
NEGERI ini tidak pernah lepas dari anomali, mulai dari hingar bingar celotehan politisi dan pejabat yang membuat geram publik karena ngawur membela diri atau kelompoknya, kini dihebohkan pembunuhan ABG terhadap anak kecil.
NF (15), siswi kelas IX SMP yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya diĀ Sawah Besar, Jakarta Pusat, tega-teganya membunuh anak tetangga, APA (5), Kamis (6/3) sore pukul 16 diduga karena terinspirasi film horor yang sering ditontonnya.
Kepada petugas Polsek Tamansari, Jakpus, pelaku mengaku pernah menyaksikan film Chucky yang mengisahkan tentang sosok boneka pembunuh yang populer di era ā80-an dan film āslender manākarakter tanpa wajah Ā bertangan banyak yang suka menculik anak-anak.
Sadisnya lagi, setelah mencekik dan mencemplungan APA dalam bak berisi air dan menyumpal wajahnya sehingga lemas, dan korban lalu meregang nyawa, NF meletakkan jasad APA di lemari pakaian sehingga orang tua korban yang mencari-cari tidak menemukannya.
Baru kemudian, keesokan harinya NF menyambangi polsek Taman Sari untuk menyeritakan aksi keji yang dilakukanya dan saat ditanya polisi, ia puas, merasa tidak bersalah dan menganggap perbuatannya hal yang “biasa-biasa” saja.
Lingkungan TKP menjadi geger setelah polisi yang semula meragukan pengakuan pelaku, benar-benar menemukan jasad APA d tumpukan pakaian di lemari rumah pelaku.
Polisi juga selain menemukan sejumlah barang bukti di rumah ibutiri pelaku yang menjadi TKP, juga sketsa tokoh Chucky dan Slender Man, ungkapan curhat buku catatan a.l.Ā berisi kata-kata horor dalam bahasa Inggeris seperti “keep calm and give me torture” (Tenang saja, siksa saya!) dan lainnya
Pendalaman kejiwaan terhadap polisi, menurut pakar psikologi forensik Reza Indragiri perlu dilakukan, agar jangan sampai terjadi keleliruan, memastikan pelaku sakit jiwa atau bahkan memuji sikapnya untuk melapor ke polisi.
Jika pelakunya orang dewasa, menurut dia, bisa saja akibat psikopat atau perasaan dihantui sesuatu, kalau masih anak-anak, bisa disebut callous unemotional atau sifat-sifat merasa tidak besalah, tanpa emosi yang merupakan bibit psikopat (bersifat egosentris dan asosial) atau skizoprenia (gangguan jiwa).
āJadi dia sengaja datang ke kantor polisi bukan karena sadar hukum, tetapi malah ingin menunjukkan ia mampu melakukan perbuatan (keji) itu. Jadi jangan salah, ā kata Reza.
Reza juga mengingatkan, agar tidak ada unsur balas dendam terhadap NR yang masih usia anak-anak Ā yang nantinya dibina di Lembaga Pembinaan Khusus Anak-anak (LPKA) dan dikenai masa hukuman separuh dari pasal yang dikenakan.
Kondisi di Rumah Pelaku
Sementara psikolog Tika Bisono mengemukakan, perlu didalami juga riwayat dan kondisi rumah pelaku, hubungan di rumah dengan ibu tirinya (ayah NF sudah cerai dengan ibu kandungnya), walau menurut tetangga, hubungan NF dengan ibu tirinya baik-baik saja.
Rumah korban berhadap-hadapan dengan rumah yang ditinggali pelaku, sementara ibu korban juga mundar-mandir ke rumah pelaku untuk membantu menjajakan kue-kue buatan ibu pelaku.
Selain pengawasan lebih ketat para orang tua terhadap anak-anaknya, termasuk tayangan TV yang ditonton, Tika juga berharap peran komunitas ketetanggaan, RT dan RW, Karang Taruna, forum pengajian, arisan , juga tak kalah penting lingkup sekolah khusus guru-guru untuk menciptakan rasa aman bagi anak-anak.
Banyak predator anak di sekeliling kita, mulai dari penculik, bandar narkoba, jajanan berbahaya, bahkan keluarga atau kerabat terdekat yang tiba-tiba berubah menjadi monster.
Peran lurah untuk Ā menanamkan literasi tentang keamanan anak-anak di lingkungannya secara rutin dan berkesinambungan dituntut, paling tidak meminimalisir agar anak-anak tidak dimangsa berbagai predator yang mengintipnya.
āSemua agaknya masih jauh panggang dari api, untuk sampai ke tingkat kesadaran yang diharapkan ā




