BAGI Indonesia nama Mulyadi sangat ombyokan. Tapi ketika polisi mencari indentitas asli terduga teroris bernama Mulyadi, belum juga ditemukan. Banyak tokoh penting bernama Mulyadi, tapi Mulyadi yang dari Cikarang Bekasi, sebetulnya apa yang kau cari? Sudah enak jadi pedagang parfum, kenapa belagu ikutan jadi teroris segala? Akhirnya, nyawa pun wasalam tiada guna dan tanpa bermakna.
Nama adalah bagian dari doa. Maka orangtua selalu memberi nama-nama bagus pada anaknya, dengan harapan si bayi kelak bernasib bagus. Jika orangtua memberi nama Mulyadi, pasti berharap putra lelakinya itu kelak akan menjadi manusia yang mulia dan adi. Kehidupannya serba dimuliakan Allah Swt, berguna bagi nusa, bangsa, agama, orangtua dan mertua.
Karenanya tak mengherankan, di negeri ini Mulyadi merupakan nama pasaran. Lihat di buku telpon PT Telkom, ombyokan orang bernama Mulyadi. Banyak tokoh terkenal yang bernama itu. Misalnya Mulyadi Djojomartono, Mensos era Presiden Sukarno (1959-1962). KSAL Laksamana Mulyadi (1966-1969), juga Mulyadi (Ang Tjing Siang) pemain bulutangkis yang ikut memperkuat tim Thomas Cup tahun 1961, 1964, 1967, dan 1970. Dan kini yang sedang naik daun karena banyak gebrakannya, adalah Dedy Mulyadi Bupati Purwakarta.
Mereka adalah nama-nama harum, yang punya andil besar bagi negara. Tapi Mulyadi yang jadi terduga teroris dan akhirnya mati ditembak polisi di Kebayoran Baru, justru mau bikin kacau negara. Mulyadi yang jadi teroris ini, sungguh mengkhianati harapan orangtua. Sudah tenang menjadi pedagang kosmetik di pertokoan Roxy Bekasi, kena pengaruh paham radikal lewat internet (lone wolf) sehingga mau dijadikan teroris segala.
Jika orangtuanya masih hidup, pasti mereka malu anak hasil produksinya malah memusuhi negaranya sendiri. Mulyadi sepertinya tidak mau tahu bagaimana para pendahulu kita mendirikan negara. Tinggal mengisi kemerdekaan itu sesuai profesi masing-masing, kok tidak mau.
Inilah perlunya anak muda belajar sejarah bangsa, sehingga tahu perjalanan para pendahulu kita berjuang demi kemerdekaan. Tapi sayangnya, generasi sekarang baru belajar sejarah setelah SMP. Pelajaran sejarah yang di zaman Orde Lama dan Orde Baru diajarkan sejak SD, di era reformasi justru dihapuskan. Bahkan P-4 pun ditiadakan, sehingga generasi muda semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila, karena memang tak memahaminya.
Mulyadi yang ber-KTP Cikarang ini, rupanya bagian dari generasi muda masa kini yang tak paham Pancasila, bahkan memusuhinya. Karena otak sudah tercuci paham radikal, baginya Indonesia baru bener bilamana mengacu sistem khilafah. Padahal di negara-negara Timur Tengah sendiri, sistem itu banyak ditentang.
Beberapa hari lalu Mulyadi si anak Cikarang bikin ulah, menusuk dua anggota Brimob yang sedang salat Isya di mesjid Faletehan, Kebayoran Baru. Kedua polisi itu berhasil diselamatkan. Tapi si Mulyadi ini, karena melawan petugas ketika hendak ditangkap, akhirnya didor dan mati nyekengkeng.
Polisi saat menelisik jatidiri si terduga teroris, mengalami kesulitan. Sebab di alamat yang sesuai KTP almarhum, nama Mulyadi begitu banyak. Dalam satu RW da 5 orang yang bernama Mulyadi. Nama sama, tapi data-datanya berbeda. Dinas Kependudukan Bekasi pun menduga, Mulyadi teroris ini punya KTP ganda.
Tahun 1969 ada film karya Asrul Sani berjudul: Apa yang kau cari Palupi?, dibintangi oleh Farida Syuman dan Bambang Irawan. Ini kisah tentang istri yang tidak tahan hidup menderita bersama suami miskin. Sedangkan Mulyadi ini, rela mengorbankan nyawanya demi cita-citanya yang konyol. Sebetulnya apa yang kau cari Mulyadi? Mending makan korned, ketimbang diracuni internet. (Cantrik Metaram)





