WASHINGTON (KBK) – Autisme merupakan gangguan sosial yang sering disertai dengan reaksi normal terhadap rangsangan sensorik, tidak hanya disebabkan oleh defisit dalam perkembangan otak tapi juga beberapa faktor lain.
Hal itu diketahui setelah hasil studi yang diujicobakan kepada tikus yang dirilis ke publik, Kamis (9/6/2016).
Penelitian tersebut diterbitkan Jurnal Cell, Amerika Serikat, yang menyimpulkan gangguan autisme dipengaruhi beberapa aspek yang tidak saja karena cacat pada saraf otak, tapi juga di ditemukan di kaki dan bagian tubuh lain yang gagal mengkomunikasikan informasi sensorik ke otak.
Gejala tersebut menjadi sensitif terhadap sentuhan, kecemasan, dan kelainan sosial. Para ahli menduga gangguan tersebut karena pada saraf perifer.
Dalam studi tersebut, peneliti mempelajari efek dari mutasi gen yang terkait dengan autisme pada manusia.
Mereka merekayasa tikus dengan memutasikan gennya hanya untuk neuron sensorik perifer, yang mendeteksi rangsangan sentuhan ringan yang bekerja pada kulit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutasi perlu dilakukan untuk tikus dengan hipersensitivitas.
Seperti dikutip dari Xinhua, para peneliti selanjutnya memeriksa kecemasan dan interaksi sosial pada tikus menggunakan tes didirikan melihat berapa banyak tikus dihindari berada di tempat terbuka dan berapa banyak mereka berinteraksi dengan tikus mereka belum pernah terlihat sebelumnya.





