Houthi Rebut Pulau Mayyun di Selat Bab el Mandeb

Milisi Houthi Yaman merebut P. Mayyun di tengah Selat Bab el Mandeb yang strategis dari tangan pasukan pemerintah Yaman. (foto: AFP)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 10/9 – KELOMPOK milisi Houthi yang berkuasa di Yaman  menguasai Pulau Mayyun, pulau strategis di tengah Selat Bab El Mandeb, pada Jumat (11/9).

AF melaporkan (11/9), pengambilalihan tersebut melengkapi upaya untuk menguasai kawasan Bab El Mandeb, jalur pelayaran penting bagi arus ekspor minyak Arab Saudi.

“Houthi telah menyelesaikan pengambilalihan atas wilayah Bab El Mandeb dan Pulau Mayyun,” kata pejabat pemerintah Yaman kepada AFP.

Menurut dia, sejumlah perahu yang membawa anggota Houthi tiba di Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah meninggalkan wilayah tersebut sehari sebelumnya.

Seorang saksi mata juga mengatakan, sejumlah pria bersenjata dikerahkan di sepanjang pesisir Bab El Mandeb dan terlihat berkeliling menggunakan kendaraan militer.

Eskalasi Houthi-Arab Saudi Tegaskan Nilai Strategis Bab el-Mandeb Artikel Kompas.id Pengambilalihan ini menjadi hal penting dalam serangan besar-besaran yang dilancarkan Houthi sejak pekan lalu terhadap pasukan Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Houthi sebelumnya telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman bagian utara, termasuk Ibu Kota Sana’a dan kota pelabuhan utama Hodeidah di Laut Merah.

Namun, sebelum upaya ofensif terbaru, Houthi belum menguasai wilayah yang secara langsung menghadap ke Bab El Mandeb.

Adapun Bab El Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Laut Merah serta Terusan Suez.

Jalur ini semakin penting bagi arus minyak dari Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia, sejak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat Selat Hormuz sulit dilintasi.

Serangan Houthi Houthi mencatat serangkaian kemenangan dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah yang didukung Saudi.

Pertempuran tersebut telah menewaskan lebih dari 500 orang sejak pekan lalu, berdasarkan penghitungan AFP yang dihimpun dari sejumlah sumber.

Arab Saudi merespons dengan puluhan serangan udara. Media Houthi melaporkan dua serangan udara terbaru pada Jumat menghantam Bandara Mokha.

Meski telah melakukan serangan udara, Arab Saudi disebut belum berhasil menghentikan laju cepat pasukan Houthi.

“Menurut saya, Saudi telah mencoba segala cara yang mereka bisa untuk menghindari perang ini, tetapi saya rasa sekarang mereka tidak punya pilihan lagi,” kata Farea Al Muslimi, peneliti di lembaga think tank Chatham House.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), pertempuran tersebut juga telah memaksa hampir 20.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Houthi Mohamed, warga Yaman berusia 46 tahun yang meninggalkan Mokha pada tengah malam, menggambarkan situasi di kota pelabuhan tersebut sebagai suasana yang “apokaliptik”.

Warga lainnya, Mujahid Tahami, mengatakan bahwa sejumlah keluarga menjadi korban penjarahan ketika mereka berusaha melarikan diri menuju Aden.

Perang di Yaman kembali berkobar pada Juli setelah relatif tenang selama beberapa tahun, yang sebelumnya diselingi kekerasan sporadis dan memburuknya kemiskinan.

Pada Rabu (9/9), koalisi pimpinan Saudi yang memerangi Houthi mengatakan bahwa kelompok tersebut meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah kota di Arab Saudi bagian selatan.

Sehari kemudian, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 64 serangan terhadap Yaman dalam 24 jam sebelumnya.

Dewan Keamanan PBB kemudian menggelar pertemuan pada Kamis (10/9/2026) untuk membahas konflik tersebut.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyerukan keterlibatan aktif seluruh anggota Dewan Keamanan PBB untuk mencegah konflik berkembang menjadi situasi yang jauh lebih berbahaya.

Pertemuan darurat itu digelar atas permintaan Inggris. Negara tersebut meminta DK PBB mengirimkan pesan yang jelas dan konsisten agar Houthi melakukan deeskalasi, menghentikan serangan, dan kembali ke jalur perdamaian.

Menurut AFP, pertempuran terbaru itu bermula pada Juli ketika Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat meski bertentangan dengan kendali Saudi atas wilayah udara Yaman.

Pemerintah kemudian membalas dengan menyerang Bandara Sana’a, yang oleh Houthi dituduhkan sebagai serangan Saudi.

Baku tembak terbaru ini dikhawatirkan kembali menyeret Yaman ke dalam konflik besar. Perang sebelumnya telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Usir rezim pemerintah dari ibu kota Sanaa

Houthi sebelumnya merebut ibu kota Yaman dan

memaksa pemerintah keluar dari Sana’a. Kelompok tersebut kemudian berperang melawan koalisi pimpinan Saudi sejak 2015 hingga tercapainya gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022.

Arab Saudi menampung Presiden Yaman Abdurabuh Mansour Hadi yang dikudeta milisi Houthi pada 2024, lalu setahuan kemudian membentuk koalisi Saudi – Yaman untuk mengembalikannya ke tampuk pimpinan Yaman dengan membantu pasukannya memerangi Houthi.

Houthi tentu saja tidak sendirian karena ada Iran di belakangnya yang memasok persenjataan termasuk rudal-rudal balistik dan drone serang Sahed-136 untuk memrangi Saudi dan juga Israel.

Tren Eskalasi perang di Timur Tengah agaknya masih terus berlangsung sehingga harga minyak global pun dikhawatirkan akan melonjak kembali (AFP/ns)   

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here