
SIKAP tanggap pemerintah membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) terkait tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang dipimpin Menko Polhukam Mahfud MD diapresiasi, namun diharapkan peran lebih luas lagi untuk membenahi persepakbolaan nasional.
āDiharapkan tak hanya fokus pada pengungkapan Tragedi Kanjuruhan, karena hal itu terlalu remeh untuk tim sekaliber TGIPF, mengingat persoalan teknis dan fakta terkait peristiwa itu mudah diungkap dari banyaknya bukti dan saksi, ā kata Ketua Perhimpunan HAM Indonesia Julius Ibrani (5/10).
Julius meminta TGIPF berani menyentuh persoalan yang lebih makro dan sistemik terkait Tragedi Kanjuruhan. Investigasi secara holistik, kata Julius, perlu dilakukan agar TGIPF sanggup menelurkan rekomendasi yang komprehensif.
Ia memberi contoh, TGIPF diharapkan dapat memberi rekomendasi bagaimana negara harus bertanggung jawab terhadap korban Tragedi Kanjuruhan yang sedikitnya mencapai 131 orang dan lebih 300 luka-luka.
Di antara 131 orang itu, barangkali ada orangtua yang meninggalkan anaknya yatim piatu, atau tulang punggung bagi seorang anak, istri, suami, maupun orangtua. Yang juga memprihatinkan, 33 diantara korban, anak usia antara empat sampai 17 tahun.
Sebagian korban jiwa justeru penonton yang masih beada di tribun yang berdesak-desakan mencoba mencari jalan keluarĀ akibat tembakan gas air mata yang dilontarkan polisi sehingga selain mengalami sesak nafas, mereka juga saling himpit, dan banyak yang mengalami patah atau dislokasi tulang.
Selain melanggar Statuta Pasal 19B FIFA tentang larangan penggunaan gas air mata atau senjata api untuk mengurai penonton di lingkungan stadion, dipertanyakan pula jumlah penonton yang melebihi kapasitas stadion (sampai 45-ribu orang), padahal menurut, panitia, tiket terjual hanya 25.000 lembar.
Kesiapan Stadion Kanjuruhan untuk digunakan laga antara kesebelasan tuan rumah Arema FC melawan musuh bebuyutannya, Persebaya juga dipertanyakan, mengingat terbukti hanya dua dari 16 pintu yang terbuka, selebihnya terkunci, sehingga penonton yang hendak keluar saat terjadi kerusuhan, terpaksa menjebol ventilasi.
Lebih jauh Yulius mengingatkan, Ā yang harus dipikirkan oleh TGIPF karena mereka sudah berada di level nasional, bukan hanya teknis insiden, tetapi skema bentuk pertanggungjawaban negara.
Pembenahan Persepakbolaan Nasional
Rekomendasi pembenahan dari TGIPF juga diharapkan bisa menyentuh sistem tata kelola persepakbolaan Tanah Air yang carut-marut, tak hanya di level pengamanan pertandingan, melainkan juga industri persepakbolaan secara menyeluruh.
“Aspek yang lebih jauh lagi, kenapa jual tiket, kapasitasnya berapa, dijual berapa, selisihnya untuk apa, apakah ada politik anggaran ilegal,” kata Julius.
Presiden RI Joko Widodo sebelumnya juga sudah meminta pengungkapan Tragedi Kanjuruhan lebih cepat dari sebulan. Baginya, sudah banyak titik terang yang semestinya memudahkan TGIPF bekerja.
“Kan sudah disampaikan Menko Polhukam , beliau minta satu bulan. Tapi, saya minta secepat-cepatnya, karena ini barangnya kelihatan semua,” kata Jokowi di Malang, Rabu (5/10)
Tragedi Kanjuruhan, tragedi terbesar kedua sepanjang sejarah olahraga modern setelah laga antara Peru lawan Argentina di Lima, Peru, 24 Mei Ā 1964 yang menewaskan 318 orang dan 500 luka-luka.
Selain merusak citra persepakbolaan Indonesia di mata dunia, Tragedi Kanjuruhan juga menjadi sorotan internasional, ditandai dengan acara mengheningkan cipta di sebelumĀ laga di sejumlah negara dan juga ungkapan simpati dan belasungkawa dari berbagai pemimpin negara serta sejumlah tokoh, Ā bintang dan komunitas sepakbola.
Lebih dari itu, posisi RI selaku tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023 juga terancam dibatalkan oleh FIFA walau Presiden Jokowi langsung menghubungi Presiden FIFA untuk mengklarifikasi kejadian itu.
Pembenahan menyeluruh, manajemen persepakbolaan, penyelenggara, termasuk kelayakan stadion, kesiapan aparat keamanan dan perilaku penonton sudah waktunya dilakukan secara serius.
Last but not least, pengusutan, lalu sanksi harus dikenakan pada semua pihak yang bertanggung jawab dalam tragedi Kanjuruhan, agar ada efek jera dan kejadian ini tak terulang lagi.




