Apa Itu “Sontoloyo”?

Di Rembang (Jateng) penggembala bebek juga disebut sontoloyo. Padahal dia pemersatu bangsa bebek sebenarnya.

BEBERAPA hari ini kosakata sontoloyo kembali ngetop di media masa. Gara-garanya, Presiden Jokowi melontarkan kata itu ketika geregetan melihat politisi yang tak beradab setiap menjelang Pileg dan Pilpres. Apa saja digoreng-goreng sehingga mengancam persatuan bangsa. Padahal dalam konteks lain, sontoloyo justru simbol persatuan dunia satwa yang namanya bebek wek wek wekkk…….

Istilah sontoloyo sudah dikenal lama oleh masyarakat Jawa, bahkan sebelum era kemerdekaan. Bung Karno pun pernah menggunakan istilah itu dalam artikelnya, yang dimuat di majalah Pandji Islam tahun 1940. Dalam buku “Di bawah bendera revolusi” (halaman 493-500), lewat artikel berjudul “Islam Sontoloyo” Bung Karno menyoroti orang Islam yang sengaja mengakal-akali hukum agama untuk keuntungan pribadi. Istilah Bung Karno, “mau mengabui mata Tuhan!”

Di jaman itu masih jaman penjajahan Belanda. Tiras majalah tak sebanyak sekarang, jaman itu belum juga ada televisi dan internet apalagi medsos, sehingga artikel Bung Karno yang sensitif itu tak berdampak ke publik. Jaman now, jangan coba-coba; pasti jadi bahan gorengan yang bisa menghasilkan demo berjilid-jilid.

Satu kata memang bisa menjadi sejuta makna, tergantung di  mana kata-kata itu diucapkan. Istilah bajingan misalnya, bagi orang kebanyakan, itu bermakna kasar, karena sebagai umpatan. Tapi bagi orang Jateng dan DIY, bajingan justri mengandung makna tukang gerobak, yang dengan setia mengawal sapi atau kuda membawa muatan. Tapi di Solo dan Yogya, bajingan yang secara umum sebagai makian, diperhalus menjadi: bajindul atau bajinguk.

            Begitu juga dengan istilah sontoloyo. Di daerah Kabupaten Rembang, sontoloyo justru bermakna positif. Dia adalah penggembala bebek, yang dengan pakai kudung (caping) dan tongkat di tangan, dia menggiring bebek-bebeknya ke sawah untuk mencari  makan. Dialah pelopor persatuan yang sebenarnya. Bagaimana tidak? Dengan keahliannya dia bisa mempersatukan berpuluh-puluh bangsa bebek itu untuk berbaris secara teratur menuju sawah atau kali. Maka dengarkanlah lagu anak-anak tahun 1960-an, “Wek wek wek wek wek wek, itik berjalan ramai, wek wek wek wek itik menuju sungai…..

            Di koran Pos Kota lain lagi. Rubrik “Nah Ini Dia” di halaman I kanan bawah beberapa hari ini sedang “mengeksploitir” istilah sontoloyo untuk diselewengkan menjadi bermakna lain dari yang lain. Lelaki impoten atau lemah syahwat, oleh Gunarso TS penulisnya disebut sebagai: “sonto”-nya yang loyo. Maklum, kolom itu memang cerita berbau seks yang dikemas secara humor.

Demikianlah, istilah sontoloyo paling banyak memang menjadi mainan para politisi. Misalnya Kepala BIN (Badan Intelejen Negara) Syamsir Siregar di era kabinet SBY. Ketika ada menteri berkata lain di Istana dan DPR soal kenaikan harga BBM, maka Kepala BIN itu nyeletuk, “Itu menteri sontoloyo.”

Begitu juga ketika SBY sambut presiden baru, Jokowi, di 20 Oktober 2014, sejumlah pengamat politik mempertanyakan kapasitas SBY kala itu, yang sudah bukan lagi Presiden RI. Maka politisi Demokrat Ruhut Sitompul mengomelinya dengan kata-kata, “Itu pengamat sontoloyo, yang tak paham dengan budaya orang Timur.”

Mbah Amien Rais mantan Ketua MPR juga pernah bilang “pemimpin sontoloyo”. Siapa yang dimaksud tak pernah jelas, tapi menurut mantan Ketum PAN tersebut, pemimpin sontoloyo adalah sosok yang mementingkan asing dan aseng, yang janji-janjinya tak ditepati. Siapa dia, Mbah Amien minta diraba-raba sendiri. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

Advertisement