
PROSESI penghormatan terakhir untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya dimulai, Jumat (4/7) waktu setempat, sampai hari pemakamannya, 9 Juli.
Pemakaman ini sempat tertunda 125 hari atau sekitar empat bulan sejak ia gugur dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel, 28 Februari lalu.
Rangkaian prosesi berkabung, seperti dilaporkan kompas.com (4/7) dijadwalkan berlangsung di sejumlah kota di Iran dan juga Irak, sebelum jenazah Khamenei dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, 9 Juli .
Penundaan panjang ini memicu pertanyaan besar di kalangan publik: Apa yang menyebabkan pemakaman tertunda begitu lama? Dan bagaimana pihak berwenang Iran “mengawetkan” jenazah sang pemimpin tetap utuh selama lebih dari empat bulan?
Secara resmi, pemerintah Iran tidak memberikan rincian mengenai lokasi maupun metode yang digunakan untuk menyimpan jenazah Khamenei.
Namun, pihak otoritas menegaskan bahwa jenazah ditangani dengan penghormatan penuh sebagaimana dilansir Hindustan Times.
“Jenazah telah dijaga dengan penghormatan dan perhatian tertinggi, sesuai standar Islam dan hukum. Jenazah tidak dimakamkan maupun ditempatkan di tempat penitipan di mana pun,” ujar Iman Attarzadeh, jubir Markas Khusus Pemakaman dan Penguburan Ali Khamenei, dikutip dari Euronews.
Meskipun syariat Islam umumnya mewajibkan jenazah untuk segera dimakamkan, para ahli menyebutkan bahwa jenazah Khamenei kemungkinan besar disimpan dalam fasilitas pendingin khusus.
Pakar penanggulangan terorisme, Omar Mohammed, menjelaskan kepada Fox News Digital bahwa langkah ini diambil karena hukum Islam melarang penggunaan bahan kimia untuk pembalseman.
“Mekanismenya hampir pasti menggunakan penyimpanan dingin berpendingin, bukan pembalseman (pengawetan kimia), karena Islam melarang pengawetan kimia,” kata Omar Mohammed.
Dia menambahkan bahwa dalam Syiah, aturan tersebut dapat disesuaikan jika menghadapi situasi yang mendesak.
“Hukum Syiah mengizinkan penundaan pemakaman dan pengawetan dengan suhu dingin dalam kasus-kasus luar biasa, dan pengecualian ulama untuk seorang Pemimpin Tertinggi sangat mudah didapatkan,” lanjutnya.
Ditunda akibat perang
Alasan penundaan Penundaan upacara pemakaman Khamenei terjadi akibat situasi keamanan dan keselamatan yang tidak menentu selama perang antara Iran dan AS.
Konflik bersenjata tersebut baru berakhir bulan lalu setelah kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai sementara.
Menurut laporan Reuters, peti mati Khamenei pertama kali diperlihatkan, Kamis (2/7) malam di hadapan kerumunan pendukung yang menangis dan meratap sembari melemparkan bunga ke arah tandu jenazah.
Persiapan pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei terus dikebut di Teheran menjelang Sabtu (4/7/2026).
Otoritas Iran memperkirakan upacara resmi tersebut bakal dihadiri jutaan pelayat dan sejumlah tamu negara asing. Jenazah Khamenei tiba di kompleks Grand Mosalla, Teheran, pada Jumat (3/7/2026), menjelang prosesi pemakaman resminya.
Gugur di usia 86 tahun
Khamenei gugur di usia 86 tahun akibat serangan AS dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di pusat Ibu Kota Iran pada hari pertama perang di Timur Tengah.
Jenazahnya akan disemayamkan selama tiga hari di kompleks peribadaan raksasa Grand Mosalla, yang kini telah dihiasi spanduk-spanduk berisi foto dan kutipan Khamenei. Jenazah kerabatnya yang turut tewas dalam serangan itu juga akan ditampilkan di tengah prosesi.
Pada Kamis (2/7), para pekerja tampak sibuk mempersiapkan kompleks Grand Mosalla, sebagaimana dilansir AFP.
Sementara itu, tim keamanan menghentikan kendaraan yang melintas dan warga yang penasaran mengamati dari kejauhan.
“Kami sedang menanam bunga dan menyiram semak-semak untuk upacara perpisahan bagi pemimpin kami yang syahid,” kata seorang pekerja, Hossein Moghadassi.
“Orang-orang akan datang dari seluruh penjuru Iran. Akan ada kerumunan yang sangat besar,” tambahnya. Diperkirakan sekitar 20 juta orang akan menghadiri pemakaman pemimpin Iran tersebut.
Pemakaman Khamenei, yang sempat tertunda karena perang yang terus berkecamuk, akhirnya akan digelar di kota kelahirannya Marshhad 9 Juli di tengah gencatan senjata antara Iran dan AS.
Kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai untuk menghentikan konflik.
(Euronews/AFP/kompas.com/ns)



