AS tempatkan Rudal di Jerman, Rusia meradang

AS akan menempatkan rudal jarak jauh Tomahawk yang bisa diluncurkan dari situs di darat, udara dan laut di Jerman untuk mengantisipasi potensi ancaman Rusia. Aroma Perang Dingin mulai terasa.

RUSIA protes atas keputusan Amerika Serikat dalam KTT Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang digelar di Washington, Rabu (10/7) lalu untuk menempatkan rudal jarak jauhnya di Jerman untuk mengantisipsi potensi ancaman Rusia.

Gedung Putih beralasan, penempatan persenjataan jarak jauh termasuk rudal jelajah Tomahawk di Eropa bertujuan untuk sebagai fungsi pencegah (deterrent) mengantisipasi potensi serangan dari Rusia.

Menurut catatan rudal jelajah segala cuaca BGM-109 Tomahawk yang dikembangkan oleh General Electric sejak 1970-an mampu menjangkau target berjarak sampai 2.500 km dengan keceatan subsonik 880 Km per jam.

Spesifikasinya a.l. berat 1.600 kg dengan booster, panjang 6,25 M, diameter 0,52 M, hulu ledak 450 Kg dan harga per unit 569.000 dolar AS (sekitar Rp9,3 miliar per unit) yang saat ini baru dioperasikan oleh AS dan Inggeris dan pernah digunakan AS dalam Perang Teluk melawan Irak pada 1991.

Pihak Rusia sendiri menanggapi secara skeptis rencana AS itu seperti yang disampaikan oleh Jubir Kremlin Dimitri Peshkov.

“Kita sedang melangkah dengan pasti menuju era Perang Dingin kembali, “ ujar Peshkov seraya menambahkan: “Semua atribut Perang Dingin dengan konfrontasi langsung bakal kembali.”

Sedangkan Dubes Rusia untuk Jerman memperingatkan akan memburuknya hubungan antara Moskwa dan Berlin jika pengerahan tetap dilakukan.

“Langkah yang merusak dan berbahaya ini tidak berkontribusi pada keamanan Jerman atau Eropa secara keseluruhan,” kata Sergei Nechayev.

Sebaliknya, walau menuai kritik di kalangan Partai Sosial Demokrat (PSD), Kanselir Olaf Scholz membela keputusan tersebut dan menganggapnya sebagai langkah pencegahan dan pengamanan perdamaian yang penting pada waktu yang tepat.

AS menyatakan bahwa pengerahan episodik rudal jarak jauh ke Jerman akan dimulai pada tahun 2026, dengan rencana penempatan secara permanen di masa depan.

Menhan Jerman Boris Pistorius menyoroti adanya kesenjangan serius dalam kemampuan militer negara itu, sementara beberapa anggota parlemen Jerman memperingatkan potensi dimulainya perlombaan senjata yang baru.

Penempatan rudal AS di Jerman membawa kembali kenangan menyakitkan era  Perang Dingin lalu  di mana penempatan rudal balistik Pershing II di Jerman Barat pada 1980-an memicu protes luas.

Setelah Perang Dingin pada 1991, AS mengurangi penempatan jumlah rudal di Eropa, namun nvasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 membuat negara-negara NATO bergegas meningkatkan lagi pertahanan mereka.

Jika 31 negara anggota NATO terus berupaya menyatukan langkahnya, Rusia dan China juga makin merapat, tercermin dari latgab kekuatan laut yang sedang digelar sejak awal sampai pertengahan Juli ini di sekitar kawasan Zhanjiang, Guandong, China Selatan untuk menghadapi ancaman keamanan maritim.

Perlombaan senjata tak terelakkan, saling berbalasan jika satu blok memulainya. (berbagai sumber/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here