AS Tinggal Pilih, Kurdi atau Turki

Tentara Wanita Peshmerga Kurdi. Kalau yang ini tentu banyak yang mendukung. Milisi Kurdi di Timur Laut Suriah yang berjuang melawan NIIS merasa dikhianati AS dan kini terancam dihancurkan Turki.

AMERIKA Serikat di tengah konflik Timur Tengah berada dalam posisi menguntungkan, tinggal pilih berpihak pada Turki, mitranya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atau mendukung Kurdi.

Turki sejak pekan lalu (9/10) memanfaatkan hengkangnya pasukan AS untuk menyerang milisi Kurdi di wilayah Suriah timur laut yang semula adalah mitra utama AS dalam memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Menurut catatan, etnis Kurdi bertebaran di wilayah tapal batas Irak, Iran, Suriah dan Turki, sedangkan bagi Turki mereka dianggap teroris dan kelompok separatis.

Tanpa dukungan pasukan AS, secara militer milisi Pasukan Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi sulit menghadapi mesin perang Turki yang mengerahkan jet-jet tempur dan tank-tank serta pasukan yang terlatih.

Di lingkup diplomatik, pelobi Turki di AS yang bernaung dalam Komite Pengara Nasional Turki Amerika (TASC) juga sedang bertarung dengan para pelobi Kurdi yang didukung Yahudi di bawah Komite Persoalan Publik AS dan Israel (AIPAC).

Bagi negara Yahudi, kehadiran Kurdi cukup penting sebagai kekuatan penyeimbang di tengah lawan-lawannya terutama Turki, Iran yang saling berebut pengaruh kawasan dan negara-negara Arab lainnya seperti Irak dan Suriah.

PM Israel Benyamin Netanyahu terang-terangan menyatakan dukungan atas berdirinya negara Kurdi dan negara Yahudi itu sejak dekade 1960-an sudah menjalin kerjasama intelijen, militer dan bisnis dengan Kurdi.

Sementara serangan Turki terhadap posisi Kurdi di Suriah timur laut mengacaukan perimbangan di lapangan termasuk kemungkinan bangkitnya NIIS yang sudah diperangi dan ditaklukkan bersama.

Turki, Iran dan Rusia berada di kubu rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang melawan Milisi Perlawanan Suriah (SDF) sejak gerakan Musim Semi Arab 2011 yang ditandai juga tergulingnya Hafez al-Assad, ayahnya yang berkuasa lebih 30 tahun.

Sebaliknya, AS dan juga suku Kurdi mendukung SDF, walau kemudian seluruh pihak yang berseteru di Suriah bergabung dalam koalisi melawan NIIS, sedangkan saat ini Kurdi merasa dikhianati karena ditinggal AS.

Turki sendiri selain untuk mengisolasi milisi Kurdi, berharap AS dan mitra-mitra negara anggota NATO di Uni Eropa mendukung serangan terhadap Kurdi dengan dalih hal itu bertujuan menciptakan koridor bagi 3,6 juta pengungsi Suriah.

Keruwetan geopolitik di Suriah bertambah parah, sementara korban tewas sudah lebih dari 300 ribu orang, belum lagi terciptanya jutaan pengungsi. (AP/AFP/ns)

Advertisement