Awas! Varian Delta Plus

Walau angka penyebaran Covid-19 relatif menurun pekan ini, angka kematian terus melonjak, apalagi dibayang-bayangi munculnya varian baru Delta Plus (AY.1) yang lebih menular.

VARIAN baru Deta Plus (AY.1) hasil mutasi virus corona asal India (B.1.617.2.1) ditemukan di Jambi (dua kasus) dan di Mamuju, Sulawesi Barat (satu kasus) oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME).

Dalam program Kompas TV, Kamis (29/7), Direktur LBMW Prof Amin Subandrio menyebutkan, varian Delta Plus yang merupakan sub-garis keturunan varian Delta memiliki kemiripan walau mutasi proteinnya yang disebut K417N  memungkinkannya menginfeksi sel-sel sehat di paru-paru, jantung, ginjal dan usus besar.

Menurut catatan, mutasi K417N juga ditemukan pada varian Beta yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan (B1.351),  varian Gamma (P1) di Brasil serta pada beberapa sampel varian Alpha (B.117) asal  Inggris.

Otoritas Kesehatan India yang memasukkan Delta Plus termasuk dalam daftar “Variant of Interest” (yang harus diperhatikan) pada 11 Juni lalu, setelah itu dikonfirmasi sudah ditemukan di belasan negara seperti AS, Inggeris, Jepang, Rusia, Polandia, Rusia, Swiss dan Turki.

Menurut badan pengurutan genom Covid-19 Pemerintah India dalam CNN Health, varian Delta Plus menunjukkan beberapa sifat yang mengkhawatirkan seperti peningkatan penularan, pengikatan yang lebih kuat pada reseptor sel paru-paru, dan potensi pengurangan respons antibodi.

Sedangkan Prof. Amin menyatakan, gejala awal orang terpapar virus varian Delta Plus mirip dengan korban virus aslinya seperti sakit kepala, nyeri dada, diare, demam dan ruam kulit .

Sementara epidemiolog Unversitas Griffith, Australia, Dikcy Budiman berpendapat, secara alamiah virus bermutasi sesuai kondisi tertentu  sehingga tindakan yang harus dilakukan, tak hanya  mengendalikan virus yang ada, tapi juga mencegah munculnya varian baru.

Yang dikhawatirkan, menurut dia, sistem antbodi tubuh manusia tidak mengenali varian baru sehingga tidak bereaksi saat virus menginfeksi, namun mengenai vaksin, selama efikasi (khasiatnya) masih di atas 50 persen, tetap bsa digunakan.

Sedangkan Kabid Kesehatan Satgas Covid-19 Alex Ginting mengatakan,  screening terhadap pelaku perjalanan (traveler) melalui test swab (antigen atau PCR) perlu diperketat guna mencegah penyebaran varian baru.

Program pelacakan (tracing) juga harus menjangkau kota-kota dan wilayah di pedesaan, di tingkat mikro (RT/RW), sementara terkait makin banyaknya angka kematian pada pasien Isoman, ia berharap agar Isoman lebih baik dilakukan di pusat-pusat isolasi yang ditentukan.

Persoalannya pada pasien yang menjalani isoman di rumah, kondisi kesehatannya tidak terpantau, sehingga sebagian dilarikan ke fasilitas layanan kesehatan (RS) saat kondisinya sudah kritis.

Sebaliknya, di pusat-pusat isolasi, asupan gizi dan nutrisinya dipenuhi, begitu pula perkembangan kondisinya tertama tingkat saturasi oksigennya terpantau.

Angka Penyebaran Covid-19 di Jawa-Bali  umumnya turun akibat pembatasan mobilitas warga selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKMD) 3 sampai 25 Juli, dilanjutkan PPKM level 4 sampai 2 Agustus, namun peningkatan terjadi di sejumlah wilayah di luar Jawa Bali.

Lonjakan kasus harian Covid-19 antara lain dilaporkan terjadi di Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Papua Barat ditandai lonjakan keterisian tempat tidur di sejumlah RS dan kelangkaan oksigen.

Tingginya angka kematian (sekitar 2.000 per hari), positivity rate (di atas 25 persen, jauh dari batas lima persen yang ditetapkan WHO), juga  kematian pasien isoman (2.313 orang) serta munculnya varian baru merupakan titik-titik kritis yang dihadapi upaya penanganan Covid-19.

Tingkatkan terus 3T (testing, tracing dan treatment) serta jangan bosan-bosan untuk mematuhi prokes 5M .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement