Asmat terkenal dengan ukiran dan budayanya yang unik, tapi kini membuka mata kita karena Kejadian Luar Biasa (KLB) kesehatan; Gizi Buruk dan Campak. KLB itu menewaskan 71 balita Suku Asmat.
Sontak, Suku Asmat menjadi perbincangan dunia. Tapi kali ini bukan karena keunikan ukirannya dan kekhasan budayanya. Namun Asmat, kali ini menjadi perbincangan, karena banyak anak-anak yang meninggal karena gizi buruk dan penyakit campak.
Supaya menjadi fokus penyelesaian masalah, Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengumumkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa Kesehatan, awal Januari 2018 lalu.
Disampaikan bahwa, informasi awal yang diterima Pusat Krisis Kesehatan terhadap bencana Kejadian Luar Biasa (KLB) ini, berasal dari 1 kecamatan, yaitu Agats, (08/01/2018). Ketika itu dilaporkan, telah terjadi KLB campak dan gizi buruk di Kampung Nakai, Distrik Pulau Tiga dan Kota Agats, Provinsi Papua. Sampai dengan (8/1/2018) tercatat 7 balita dirawat dengan gizi buruk di RSUD, 5 di antaranya juga positif campak.
Esoknya (9/1/2018) tim kesehatan juga mencatat kejadian serupa di Kampung Nakai, Distrik Pulau Tiga. Di sini dilaporkan, 2 balita meninggal dunia, dan di Kota Agats tercatat 12 Kasus campak dan 7 Kasus gizi buruk.
Menindak lanjuti hal tersebut, Tim Kesehatan melakukan inspeksi ke kampung-kampung di Distrik Basim untuk pengobatan campak, gizi kurang dan gizi buruk. Dalam data awal yang diperoleh informasi dari dinas kesehatan setempat jumlah korban dinyatakan sebanyak 9 Orang. Bahkan setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh angka kematian karena gizi buruk dan cacar di Asmat ini sangat fantastis.
Seperti disampaikan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek mengatakan, 71 orang meninggal akibat wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua.
“Update data, yang meninggal kurang lebih 71 orang,” kata Nila seusai rapat terbatas mengenai penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, Papua, di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (31/1/2018) seperti dilansir Kompas.
Sebagai langkah awal, tim kesehatan dari Kemenkes mulai melakukan imunisasi kepada sekitar 13.300 anak di Asmat. Namun, masih ada sejumlah distrik yang belum dapat dijangkau tim Kemenkes karena kendala geografis.
Sejak diberitakan kejadian luar biasa kesehatan di Asmat ini, semua memberikan respon untuk membantu. Semua eleman bangsa bahu membahu mengatasi krisis Asmat. Tim kesehatan TNI, Polri, perguruan tinggi, lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa semua menurunkan tim kesehatan ke Asmat. Tidak hanya itu, bantuan juga dikirim dalam bentuk makanan tambahan dan obat-obatan. Sehingga hanya dalam 1 bulan, status Kejadian Luar Biasa Kesehatan dicabut per 7 Februari 2018.
MENGENAL ASMAT
Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen atau motif ukirannya seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk Suku Asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut “Mbis”.
Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen atau motif yang menyerupai perahu atau Wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli Suku Asmat, seni ukir kayu merupakan perwujudan dari cara mereka melakukan ritual mengenang arwah para leluhurnya.
Wilayah yang ditinggali Suku Asmat ini telah menjadi Kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Asmat dengan 7 Kecamatan atau Distrik. Jumlah penduduk Kabupaten Asmat menurut BPS 2014, 94.227 jiwa.
Di wilayah ini hampir setiap hari hujan turun, dengan curah 3.000-4.000 milimeter/tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini, sehingga tidak mengherankan kalau permukaan tanah di sekitar Kabupaten Asmat sangat lembek dan berlumpur. Di daratan, jalan dibuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas tanah yang lembek. Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa lewat di jalan ini. Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset, terutama saat hujan.
Suku Asmat menganut Animisme, sampai dengan masuknya para misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
Suku Asmat sangat menghargai kehidupan, ini terlihat dari perhatian khusus suku ini di setiap proses kehidupan. Seperti saat kehamilan selama proses ini berlangsung mereka menjaga dengan baik agar ibu yang mengandung dapat melahirkan dengan selamat, penjagaan dilakukan oleh ibu kandung si-ibu dan ibu mertuanya.
Tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
Adat Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
Di Asmat mengukir adalah pekerjaan laki-laki. Jika laki-laki Asmat mengukir, maka tugas perempuan akan semakin bertambah. Perempuan harus terus menyediakan sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir.
Seperti dilansir buku “Yang Perkasa Yang Tertindas”, penulis Dewi Linggasari, 2004, menceritakan Potret Hidup Perempuan Asmat.
Dikatakannya, semakin lama laki-laki mengukir, semakin banyak pula makanan yang harus perempuan Asmat sediakan. Hal itu berarti akan semakin lelah perempuan Asmat ini, karena harus memangur, meramah, dan mengolah sagu, dan bahkan menjaring ikan, lebih tragisnya lagi, jika ukiran itu dijual, maka uangnya hanya untuk suami yang membuatnya, perempuan Asmat tidak menerima imbalan apapun untuk jerih payahnya menyediakan makanan. Padahal tanpa makanan itu, satu ukiranpun tidak akan selesai dibuat.
DISERANG PENYAKIT
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Asmat, Richard Mirino, SKM. Kes mengakui, selama 2016, pihaknya telah menangani 28 pasien penderita HIV-AIDS dengan tingkat sangat parah. Dan sampai saat ini, sebagian dari jumlah pasien tersebut telah meninggal dunia.
Sebagai sebuah Kabupaten baru yang tengah sibuk-sibuknya melakukan pembenahan infrastruktur dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan sebuah pemerintahan, berjangkitnya HIV/AIDS ini merupakan sebuah pukulan telak yang menyedot dana, waktu, tenaga dan pikiran dari segenap komponen masyarakat Asmat.
Belum selesai masalah HIV/AIDS tersebut, masalah gizi buruk dan campak pun muncul ke permukaan dan ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa, karena telah menewaskan 71 orang yang rata-rata balita. Sekali lagi, kejadian ini membuat Asmat menjadi perhatian semua pihak dan dunia. – [Maifil Eka Putra]





