Guncangan gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 mengakibatkan kehancuran parah pada Masjid Al Istiqomah di Ronting, Kabupaten Manggarai Timur. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi warga pesisir setempat, di mana kesedihan atas runtuhnya masjid kebanggaan tersebut bahkan melampaui rasa kehilangan terhadap rumah tinggal pribadi mereka yang ikut terdampak bencana.
Bagi para nelayan Ronting, kubah dan menara Masjid Al Istiqomah merupakan ikon desa sekaligus penanda daratan utama yang menyambut kepulangan mereka dari laut lepas. Selain sebagai sarana ibadah ritual, masjid ini memegang peranan penting sebagai pusat kehidupan sosial dan musyawarah warga lintas generasi untuk mengambil berbagai keputusan krusial desa.
Fase pemulihan fisik sarana ibadah tersebut resmi dimulai pada Sabtu, 29 Agustus 2026, melalui kolaborasi antara lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa dan Kementerian PUPR. Sejumlah alat berat seperti ekskavator dan armada dump truck dikerahkan untuk membongkar, mengumpulkan, serta memindahkan tumpukan material reruntuhan beton dan kubah ke lokasi pembuangan khusus yang aman.
Sinergi ini turut mencakup pendampingan warga oleh Dompet Dhuafa, termasuk penyediaan musala darurat untuk menunjang aktivitas ibadah harian. Pembersihan dan sterilisasi tapak bangunan menjadi pijakan awal yang menumbuhkan optimisme masyarakat menuju tahapan peletakan batu pertama dan rekonstruksi Masjid Al Istiqomah agar kembali kokoh, aman, dan nyaman.








