AS Perkuat Perlindungan Pangkalannya di Timteng

AS tempatkan sistem pertahanan udara ufuk tinggi (Terminal High Altitude Area Defence-THAAD) untuk melindungi pangkalanya di Timteng dari kemungkinan serangan Iran (foto: stok istimewa).

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah memperkokoh sistem pertahanan udara dan rudal di kawasan Timur Tengah sebagai langkah antisipatif terhadap potensi serangan balasan dari Iran.

Seperti dilaporkan Anadolu Agency (3/2) , langkah AS ini dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran pecahnya konflik militer jika AS jadi melancarkan serangan ke Iran.

Sedangkan The Wall Street Journal mengutip pejabat pertahanan AS, Pentagon menyebutkan, AS juga mengerahkan sistem pertahanan rudal canggih, termasuk baterai Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan Patriot, ke sejumlah pangkalan strategis.

Tidak seperti sistem anti rudal lainnya yang menggunakan rudal pencegat untuk menjatuhkan sasaran udara bergerak milik musuh (pesawat, rudal jelajah lawan atau drone), THAAD yang merupakan Sistem Pertahanan Udara Ufuk Tinggi memanfaatkan benturan kinetik.

Sistem pertahanan udara THAAD yang stu setnya (teriri kendaraan dengan tabung peluncur, sistem pelacak dan komando buatan Lockheed Martin, AS yang dibandrol antara satu dan 1,6 miliar dollar AS (Rp16,7 triliun sampai Rp30 triliun) saat ini sudah dipasang di Arab Saudi,  Iseael, Jepang, Korea Selatan dan Rumania.

Sementara sistem rudal anti rudal Patriot juga dianggap “combat proven” atau terbukti dalam perang sesugguhnya, menangkal rudal-rudal darat ke darat Scud buatan Uni Soviet yang digunakan Irak menyeang Israel dalam Perang Teluk I (1990).

Lokasi pangkalan militer AS

AS sejauh ini menempatkan pangkalan militer yang tersebar di sejumlah negara Arab seperti di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar.

Seperti diberitaka AFP, para analis menilai pengerahan ini sebagai langkah signifikan, mengingat operasional THAAD sangat terbatas secara global dan membutuhkan dukungan logistik serta personel dalam jumlah besar.

Sejauh ini baru Israel, Jepang, Korea Selatan, dan Rumania yang sudah dipasang sistem pertahanan udara THAAD yag satu setnya (termasuk alat peluncur, 48 pucuk rudal dan sistem pengendali) dibandrol dari 1 miliar sampai 1,8 miliar dollar AS (antara Rp16,7 triliun sampai Rp30 triliun).

Di samping pertahanan darat, militer AS juga memperkuat kekuatan udara dan lautnya. Beberapa kapal perusak berpeluncur rudal disiagakan di wilayah strategis seperti Selat Hormuz, Laut Arab Utara, Laut Merah, hingga Mediterania Timur.

Kapal-kapal ini dilengkapi sistem pertahanan untuk menghadapi ancaman udara, termasuk rudal dan drone.

Dari sisi kekuatan udara, skuadron jet tempur F-15E telah dipindahkan ke Yordania. Sementara itu, jet tempur siluman F-35 dilaporkan telah bergerak dari Eropa menuju Timur Tengah dengan pendampingan pesawat peperangan elektronik.

Sejauh ini Presiden AS Donald Trump belum mengumumkan keputusan resmi terkait aksi militer terhadap Iran.

Namun, sejumlah pejabat menyatakan bahwa AS memiliki kapabilitas untuk melancarkan serangan terbatas menggunakan kekuatan yang sudah ditempatkan di kawasan.

Meski demikian, mereka memperingatkan bahwa serangan terbatas seperti itu berisiko memicu respons yang lebih besar dari Iran.“Serangan terbatas AS dapat memicu respons Iran yang lebih besar,” ujar seorang pejabat AS.

Pengalaman Konflik 12 Hari

Fokus militer AS pada penguatan pertahanan juga dipengaruhi oleh pengalaman dalam konflik selama 12 hari antara Iran dan Israel Juni tahun lalu.

Saat itu, AS turut membantu sistem pertahanan Israel dalam menghadapi gelombang serangan rudal dari Teheran. Di sisi lain, dalam operasi terpisah yang dikenal sebagai Midnight Hammer, pasukan AS dilaporkan menyerang tiga lokasi program nuklir Iran di Natanz, Isfahan dan Bordow.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang merupakan pusat komando udara utama AS di wilayah tersebut.

Meskipun sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem Patriot milik AS dan Qatar, Pentagon mengonfirmasi, hanya satu rudal menghantam pangkalan dan menyebabkan kerusakan ringan tanpa korban jiwa.

Potensi konflik terbuka AS dan Israel vs Iran dikhawatirkan akan menyeret negara lainnya, terutama China dan Rusia yang mendukung Iran. (AFP/Anadolu, WSJ/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here