
ALLAH masih menyayangi umatnya dengan mencegah sikap angkara murka Presiden AS Donald Trump yang mendadak membatalkan rencana penyerangan ke Iran, Kamis (20/6) beberapa jam sebelum dilancarkan.
Trump kali ini agaknya mau mendengar bisikan Kongres AS untuk membatalkan serangan, kemungkinan dengan alasan, jika itu dipaksakan, bakal menyulut eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan menyeret negara-negara lainnya.
Kalangan penentu kebijakan di AS sendiri terlibat pro-kontra terhadap rencana memerangi Iran. Yang ngotot dan setuju antara lain Menlu Mike Pompeo, Penasehat Keamanan Nasional John Bolton dan Direktur Dinas Rahasia AS (CIA) Gina Haspel.
Sebaliknya, Kongres AS yang juga dimintai sikapnya terkait isu Iran, mendesak Trump agar ikut meredakan ketegangan dan lebih berhati-hati demi mengantisipasi berbagai reaksi dunia yang akan muncul.
Kemarahan Trump dipicu jatuhnya pesawat nirawak RQ-4 Global Hawk berharga 110 juta dollar AS (sekitar Rp1,5 triliun lebih) di dekat Selat Hormus akibat tembakan rudal Iran (20/6). Iran mengklaim, drone itu melanggar wilayahnya, sebaliknya AS berdalih, drone berada di zona internasional.
Ketegangan antara AS dan Iran memang sudah dimulai sejak penarikan diri sepihak AS dalam kesepakatan program nuklir Iran bersama Jerman, Perancis, Inggeris, China dan Rusia pada 2015 dibarengi sanksi embargo ekspor minyak Iran.
Sejak itu, ancaman saling serang dilontarkann kedua pihak. AS menganggap pasukan Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris, sebaliknya, Iran juga menyatakan, pasukan AS yang ditempatkan di
Timur Tengah adalah kumpulan teroris.
Ketegangan semakin meningkat akibat terjadinya tiga insiden terpisah penembakan kapal tanker beberapa waktu lalu yang sejauh ini belum diketahui secara pasti pelakunya.
Insiden pertama, penyerangan terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi dan masing-masing satu milik UEA dan Norwegia di Teluk Oman dan lepas pantai UEA (13/6) dan insiden kedua terhadap tanker UEA dan Jepang saat melewati Selat Hormus (12/5).
Komando Operasi Militer AS di Timur Tengah dalam pernyataannya menyebutkan, AS akan menjaga kepentingannya di kawasan Timur Tengah, walau berdalih, berperang melawan Iran bukan pilihan strategis AS.
AS kemudian mengirimkan gugus tugas tempur termasuk kapal induk pengangkut puluhan pesawat tempur USS Abraham Lincoln, kapal pendarat amfibi, pembom strategis B-52 dan pasukan tambahan di sejumlah negara mitra di Timur Tengah.
JJika pecah konflik, pengamat memperkirakan, AS dengan keunggulan mesin perangnya akan melancarkan serangan ke target-target militer terbatas, misalnya dengan rudal-rudal jelajah tomahawk seperti saat Perang Teluk melawan Irak, 1990.
Sebaliknya, Iran lebih mengandalkan rudal-rudal anti pesawat udara, baik sistem S-200 dan S-300 yang dipasok Rusia dan juga rudal Khordad-3 dan Khordad-4 yang terbukti mampu menjatuhkan drone AS yang terbilang canggih.
Perimbangan militer
Situs globalfirepower mencatat, AB Iran di posisi ke-21 militer dunia didukung 534 ribu personil tetap dan 400 ribu cadangan, sedang AD-nya memiliki sekitar 1.600 tank ex-Uni Soviet seperti T-72, T-62 dan T-54 dan T-55 yang relatif lawas. Anggaran militer Iran tercatat 14,5 milyar dollar AS (sekitar Rp565 triliun).
AL Iran cukup tangguh, diperkuat 33 kapal selam, beberapa unit kelas Kilo buatan Rusia dan sebagian lagi buatan lokal, ditambah tiga korvet, 230 kapal patroli dan 10 penyapu ranjau.
Sedangkan matra udara, Iran memiliki 137 pesawat tempur termasuk Mig-29, Sukhoi SU-24 dan SU-25 ex-Rusia, F-1 Mirage, Perancis, F-5 Tiger dan F-14 Tomcat buatan AS peninggalan era rezim Shah Iran Reza Pahlavi saat Iran masih berhubungan baik dengan AS pada era ‘70-an.
Di tengah isolasi Barat terutama AS pasca tergulingnya Shah Pahlavi oleh Ayatollah Khomeini pada 1979, Iran masih mampu membuat rudal-rudal balistik berjangkauan 300 sampai 2.500 Km, sementara sistem pertahanan udaranya dilengkapi rudal-rudal S-300 ex-Rusia.
Dibandingkan AS sebagai kekuatan militer terbesar dunia, dengan anggaran militer sekitar 682 milyar dollar AS (sekitar Rp7.600 triliun), didukung lebih 1,35 juta tentara tetap, tentu saja kekuatan Iran tidak sebanding.
Mesin perang AS antara lain diperkuat 8.725 tank, ribuan rudal-rudal dan artileri, 13.500 kapal terbang berbagai jenis termasuk pengebom, penyergap dan lainnya, belum termasuk 6.400 helikopter, sedangkan AL-nya dengan 12 kapal induk, ratusan kapal perang dan kapal selam.
Namun yang cemas atas terjadinya eskalasi konflik antara AS dan Iran bukan hanya kedua negara yang berseteru tersebut, tetapi juga bagian dunia lainnya terutama yang bergantung pada ekspor atau konsumen minyak.
Konflik AS dan Iran, dicemaskan bisa melonjakkan harga minyak global yang kini pada kisaran 70 dollar per barrel. Pakar minyak asal Kuwait, Kamel al-Harami yang dikutip AFP (17/5) lalu memprediksi, jika jalur sekitar sepertiga pasokan minyak dunia di Selat Hormus ditutup Iran, harga emas hitam bisa sampai 100 dollar AS per barrel.
Jika itu terjadi, menurut dia, berarti suplai minyak 15 juta barel per hari yang diproduksi negara-negara penghasil minyak utama yakni Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, Qatar dan Juga Iran bakal terhenti.
Dampaknya, lanjut al-Harami, yang terkena pukulan telak tidak saja produsen minyak, tetapi juga negara-negara industri seperti China, Jepang dan Korea Selatan dan negara-negara berkembang yang tidak memiliki sumber minyak.
Kekacauan pasokan minyak pernah terjadi saat perang Irak – Iran antara 1980 – 1988 dimana sekitar 500 kapal tanker pengangkut minyak yang meliwati Selat Hormuz rusak karena ditembaki.
Iran kembali mengancam akan menutup Selat Hormus diantara Teluk Persia dan Teluk Oman dengan lebar 51 Km akibat keputusan Presiden AS Donald Trump mencabut keringanan sanksi bagi negara-negara pembeli minyak dari Iran.
Pintu masih terbuka untuk kembali ke meja perundingan, demi menghindari korban nyawa manusia dan kekacauan ekonomi akibat perang yang juga tidak akan menuntaskan persoalan.(AP/AFP/Reuters/ns)




