
TEND angka penyebaran harian Covid-19 terus turun dalam dua pekan terakhir ini, sehingga pandemi diperkirakan sudah melampaui puncaknya, namun demikian angka kematian masih tetap tinggi sehingga harus tetap diwaspadai.
Rekor tertinggi Covid saat didominasi varian delta (B.1.1.7) asal Inggeris pada 25 Juli 2021 (56.757 kasus) sudah terlampaui pada serangan gelombang ke-3 Omicron pada 15 Feb.(57.049 kasus) dan 16 Feb. (64.718 kasus), setelah itu trennya menurun hingga 26.342 kasus pada 4 Maret.
Omicron (B.1.1.529) asal Afrika Selatan yang mendominasi paparan Covid-19 kini dikenal sebagai varian yang tingkat penularannya beberapa kali lipat dari varian Delta, namun fatalitasnya jauh lebih rendah, walau nyatanya angka kematian merambat naik.
Titik terendah angka kematian akibat Covid-19 terjadi pada 2 Feb. 2022 dengan satu kematian, sedangkan rekor tertinggi pada 27 Juli 2021 saat didominasi varian Delta dengan 2.069 kematian.
Walau tidak secara eksponensial, tren angka kematian setelah 2 Feb. 2022 terus merambat naik, terakhir 328 orang pada 4 Maret lalu.
Lansia dengan komorbid yang melakukan isolasi mandiri mengambil porsi terbesar angka kematian, karena terlambat diselamatkan nyawanya.
Pemerintah sendiri memang menganjurkan oag bergejala ringan atau tanpa gejala melakukan isolasi mandiri agar fasyankes tidak kewalahan menampung pasien.
Dari sisi persentase kematian, menurut Guri Besar Fakultas Kedokteran UI yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Adhitama, saat ini lebih tinggi dibandingkan puncaknya saat didominasi varian Delta 27 Juli 2021 (2.069 kematian).
Hitung-hitungannya, terjadi kenaikan angka kemaian 15 kali lipat dalam kurun waktu dua bulan (136 kematian pada 27 Mei menjadi 2.069 orang pada 27 Juli, 2021), sementara pada gelombang ke-3 saat ini dalam kurun waktu sama (dua bulan) terjadi 75 kali lipat kenaikan angka kematian dari lima orang pada 5 Jan. 2022 menjadi 376 orang pada 3 Maret.
Â
Rasio Fatalitas Masih Tinggi
Sementara menurut data rasio fatalitas yang teramati (observed case vatality) yang dirilis Universitas John Hopkins, Indonesia 2,7 persen tertinggi ketiga setelah Peru dan Meksiko, sementara negara-negara Asia lain seperti India di rangking-13 (1,2 persen), Jepang di urutan ke-19 (0,5 persen) dan Korea Selatan urutan ke-20 (0,2 persen).
Yang agak melegakan, Menkes Budi Gunadi Sadikin, dalam dialog di TV Kompas (3/3) menyebutkan, pemerintah mempertimbangkan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi jika penyebarannya terus turun.
Menurunnya angka penyebaran Covid-19 antara lain juga berkat vaksinasi yang sampai (4/3) sudah menjangkau 191.632.198 orang (92,01 persen untuk dosis pertama, 146.577.204 orang untuk dosis kedua (70,38 persen) dan 11.466.461 orang dosis ketiga (booster).
Indonesia menargetkan vaksinasi bagi sekitar 208,7 juta penduduk (80 persen) untuk menciptakan kekebalan komunitas (herd immunity) bagi seluruh rakyatnya.
“Ya mudah-mudahan umat muslim bisa mudik lagi, menunaikan ibadah Ramadhan dan merayakan Hari Raya Ied dalam situasi normal, “ demikian ujarnya.
Namun semuanya terpulang dari kepatuhan masyarakat terhadap prokes, dan juga ada tidaknya varian baru lagi yang bisa saja muncul sewaktu-waktu.
Tetap patuhi prokes, Covid-19 belum usai.




