BANDUNG – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait sesar aktif yang menyebabkan gempa berkekuatan 5,0 yang mengguncang Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Kepala Pusat Survei Geologi, Edy Slameto, menyatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik sesar aktif di wilayah tersebut, sekaligus mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa di masa mendatang.
“Semoga hasil penyelidikan Badan Gelogi dan Unpad bisa menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Edy di Bandung, Jumat (20/8/2024).
Ia menambahkan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan pemetaan sesar aktif, termasuk di wilayah Kertasari, dengan tujuan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui tentang potensi patahan aktif.
“Saat ini kami sedang melakukan pemetaan aktif di level Kabupaten kota, di antaranya Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Surabaya,” katanya.
Pemetaan ini, menurut Edy, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi dampak gempa dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya mitigasi gempa, mengingat Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yang rentan terhadap gempa.
“Kami mengetahui bahwa kondisi geologi Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif kita rawan terjadi gempa. Oleh karena itu, mitigasi gempa harus dilakukan konsisten dan keberlanjutan,” kata dia.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa gempa di Kabupaten Bandung pada Rabu (18/9) disebabkan oleh sesar aktif yang belum terpetakan.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan bahwa gempa ini kemungkinan terjadi pada sesar yang berbeda dari Sesar Garsela atau Sesar Lembang.





