Asa Baru Pecandu Sepak Bola

Pecinta sepak bola tanah air menaruh harapan besar pada kepemimpinan Erick Thohir di PSSI akan membawa persepakbolaan di negeri ini paling tidak merajai kawasan dan selanjutnya di level dunia.

PECINTA sepakbola di tanah air menggantungkan asa yang besar pada pengurus baru terpilih PSSI di bawah Erick Thohir yang juga menteri BUMN untuk memburu prestasi, minimal di Asia Tenggara

Dalam pemilihan yang digelar di Jakarta, Kamis (16/2) Erick Thohir menang telak dengan meraup 64 suara, sedangkan La Nyala Mattalitti (Ketua DPD dan Ketua KONI Jatim) 22 suara, sementara dua kandidat lainnya yakni Dony Setiabudi dan Arif Putra Wicaksono tidak berhasil mendulang satu suara pun.

Erick yang memimpin kepengurusan PSSI 2023 – 2027 dibantu oleh dua wakilnya yakni Menpora Zainudin Amali dan Ratu Tisha Destria yang di pengurusan lama menjabat sekjen PSSI.

Sedangkan di tubuh Komite Eksekutif (Exco) muncul nama-nama baru yakni Muhamad, Eko Setiawan, Rudi Julianto, Arya Mahendra Sinulingga, Kahirul Anwar dan Sumardji.

Selain memiliki kompetensi manajemen yang sudah teruji, sebagai birokrat maupun pemilik klub sepakbola Inter Milan (2013) dan kini Oxford United,  Erick juga mumpuni secara financial dan juga memiliki dukungan politik luas.

Paling tidak, seperti diharapkan oleh Presiden Jokowi, kesebelasan Indonesia di bawah bendera PSSI secara bertahap disegani di kawasan Asia Tenggara, lalu melangkah ke level Asia dan selanjutnya di ajang dunia.

Sangat miris memang, prestasi sepakbola yang menjadi olahraga paling populer di negeri berpenduduk 274 juta ini, yang digandrungi dan dimainkan mulai dari anak-anak sampai dewasa di pelosok-pelosok wilayah, di pesisir sampai pegunungan dan perkotaan.

Gonta-ganti pelatih, asing mau pun lokal, bongkar-pasang sistem setiap ganti kepengurusan, tetap miskin prestasi dan yang ramai hanya riuh-rendah dan ricuh antarpengurus diwarnai sejumlah skandal.

 Minim Prestasi

Di usianya yang menjelang seabad, PSSI yang lahir pada 1932 bisa dibilang tidak banyak, mungkin malah nyaris tidak ada prestasi fenomenal yang diukir timnas  di level regional sekali pun.

Satu-satunya yang sering dikenang adalah lolos dari kualifikasi zona Asia pada Olimpiade Melbourne 1956, itu pun dalam pertandingan leg kedua babak penyisihan dibantai Uni Soviet 0 – 4, setelah pada leg pertama mampu bermain imbang 0 – 0.

Di ajang even olahraga Asia Tenggara (Sea Games) yang digelar sejak 1959, Thailand menjuarainya  16 kali, disusul kesebelasan Malaysia enam kali, Myanmar lima kali, sedangkan dan Vietnam dan PSSI masing-masing dua kali (PSSI 1987 dan 1991).  

Sedang di ajang piala AFF sejak bernama Piala Tiger pada 1996, lalu menjadi Piala Suzuki sejak 2007 dan Piala AFF Mitsubihi Electric Cup sejak 2022, Thailand merajai turnamen ini dengan tujuh kali juara, diikuti Singapura empat kali Vietam dua kali dan Malaysia satu kali.

Sedangkan Timnas Garuda PSSI di ajang AF hanya puas sampai enam kali memasuiki babak final sebelum dikandaskan oleh sang juaranya.

Sepak bola Indonesia berada di ranking ke-152 FIFA, jauh di bawah negara sesama kawasan yakni Vietnam di ranking ke -96, Thailand 111 dan Filipina 134.

Persaingan di ajang sepak bola makin keras dan ketat akibat munculnya kekuatan baru sepak bola di Asia seperti Jepang, Korea Selatan  dan China, juga di Timur Tengah (a/l Arab Saudi).

Perjuangan pengurus baru untuk mengangkat pamor dan citra bangsa dan negara melalui ajang sepak bola sungguh berat, namun dengan bakat-bakat yang digali dari 274 juta penduduk dan kegandrungan penduduk pada sepak bola, tidak ada alasan jika RI tidak “tampil dan berjaya” di cabang olah-raga ini.

Rakyat menunggu hasil nyata kepemimpinan Erick Thohir!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement