka dan bawa ke sini dengan cepat untuk ditumbuk buat vaksin.” Titah Prabu Rama.

“Siap komandan, Anoman segera berangkat!” ujar Anoman dan langsung wush…. pergi.

Prabu Rama kaget juga, Menhan kok ujas-ujusss begitu, belum diberi detilnya penugasan kok langsung terbang begitu saja. Maka Jaya Anggada yang dinyatakan tokoh bersih itu segera menyusul. Untung dua-duanya mampu terbang, sehingga masalah transportasi bukanlah masalah, karena di musim PSBB ini semua alat transportasi di Pancawati dibekukakan kecuali ambulans dan branwir nguing-nguing……

Betul juga sih, tiba di Gunung Maenaka Anoman bingung sendiri. Begitu banyak kembang-kembang di sana, bahkan kembang goyang juga ada karena sudah dekat Lebaran. Saking bingungnya takut salah ambil, langsung saja gunung itu dijebol dengan ajian mundri dan blabak penganthol-anthol. Tapi masih tidak kuat juga, padahak ini berkuatan sudah 10 kali krane pelabuhan.

“Makanya Mas, kalau ada proyek jangan dimakan sendiri.” Sindir Anggada yang tiba tak lama kemudian.

“Oh ya Dik. Tolong kakak dibantu, tapi ini semua proyek nirlaba kok, demi kemanusiaan dan kekeraaan.” Jawab Anoman terpusi-pusi

Ditopang ajian Wungkal Bener dan Tronton Sakethi milik Anggada, kedigdayaan ajian Anoman baru terasa. Maka keduanya membopong bersama-sama gunung Maenaka ke istana Pancawati, ditaruh di alun-alun kraton. Prabu Rama dan segala pejabat Istana terheran-heran, gunung sebegitu gedenya bisa diangkat hanya berdua saja. Semalam sahurnya masing-masing10 piring kali ya?

“Terima kasih Anoman-Anggada, kalian telah jadi pahlawan kesehatan bagi bangsa.” Sanjung Prabu Rama dengan menyalami keduanya jarak jauh, ala PKS.

“Terima kasih sinuwun, tapi kami belum mati kok.” Anoman-Anggada setengah protes.

Demikianlah, sekuntum Lata Maosadi dipetiknya, dibawa ke laboratorium kesehatan, diproses menjadi  vaksin anti Corona. Yang belum terkena jadi kebal, sedangkan yang terpapar kembali sehat. Sedangkan yang sudah kadung tewas, doakan saja segala dosanya diampuni para dewa dan diterima segala amalnya. (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement