Usia Panjang Bermanfaat

Mbah Petruk dari Blitar, konon berusia 200 tahun.

SETELAH mbah Gotho dari Sragen, diberitakan Mbah Petruk dari Blitar (Jatim) juga berumur panjang jauh melebuhi usia manusia rata-rata abad ini. Bila Mbah Gotho berusia 146 tahun, Mbah Petruk konon berusia 200 tahun. Sayangnya rujukan bukti usia panjang kakek dari Malang ini kurang mendukung. Namun yang pasti, usia panjang menjadi harapan banyak orang. Kalau bisa, jadilah manusia panjang umur yang bermafaat. Jangan panjang umur tapi sangat merugikan bagi lingkungannya. Pasti akan dikutuk orang: ndang matia wae Mbah!

Ketika janin telah berusia 4 bulan itu, maka roh akan ditiupkan pada umat-Nya yang baru. Dalam luhmahfudz pun dicatat data-datanya, dapat jatah umur berapa, meninggal kapan dan di mana. Termasuk juga soal rejeki dan jodohnya. Semuanya takkan meleset sedikitpun. Umat yang diciptakan-Nya tinggal menjalani saja, sehingga ada ungkapan: titah mung saderma nglakoni (umat tinggal menjalani saja).

Meski sudah dijatah masing-masing usianya, dalam setiap peristiwa ulang tahun selalu muncul doa: semoga panjang umur dan murah rejeki. Padahal didoakan atau tidak, jika jatah usianya memang segitu, juga takkan bertambah karenanya. Sebab dalam Qur’an sudah disebutkan, “Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (Surat Yunus: 49)

Tapi hadits Nabi juga mengatakan, silaturahmi itu memperpanjang rejeki dan usia. Soal rejeki, mudah dipahami. Sebab dengan banyak sosialisasi dengan lingkungannya, peluang datangnya rejeki baru itu akan muncul. Misalnya sedang nganggur, ketika ketemu teman lama akan memberitahukan, “Di sana ada lowongan kerja, coba melamar ke sana.” Nah, ketika melamar dan diterima, rejeki pun akan tiba.

Tapi soal banyak silaturahmi akan memperpanjang usia, bagaimana penjelasannya? Ini harus diterangkan oleh para ahli agama, dengan rujukan dalil ini dan itu. Tapi dalam guyonan warung kopi, jawaban model Srimulat akan muncul, “Karena ketika malaikat Izroil datang hendak mencabut nyawa, orangnya sedang pergi silaturahmi.” Jelas ini logika asal-asalan belaka. Memangnya malaikat itu dibatasi oleh ruang dan waktu seperti umat manusia?

Manusia tempo dulu diceritakan berusia panjang-panjang, terutama kalangan nabi. Maka disebutkan, Nabi Adam 1000 tahun, Nabi Nuh 950 tahun, Nabi Idris 865 tahun, Nabi Hud 464 tahun, Nabi Ibrahim 200 tahun, Nabi Ishak 180 tahun. Secara umum, manusia abad ini berusia pendek-pendek, berkisar antara 60-hingga 80 tahun. Jika lebih dari 63 tahun sebagaimana usia Nabi Muhammad SAW, orang akan menyebutkan: dapat bonus.

Jika usia bisa diperpanjang dengan bayaran, orang akan berusaha memperpanjangnya, betapapun mahal. Jika itu terjadi, niscaya akan dimonopoli kalangan konglomerat, yang uangnya tak berseri dan tinggal mengguntingi. Orang miskin akan mengikuti jatahnya saja. Bahkan si miskin yang putuas asa, banyak yang mati memperpendek usia, yang istilahnya bunuh diri.

Orang yang berusia panjang sebagaimana Mbah Gotho di Sragen dan Mbah Petruk dari Dusun Gedangan, Gandusari, Blitar, sungguh bikin takjub. Bahkan jika punya keluarga berumur panjang, juga akan menjadi kebanggaan anak cucu. Maka ketika sekelompok orang berceloteh usia almarhum kakek neneknya, si Polan dengan bangganya bercerita, “Kakekku dulu sampai usia 90 tahun. Itu pun matinya karena dibunuh…..”

Jika orang mendapat usia umur panjang, itu sebuah karunia Illahi yang harus disyukuri. Tak semua mendapatkannya. Tapi usia panjang hendaklah yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, bagi bangsa dan negaranya. Jika usia panjang malah bikin rusak lingkungan dan muka bumi, pasti akan dikutuk orang. “Modara wae kowe mbah (mampuslah kamu Mbah),” kata orang yang sangat dirugikan oleh kelakuan si panjang umur. Ini yang namanya tuwa tuwas (usia panjang tapi bikin celaka) kata orang Jawa. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement