Arab Lirik Pesawat Tempur China

Pesawat tempur generasi kelima buatan China Shenyang J-31 yang diduga sejumlah pengamat copy paste F-35 Super Lighgtning II AS dilirik Arab Saudi.

ARAB Saudi sedang menjajagi kemungkinan pembelian pesawat tempur buatan China untuk menggantikan skadron udara yang semula mengoperasikan pesawat-pesawat produksi Amerika Serikat atau Eropa.

Lembaga kajian isu intelijen Timur Tengah Tactical Report IDRW melaporkan (18/6), Riyadh sedang mempertimbangkan pembelian pesawat tempur J-31 dan J-10 C buatan China untuk menggantikan 80 unit Panavia Tornado produksi bersama Inggeris, Itali dan Jerman yang dioperasikannya serta 281 unit Eagle F-15 buatan AS dari berbagai varian.

Chengdu atau Naga Sakti J-10 adalah pesawat tempur segala cuaca dari generasi keempat yang mulai diterbangkan pada 1998, bermesin tunggal, sayap delta, berawak tunggal dan kecepatan sampai 1,8 Mach.

Pesawat tempur generasi keempat a.l. sudah menerapkan sistem fly-by-wire yang terintegrasi, terbuat dari material koamaposit, sistem avionic digital dan pelacak inframerah,

Pesawat generasi kelima sudah menerapkan sistem informatika yang memadukan antara awak dengan pendukung di darat, penggunaan helm pintar dan perbaikan kinerja mesin dan kemampuan manuver lebih baik dari generasi terdahulu.

Sedangkan Shenyang atau Rajawali J-31 adalah pesawat multi peran generasi kelima yang berkualifikasi siluman, bermesin ganda, terbang perdana 31 Des. 2012 dan berkecepatan 1.8 Mach.

Namun demikian IDRW memperkirakan, tentu rencana pembelin pesawat-pesawat tempur buatan China itu berpotensi menuai sanksi dari AS yang sejauh ini mendominasi pengadaan alutsista bagi Arab Saudi.

Sejumlah alutsista buatan  China sejauh ini juga dioperasikan oleh negara-negara Islam seperti Pakistan dan di kawasan Timteng seperti Mesir, Uni Arab Emirat .

Saudi sejauh ini juga sudah mengoperasikan sekitar 300 unit pesawat drone atau nirawak CH-4 butan China yang berfungsi sebagai pesawat pengintai atau pembawa rudal untuk mendukung rezim petahana Yaman melawan kubu milisi etnis Houthi.

Saudi juga pernah membeli 50 unit rudal anti kapal induk Dong Feng DF-3 pada 1986 dan 54 unit meriam swagerak dan sejumlah pesawat niraawak lainnya.

Menurut laporan Institut Riset Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) China pada 2022 tercatat sebagai negara pengekspor persenjataan global terbesar ke keempat setelah AS, Rusia dan  Perancis yang berkontribusi bagi 76 persen eskpor persenjataan dunia.

Perdagangan senjata yang dijuluki “merchant o death” cetak duit karena di tengah situasi yang tidak menentu, setiap negara berupaya menyiapkan diri untuk berperang.

Si vis pacem para bellum. Pecinta damai harus siap untuk berperang.

 

 

 

 

Advertisement