Bab Al Mandab, Jalur Pasokan Energi Strategis di Timteng

JAKARTA – (KBKNEWS) – 129 – BAB Al Mandab, selat sempit di antara Yaman dan Djibouti walau berukuran tidak besar, jalur ini berperan penting bagi perdagangan dan pasokan energi dunia seperti Selat Hormuz.

CNNI Melaporkan, Sabtu (12/9) – Selat dengan panjang 30 sampai 80 km dan lebar 26 km  tersebut menjadi salah satu jalur keluar-masuk kapal dari Laut Merah menuju Teluk Aden dan Samudera Hindia.

Posisi strategis itu membuat Bab Al Mandab menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara, terutama Asia.

Peran Bab Al Mandab semakin penting setelah perang antara Iran dan Amerika Serikat membuat Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak di kawasan Teluk, terganggu.

Selama beberapa waktu terakhir, kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di sekitar Bab Al Mandab.

Kondisi itu membuat perusahaan pelayaran kembali menghindari jalur tersebut.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari. Jumlah itu setara dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Ketika jalur tersebut terganggu, Arab Saudi mulai mengalihkan pengiriman minyak mentah melalui jaringan pipa dari wilayah timur ke pantai barat negara itu. Minyak kemudian dikirim melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Angkut 3 juta bpd minyak mentah

Menurut salah satu pendiri perusahaan riset energi Energy Aspects, Richard Bronze, pengiriman minyak mentah dari Yanbu melalui Bab Al Mandab pernah mencapai sekitar 3 juta barel per hari.

“Bab Al Mandab selama ini menjadi jalur kehidupan. Hilangnya jalur tersebut menjadi peringatan bagi pasar minyak bahwa situasi saat ini tidak berkelanjutan,” kata Bronze seperti yang dikutip dari CNN, Sabtu (12/9).

Akan tetapi, ancaman Houthi membuat arus minyak Saudi yang melewati Bab Al Mandab turun drastis.

Bronze juga mengatakan pengiriman minyak mentah Saudi melalui selat tersebut turun menjadi sekitar 400 ribu barel per hari pada Agustus dan kini berada di level yang lebih rendah.
Jika kapal tidak dapat melewati selat tersebut, pengiriman minyak dan barang harus mengambil jalur yang jauh lebih panjang.

Salah satu alternatifnya adalah mengirim kapal melalui Terusan Suez menuju Laut Mediterania, kemudian menyusuri pesisir barat Afrika, melewati bagian selatan benua Afrika, sebelum kembali menuju Samudra Hindia dan Asia.

Rute tersebut dapat menambah waktu perjalanan hingga sekitar satu bulan.

Perjalanan yang lebih panjang berarti biaya bahan bakar, asuransi, dan operasional kapal ikut meningkat. Kondisi ini kemudian dapat mendorong kenaikan harga pengiriman dan komoditas yang diangkut.

Analis senior minyak mentah di perusahaan data komoditas Kpler, Johannes Rauball mengatakan gangguan pelayaran di Laut Merah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak.

“Tanpa ada penyelesaian cepat dan dengan gangguan yang diperkirakan terus berlangsung, kilang semakin terdorong untuk mengamankan pasokan minyak mentah tambahan. Hal ini mendorong harga minyak mentah semakin tinggi,” ujar Rauball. (CNNI/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here