AS dan Iran Lanjutkan Perang atau Berunding?

Rudal-rudal Iran akan menyalak lagi jika perundingan ke-2 AS Iran yang digelar pekan ini urung dilakukan. (wikipedia commons/hawijpolo)

SISA dua pekan periode gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran Jarum bakal berakhir, Rabu malam (22/4) waktu Teheran.

Alih-alih menyiapkan perundingan kedua di Islamabad yang dimediasi oleh Pakistan dan dijadwalkan pekan ini, kedua belah pihak saling ancam untuk perang.
Presiden AS Donald Trump telah memberikan peringatan keras, sebagaimana dilansir AFP, Selasa (21/4).

Jika kesepakatan tidak tercapai hingga batas waktu habis, dia mengisyaratkan serangan militer akan kembali dimulai.

“Kami setuju untuk hadir (di perundingan Pakistan). Namun, jika gencatan senjata berakhir, maka banyak bom akan mulai meledak,” tegas Trump dalam wawancaranya dengan PBS News.

Gedung Putih melaporkan, Wakil Presiden JD Vance sudah bersiap terbang ke Islamabad, Pakistan, untuk mengupayakan putaran kedua perundingan damai.

Namun, respons dari Teheran justru dingin. Teheran menuduh AS sengaja merusak suasana perundingan dengan memblokade pelabuhan Iran dan menyita kapal selama masa gencatan senjata.

Pantang menyerah
Gllorifikasi perang terus dikumandangkan keda belah pihak. Ketua Parlemen Iran Moh. Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah pada tekanan Trump.
Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” tulis Ghalibaf melalui

akun X miliknya.
Dia bahkan memberikan sinyal ancaman baru jika perang kembali pecah.
“Dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan

perang,” ujar Ghalibaf.
Ketegangan tidak hanya terjadi di meja diplomasi, tapi juga di Selat Hormuz, perairan vital bagi 20 persen minyak dunia.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman akan menembak kapal mana pun yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Meski diblokade ketat oleh AS, laporan dari Lloyd’s List menyebutkan ada sekitar 20 “kapal bayangan” Iran yang nekat menerobos barisan kapal perang AS.

Trump sendiri berkeras bahwa blokade tersebut telah menghancurkan perekonomian Iran dan tidak akan dilepas sebelum ada kesepakatan nuklir yang baru.

Salah satu pemicu buntu-nya kesepakatan adalah soal cadangan uranium Iran. Trump mengeklaim Iran sudah setuju menyerahkan stok uranium mereka, namun hal ini langsung dibantah mentah-mentah oleh Teheran.

“Menyerahkan uranium tidak pernah dimunculkan sebagai opsi dalam pembicaraan,” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil.

Eskalasi ketegangan juga terjadi terkait Selat Hormuz. Iran membuka selat sempit lokasi lalu-lalang utama tanker pengangkut minyak mentah global, namun menutupnya kembali setelah AS juga memblokadenya dan melarang kapal berbendera apa pun melintas.

Jadi perang atau tidak, bagai menghitung suara tokek: perang, tidak, perang, tidak! (AFP/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here