
GEDUNG-gedung perkantoran yang umumnya lebih baik higienitasnya dan para penghuninya lebih patuh pada protokol kesehatan ternyata malah menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.
Di DKI Jakarta saja, sampai Rabu (29/7), tercatat 90 gedung perkantoran dengan jumlah korban positif terpapar virus SARS- CoV-2 penyebab Covid-19 sebanyak 459 orang.
Dicemaskan jumlah korban terinfeksi SARS-CoV-2 di perkantoran jauh lebih banyak, karena bisa saja data-data rilnya disembuyikan, misalnya karena pemilik atau pengelola atau suatu instansi tidak ingin nama baik mereka tercemar atau alasan lain.
Rinciannya, di 20 klaster kementerian (139 kasus), 10 klaster di badan atau lembaga (25 kasus), di 34 klaster perkantoran di lingkup Pemda DKI Jakarta (141 kasus), satu klaster di lingkup kepolisian (empat kasus) dan 14 klaster di perkantoran swasta (92 kasus)
Dibanding pasar-pasar tradisional yang menjadi titik temu penjual dan pembeli dengan level kepatuhan pada protokol kesehatan relatif lebih rendah, gedung perkantoran dengan prasarana dan sarana lebih baik serta SDM yang terstruktur mestinya lebih aman dari penyebaran SARS-CoV-2.
Mungkin saja karyawan di perkantoran saat mereka ngerumpi dengan melepas masker setelah santap siang, bercengkerama satu dan lainnya, lupa jaga jarak atau sirkulasi udara di ruangan yang membuat virus mudah menyebar.
Selain itu, munculnya klaster baru di perkantoran, mungkin juga karena tidak semua pemilik atau pengelola bangunan mematuhi persyaratan okupansi ruang maksimal 50 persen di masa PSBB transisi saat ini.
Di sisi lain, kini penularan virus yang tidak lagi terbatas dari droplet, tetapi kini sudah bersifat airborne atau melayang di udara sebagai partikel mini droplet, lalu hinggap di permukaan benda-benda yang tersentuh korban. Â
Selain perkantoran, klaster Covid-19 juga muncul di asrama pendidikan seperti di Secapa TNI-AD di Bandung yang memapar 1.280 siswa dan pengajar, lebih seratus siswa di Denpom Cimahi, 25 dokter di RS Muwardi, Solo dan sejumlah santri di Pondok Pesantren di Jombang.
Di DKI Jakarta sendiri, tren rata-rata harian korban terpapar SARS-CoV-2Â meningkat dan pernah mencapai rekor sampai 404 orang.
Meningkatnya mobilitas warga yang semula jenuh tinggal di rumah selama PSBB lalu agaknya juga berkontribusi terhadap naiknya jumlah orang terpapar.
Selain ketegasan Pemda untuk mengenakan sanksi tegas bagi para pelanggar protokol kesehatan, agaknya dituntut gerakan bersama melawan Covid-19 dari ormas-ormas atau kelompok masyarakat.
Ancaman breakout atau puncak lonjakan Covid-19 sudah di depan mata, jangan tunggu sampai diri kita, keluarga atau orang-orang terdekat kita menjadi tumbalnya.
Â
Â




