
JAKARTA – (KBKNEWS) – 21/10 – DALAM kepercayaan sebagian masyrakat di Indonesia, jika orang dikabarkan mati, nyatanya masih hidup, adalah pertanda bahwa usianya bakal panjang, apalagi jika dikabarkan berkali-kali. Entahlah, benar tidaknya kepercayaan ini.
Berkali-kali Pemimpin tertiggi Korea Utara Kim Jong Un, teranyar pertengahan Oktober ini dikabarkan meninggal.
Rumor terbaru kali ini bermula dilontarkan oleh Wanjun Xie, seorang pembangkang rezim Partai Komunis China, yang kini berdomisili di Amerika Serikat (AS).
Tanpa menyertakan bukti, Xie menuding Kim mengalami pendarahan otak parah, dilarikan ke sebuah rumah sakit di Beijing karena kurangnya fasilitas medis di Korea Utara, lalu meninggal dunia.
Jenazahnya diklaim telah dikembalikan secara rahasia untuk ditutupi oleh rezim yang berkuasa.
Namun, tudingan tersebut langsung terbantahkan. Surat kabar pemerintah, Rodong Sinmun, menerbitkan foto Kim Jong Un tengah meninjau pameran pakaian dan alas kaki bersama putrinya, Kim Ju Ae, serta rombongan pejabat negara.
Foto-foto yang dirilis Rodong Sinmun pada Senin (19/10) tersebut menunjukkan, sang diktator pria berusia 42 tahun itu tampak dalam kondisi sangat bugar.
Pejabat intelijen Korea Selatan, seperti dilaporkan Yonhap, menegaskan bahwa mereka tidak mendengar informasi apa pun yang membenarkan laporan kematian Kim Jong Un.
Selain itu, jika krisis kesehatan benar-benar terjadi, biasanya akan muncul tanda-tanda yang bocor hingga ke luar perbatasan, seperti peningkatan aktivitas diplomatik atau kasak-kusuk dari jaringan pembelot di perbatasan China.
Tidak ada pula tanda-tanda pengetatan perbatasan oleh China untuk mengantisipasi ketidakstabilan arus pengungsi.
Isu rutin
Bagi para pengamat Korea Utara, desas-desus kematian Kim Jong Un seakan sudah menjadi rutinitas, sebagaimana dilansir BBC, Selasa (20/10).
Faktor utama yang membuat rumor ini selalu berhasil menyedot perhatian dan terasa masuk akal adalah rekam jejak kesehatan Kim Jong Un yang berisiko tinggi.
Ia diketahui mengalami obesitas dan merupakan perokok berat. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan telah berulang kali menyebutkan, gaya hidup tersebut membuat Kim berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular.
Terlebih lagi, penyakit jantung dan stroke adalah riwayat genetik di keluarga Kim Jong Un. Hal serupa juga pernah membuat dunia geger pada tahun 2020. Saat itu, seorang pembelot Korea Utara berprofil tinggi menyebarkan klaim bahwa dirinya 99 persen yakin Kim Jong Un telah meninggal dunia setelah menjalani operasi kardiovaskular.
Tak lama berselang, Kim Jong Un muncul ke publik dan klaim tersebut runtuh dengan sendirinya. Faktor kedua yang memicu masifnya perhatian pada setiap rumor kematian Kim Jong Un adalah ketidakpastian suksesi dan dampaknya terhadap geopolitik global.
Transisi, abu-abu
Meski Korea Utara telah dikuasai dinasti Kim selama tiga generasi, transisi kali ini jauh lebih abu-abu.
Berbeda dengan Kim Il Sung yang menghabiskan puluhan tahun mempersiapkan Kim Jong Il, naiknya Kim Jong Un ke tampuk kekuasaan berlangsung sangat cepat dan rentan setelah ayahnya terkena stroke pada 2008.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Kim Jong Un untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan menyingkirkan rivalnya.
Kini, pihak intelijen meyakini bahwa Presiden Kim tengah mempersiapkan putrinya yang sering muncul di acara militer tingkat tinggi sebagai penerus.
Namun, sang putri diperkirakan baru berusia 13 tahun, statusnya belum diresmikan, dan Korea Utara tidak pernah dipimpin oleh seorang perempuan.
Usia muda ini membuatnya sangat rentan dalam pusaran perebutan kekuasaan. Jika Kim Jong Un tiba-tiba mangkat, pertaruhannya sangat besar. Pertanyaan tentang siapa yang akan mengendalikan senjata nuklir, potensi kelompok garis keras untuk bertindak agresif, hingga krisis pengungsi di perbatasan China menjadi ancaman nyata.
Bikin waswas China, Korsel dan AS
Situasi tidak menentu tidak hanya membuat waswas China dan Korea Selatan, tetapi juga Amerika Serikat (AS) yang menempatkan sekitar 28.000 tentaranya di Korea Selatan.
Karena tingginya pertaruhan tersebut, intelijen dunia terus mengawasi Kim Jong Un secara ketat.
Sayangnya, Korea Utara adalah “lubang hitam” informasi. Hanya segelintir lingkaran dalam yang memiliki akses ke sang pemimpin.
Bahkan, badan intelijen sering kali kesulitan mendapatkan data yang valid. Kebanyakan informasi yang keluar kerap dilabeli sebagai dugaan yang belum terverifikasi, bukan sebuah fakta pasti.
Ditambah lagi, rezim Pyongyang diduga kuat sering sengaja menebar kebingungan dan informasi yang menyesatkan untuk menutupi kondisi sebenarnya di dalam negeri.
Situasi tertutup inilah yang menjadi lahan subur bagi spekulasi dan hoaks. Sangat kecil kemungkinan Wanjun Xie benar-benar mendapatkan kabar luar biasa yang justru luput dari pantauan badan intelijen resmi.
Apalagi, Xie juga pernah menyebarkan hoaks serupa terkait kematian Presiden China, Xi Jinping. Entah sekadar mencari sensasi atau punya motif lain, Xie dipastikan bukanlah orang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir, yang memanfaatkan kelamnya tabir informasi seputar rezim Korut. (kompas.com/ns)




