ANOMAN OBONG (II)

Dewi Sinta siap-siap menerima cincin dari Anoman, sebagai tanda bahwa memang dia utusan Prabu Rama.

SEDARI dulu Anoman memang terkenal jujur, gemi nastiti (hemat-teliti) dan emoh mbathi (cari untung). Sebagai duta negara dia berhak terbang pakai Garuda kelas eksekutif dan menginap di hotel bintang lima. Tapi ksatria dari Kendalisada ini memilih terbang saja, dan nanti di Ngalengka sana kalau bisa cukup nginep di mesjid. Coba wayang lain, pasti diambil uang tiketnya, tapi nanti cukup naik kapal dan nginepnya di hotel kelas melati yang sering dirazia Operasi Pekat oleh Satpol PP.

Demikianlah, hanya dengan membawa tas bekas seminar dan berjaket eks kampanye Pilpres tempo hari, Anoman terbang langsung ke negeri Ngalengka. Berdasarkan penelusuran peta lewat Google Map, Anoman sudah tahu lokasi Taman Argasoka, ternyata dekat warung sate-tengkleng Pak Amat. Menurut Wikipedia edisi Bahasa Indonesia, di sinilah Dewi Sinta tinggal, jika tak mau disebut disekap oleh Prabu Dasamuka.

“Sinta, kapan kamu mau menerima cintaku?” rayu Prabu Dasamuka sebagaimana terlihat di Youtube.

“Biar sampai bejating jaman (baca: kiamat) Dewi Sinta tak sudi jadi istrimu. Cintaku hanya untuk kangmas Prabu Rama,” jawab Dewi Sinta dalam Youtube pula.

Lho, jika sudah ada di Youtube, berarti benar dong Dewi Sinta memang berada dalam kekuasaan Prabu Dasamuka. Kenapa musti pakai riset ke lapangan segala, kan bikin boros anggaran saja. Atau jangan-jangan Prabu Rama sudah mengikuti pola pikir anggota DPR? Data sudah begitu ombyokan di internet, kenapa musti studi banding?

Bukan begitu, jaman now ini banyak wayang yang suka bikin kabar hoax! Konten disetting pakai film editan, seolah-olah kejadian itu benar adanya. Kan repot bila itu benar terjadi, sedangkan di dunia wayang belum berlalu UU ITE. Sedangkan mau diblokir dengan alasan keamanan nasional, banyak yang protes termasuk Ombudsman.

Menjelang subuh pukul 03.30 waktu Ngalengkadiraja, Anoman sudah memasuki wilayah negeri Prabu Dasamuka tanpa terdeteksi oleh radar. Begitulah kehebatan ajian Wungkal Bener milik Anoman, bisa bikin wayang mlebu tanpa konangan, jajan tanpa mbayar.

            “Hai, siapa itu?” tegur Satpam yang baru ronda sambil membawa senter.

“Mas Anoman, warga RT sebelah, mau ke mesjid.” Jawab Anoman pendek.

Karena Anoman memang pakai peci, Satpam pun menjadi tak curiga, apa lagi dari berbagai mesjid sudah terdengar tarkhin bersautan.  Lebih-lebih Satpam ini dulunya pensiunan guru, jadi usianya sudah di atas 60 tahun, sehingga orang menyebut nama Anoman, dengarnya Mas Iman.

Habis subuhan di mesjid, Anoman segera terbang ke Taman Argasoka, langsung menclok di witing nagasari (pohon nagasari). Dari jendela berkaca terlihat perempuan cantik bertubuh kurus kering, gelung rusak wor kisma (sanggul berantakan terkena oleh debu), sementara kang iga-iga kaeksi (sampai tulang iga pun nampak). Mungkin inilah Dewi Sinta yang tengah dicarinya.

“Permisi! Maaf numpang tanya, apa ibu Dewi Persik, eh Dewi Sinta?” ujar Anoman setelah ketok jendela beberapa kali, untung-untungan.

“Lho kok tahu, Anda siapa?” jawab yang ada di dalam.

“Hamba Anoman utusan Prabu Rama. Boleh masuk, nanti hamba jelaskan semuanya.”

“Silakan saja, tapi aku nggak pegang kuncinya.”

Bagi Anoman, soal pintu yang digembok bukan masalah berarti. Sebab lewat ilmu kanuragan (kesaktian), dia bisa masuk ke rumah orang hanya melalui sinar. Maka beberapa detik kemudian utusan Pancawati itu telah berada di dalam ruang Taman Argasoka. Dia makin yakin bahwa wanita yang dicarinya memang Dewi Sinta. Wayangnya memang cantik, sayang kurus kering. Coba gemuk sedikit seperti Nunung Srimulat, pastilah semakin seksi. Tapi jangan pakai narkoba, lho ya!

Anoman segera cerita panjang lebar. Dewi Sinta kaget, ternyata Prabu Rama sekarang  sudah menjadi pemimpin di Pancawati, kapan pilkadanya? Namun demikian dia tak langsung percaya omongan Anoman. Dewi Sinta ingin bukti otentik, apa tanda bahwa Anoman utusan Pancawati. Jika sekedar KTP, gara-gara dimark up oleh Setya Novanto jadi tanpa chip lagi, akurasi datanya dipertanyakan.

“Maaf ibu Dewi Sinta, Prabu Rama menitipkan ini buat ibu.” Kata Anoman sambil menyerahkan cincin seberat 25 gram sampai mirip baut ditambah Pin emas 10 gram yang sempat dimasalahkan kalangan politisi.

“Terima kasih, ternyata kau memang utusan Prabu Rama sejati,” jawab Dewi Sinta, itu cincin perkawinan dulu, belinya di toko emas “Mangga Mas” Mantilidirja.

Anoman mengisahkan segala penderitaan Prabu Rama setelah 2 kali Lebaran terpisahkan dari istri. Oleh Patih Sugriwa disarankan main WA saja untuk mengusir sepi pakai HP android, tapi tidak mau. Alasannya, takut emosi, lalu komentar macem-macem di medsos. Ironis kan, raja Pancawati masak dipenjara karena ujaran kebencian.

Belum juga selesai Anoman berkisah, sejumlah Satpam Taman Argasoka sudah gedor-gedor pintu. Anoman tak bisa lagi kabur, sehingga langsung ditangkap dengan mudah. Jika mau melawan bisa saja, tapi sengaja Anoman mengalah dengan harapan bis dipertemukan dengan Prabu Dasamuka yang kata mitra koalisinya merupakan tokoh santun dan ahli manata kata.

“Apa lagi ini, ada kera tapi kok pakai peci segala, macam ledek ketek (topeng monyet) saja.” Kata Satpam agak heran atas penampilan maling hasil tangkepannya.

“Ngapain kamu masuk ke taman keputren? Di sana tak ada pisang dan timun, tahu!” gertak Satpam yang lain.

Anoman memilih diam, tak menjawab segala pertanyaan standar Satpam Ngalengka ini. Tapi rupanya insiden di Taman Argasoka pagi itu sudah sampai di telinga Prabu Dasamuka, sehingga maling aguna (pencuri sakti) diminta dihadapkan langsung padanya, tak perlu diproses perbal di kepolisian dulu. Bagi Anoman itu memang lebih baik, sebab dia ingin tahu seperti apa sih tampang Dasamuka, sehigga bernafsu sekali untuk “madu bersyariah” alias poligami dengan Dewi Sinta. (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement