AS Kembali Serang Iran

Dua pesawat tempur Fighting Falcon F-16 AS. AS dilaporkan kembali menyerang Iran setelah sebulan jeda. Sasaran serangan, Senin dinihari (31/8) adalah P. Larak di Selat Hormuz. (31/8)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 31/8 – AMERIKA Serikat kembali melancarkan serangan atas Iran, Senin (31/8) dini hari, setelah sempat jeda selama sebulan dengan membombardir salah satu pulau kecil di Selat Hormuz.


“Hari ini, pasukan AS menyerang dua peluncur (rudal) milik Iran di Pulau Larak  (di Selat Homuz-red),” ujar juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), seperti dikutip dari AFP.

Pulau Larak, salah satu pulau kecil yang berada di Selat Hormuz cukup strategis posisinya bagi Iran yang telah menempatkan pangkalan militer dan situs rudalnya sejak puluhan tahun lalu.

CENTCOM menyebutkan, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) saat itu terpantau sedang bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah Selat Hormuz.”

Serangan tersebut terjadi tak lama setelah konflik antara AS dan Iran memasuki bulan keenam, dan pada saat ketegangan sebenarnya mulai mereda.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump lebih mengutamakan “perang ekonomi” dibandingkan serangan militer terhadap Iran.

Iran telah memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya dilalui oleh seperlima pasokan minyak dunia, sejak AS dan Israel memulai perang melalui serangan udara masif terhadap Iran pada 28 Februari.

“Pekan lalu, CENTCOM telah merampungkan pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di selat tersebut,” kata Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS.

“Pasukan AS terus memantau wilayah tersebut dengan cermat dan siap melindungi kelancaran arus perdagangan melalui jalur perairan vital ini,” ujarnya lagi.

Menurut catatan, Selat Hormuz merupakan alur padat pelayaran tanker pengangkut sekitar seperlima minyak mentah global yang diproduksi oleh negara-negara di kawasan ini.

Belum membuahkan hasil

Upaya diplomatik yang dipelopori oleh para mediator, termasuk Pakistan dan Qatar, telah dilakukan selama berbulan-bulan untuk mengakhiri perang namun tidak membuahkan hasil.

Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada April dan nota kesepahaman menuju perjanjian damai final telah ditandatangani pada Juni, belum ada kesepakatan yang tercapai. Washington sejak saat itu telah menyatakan “perang ekonomi” terhadap Teheran.

Blokade tandingan angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran mempersempit pasokan bahan bakar di Iran di tengah kekurangan produksi dalam negeri, seiring dengan langkah AS yang meningkatkan tekanan terhadap musuhnya tersebut.

Gencatan senjata pada April memang mengakhiri pertempuran paling sengit, namun serangan sporadis, terutama di sekitar Selat Hormuz, telah meredupkan prospek tercapainya perjanjian damai final.

Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (38/8), Senator AS Jack Reed mengkritik Presiden Donald Trump terkait perang tersebut.

“Enam bulan berlalu, tidak ada satu pun tujuan yang tercapai,” ujar Reed, anggota senior Senat berasal dari Partai Demokrat di Komisi Pertahanan.

“Bahkan, ia telah melemahkan posisi kita secara signifikan, baik di Timur Tengah maupun di mata dunia,” ia menambahkan.

Prospek berakhirnya Konflik Iran melawan koalisi AS dan

 Israel terus mengalami pasang-surut di tengah retorika perdamaian yang dilontarkan kedua belah pihak dan yang juga diselingi saling serang. (CNN/Reuters/ns)


Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here