AS dan Korsel Beda Visi Soal Ancaman Korut

AS dan Korsel berbeda visi soal koordinasi menangkal potensi serangan rudal berkepala nuklir Korut.

KOREA Selatan dan mitra strategisnya, Amerik Serikat berbeda pandangan terkait upaya untuk menangkal potensi serangan nuklir dari tetangganya yang juga bangsa serumpun, Korea Utara.

Perbedaan visi tersebut tercermin dari keterangan berbeda yang dilontarkan Presiden AS Joe Biden dan mitra kerjanya, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol terkait perencanaan dan latihan bersama yang melibatkan asset nuklir AS.

Kepada Kantor Berita Yon Hap, Presiden Yoon mengatakan, AS dan negaranya sedang berdiskusi terkait perencanaan da kemungkinan latihan bersama melibatkan aset nuklir guna menangkal serangan rudal berkepala nuklir milik Korut.

“Yang memiliki senjata nuklir memang AS, tetapi soal perencanaan, pembagian informasi, latihan dan pelatihan, harus dilakukan bersama oleh kedua negara, “ tandas Presiden Yoon pada harian Chosun Ibo (3/1).

Sebaliknya Presiden Biden beberapa saat setelah pernyataan Presden Yoon, mengemukakan pihaknya tidak memberikan lampu hijau terkait rencana latihan nuklir bersama. “Tidak,” tegasnya.

Korsel, terutama ibukotanya,  Seoul yang hanya berjarak puluhan kilometer dari perbatasan Korut, sangat cemas atas kemampuan lawannya yang terus diasah melalui uji-uji peluncuran rudal dan senjata nuklirya.

Korsel dan Korut yang terlibat Perang Korea antara 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953 sampai saat ini masih dalam status perang dan diperkirakan Korut memiliki sekitar 40-an hulu ledak nuklir yang bisa diluncurkan  dengan rudal-rudalnya.

Di tengah kecaman dan sanksi oleh AS dan pihak Barat serta kesulitan ekonomi, Korut terus melakukan peluncuran rudal-rudal balistiknya yang diklaim bis mencapai Pantai Timur AS.

Tidak dibahas

Guna meredam perbedaan pendapat antara kedua pemimpin tersebut, Kantor Kepresidenan Korsel mengeluarkan pernyataan bahwa isu nuklir tidak dibahas oleh mereka.

“Yang dilakukan adalah perencanaan kegiatan sebagai respons terkoodinasi yang efektif melalui sejumlah skenario yang  mungkin terjadi termasuk penggunaan nuklir oleh Korut.

“Latihan nuklir bersama adalah istilah yang digunakan diantaraa adua kekuatan nuklir, “ ucap Sekretaris Senior Urusan Pers Kim Eun-hye. Maksudnya, Korsel bukan lah negara yang memiliki aset nuklir.

Sementara, senada dengan pernyataan Kantor Kepresidenan Korsel, Jubir Dewan Keamanan Nasional Korsel (NSC) mengemukakan, kedua negara sudah membentuk sebuah tim untuk berkordinasi.

Selain terus melakukan peluncuran rudal-rudal yang mampu mengangkut kepala nuklir, Korut juga terus memprovokasi lawannya tearanyar dengan mengirimkan sejumlah drone kedalam wilayah udara Korsel.

Bara perseteruan tak pernah padam di Semenanjung Korea, entah sampai kapan!  (AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement