AKSI bersih-bersih di kalangan istana pemerintah monarki absolut Kerajaan Arab Saudi agaknya masih terus bergulir, dan kini gilirannya berupa pemenjaraan terhadap 11 pangeran yang dinilai membangkang.
Situs pemerintah Arab Saudi, Sabq. org Sabtu (6/1) menyebutkan, para pangeran tersebut dijebloskan ke penjara Al-hayer di selatan ibukota, Riyadh yang dikelola intelijen karena mereka tidak menggubris peringatan agar menghentikan protes.
Para pangeran saat kejadian sedang berkumpul di istana bersejarah, Qasr al-Hokm untuk menggalang protes terkait pengetatan anggaran yang diberlakukan pemerintah termasuk subsidi pembayaran tagihan air dan listrik.
Perintah penangkapan disampaikan pada satuan pengaman istana setelah mereka menolak meninggalkan Qasr al-Hokm, namun dalam situs tersebut tidak diperinci nama-nama pangeran yang ditahan kecuali inisial pemimpinnya, SAS.
Sabq.org menyatakan, setiap orang, tidak peduli siapa pun, sama di hadapan hukum, dan yang tidak mau mengikuti peraturan dan perintah harus mempertanggungjawabkan tindakannya.
Sebelumnya pemerintah Arab Saudi (4/11) menanglapi kalangan dalam kerajaan termasuk para sepupu putera mahkota Pangeran Mohammed bin Salman yakni Pangeran Miteb bin Abdullah dan Pangeran Alwaleed bin Talal atas tuduhan korupsi.
Gebrakan anti korupsi dengan menersangkakan sejumlah kalangan dalam istana Kerajaan Arab Saudi, penguasa pengawal kota suci umat Islam, Mekkah, cukup mengejutkan.
Tidak tanggung-tanggung, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman menyiduk 11 pangeran, 38 mantan dan wakil menteri serta pengusaha terkemuka yang diduga terlibat berbagai kasus rasuah di negeri itu.
Penangkapan Pangeran Alwaleed, pimpinan Kingdom Holding yang memiliki saham News Corp., Hotel Savoi dan Twitter serta dijuluki sebagai salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, AS cukup mengagetkan dunia keuangan internasional.
Para tersangka dicokok oleh komisi anti rasuah (semacam KPK) pimpinan Raja Salman yang dibentuk pekan lalu dalam upaya menyelamatkan dana masyarakat dan mengadili para koruptor yang memanfaatkan kekuasaan mereka.
Aksi KPK ala Arab Saudi itu, menurut kantor berita setempat, SPA, disambut baik oleh Lembaga Ulama Senior yang menilai, pemberantasan korupsi adalah kepentingan nasional dan perintah syariah Islam.
Era now yang mengedepankan transparansi atau keterbukaan memang tidak bisa dicegah, penguasa mana pun yang menutup diri terhadap perubahan, apalagi yang diwarnai persekongkolan, cepat atau lambat, pasti digilas zaman. (AP/AFP/Reuters/ns)
.





