SOSOK Begawan Bagaspati sangat mirip dengan Sanghyang Yamadipati, dewa khusus urusan cabut nyawa. Postur tubuh sama tinggi dan gedenya, juga sama-sama pakai sepatu tanpa kaos kaki. Rambut di kepala juga model ukel, khas milik para wayang suci. Paling menarik adalah kostum bajunya, meski bukan aliran fundamentalis mereka sudah lama mengenakan gamis.
Cuma bedanya, jika baju gamis Sanghyang Yamadipati selalu hijau kembang-kembang, Begawan Bagaspati kini berwarna merah kebiru-biruan. Andaikan politisi, aslinya PDIP tapi sudah terkontaminasi Demokrat. Maka meski para cantrik di pertapan Hargobelah sangat beroposisi dengan kahyangan Jonggringsalaka, Begawan Bagaspati cenderung ngesot (menghamba) pada SBG (Sanghyang Betara Guru) penguasa istana Bale Marcakunda. Lihat saja ketika Jonggring Salaka memperingati HUT, Bagaspati selalu datang sendirian, karena Dewi Darmastuti istrinya tak mau ketemu SBG.
“Bune, demi pembangunan citraku sebagai begawan yang cinta damai, mbok kamu bersedia mendampingiku setiap sowan ke istana Bale Marcakunda,” begitu harap Begawan Bagaspati.
“Sorry, aku bukan tipe wayang penjilat. Sampeyan hanya demi kelancaran bisnis BBG (Bahan Bakar Gas), rela kehilangan jatidiri. Mengatasnamakan persatuan, ideologi kebegawanan dikorbankan. Gas memang biru, tapi jiwamu kenapa ikut-ikutan membiru?” sindir Dewi Darmastuti ketus.
Begawan Bagaspati terdiam, karena sindiran istrinya memang ngarani waton nyata (menuduh berdasarkan fakta). Dalam hati kecilnya dia mengakui semua itu. Bisnis gas yang dikelolanya selama ini bisa lancar dan makin maju pesat karena suport dari Jonggring Salaka. Sebab bahan baku BBG itu sendiri dipasok dari kawah Candradimuka. Melalui teknologi smelter, uap kawah bisa disulap menjadi bahan bakar dan kemudian dialirkan dan dipasarkan di ngercapada.
Berkat bisnis BBG made in kahyangan, Begawan Bagaspati kaya raya. Dia bisa sumbang kegiatan ini itu dari ratusan juta hingga miliaran, termasuk mendanai sang istri nyalon DPD dua kali, tapi kalah melulu. Bagaspati sendiri sampai bingung, sebagai mantan bidadari dari Jonggring Salaka, kenapa Dewi Darmastuti tak laku jadi politisi.
“Ngercapada akan ada pemilihan gubernur lagi, kamu nggak usah ikut ya. Beri kesempatan pada tokoh-tokoh muda, misalnya anak kita sendiri, Pujawati. Kamu sudah tua Bune, nggak laku dijual.” Sindir Begawan Bagaspati.
“Itu terserah saya. Berdasarkan laporan semua lembaga survei, elektabilitas saya makin menguat kok.” Jawab Dewi Darmastuti ngeyel.
Sesungguhnya Begawan Bagaspati memang lebih menginginkan agar putri kandungnya, Dewi Pujawati yang mengembangkan karier politik. Sang istri, karena usia sudah over-sek (seket) atau lebih dari 50 tahun, mendingan di pertapan saja, tinggal mamah karo mlumah (makan dan melayani suami di ranjang). Gara-gara ini, jika ada cantrik pertapan nampak lebih menonjol dari Pujawati, nadanya Begawan Bagaspati tidak suka. Sebab dia bisa menjadi saingan putri mahkota.
Dewi Pujawati kini sudah dipercaya menjadi ketua cantrik seluruh pertapan Hargobelah. Untuk membuka wawasan sekaligus dikenal tokoh-tokoh elit di Jonggring Salaka, sekali waktu dia pernah diajak Begawan Bagaspati sowan ke Bale Marcakunda, diperkenalkan pada SBG. Kontan media massa menyorot dan menganalisa bahwa Dewi Pujawati memang mau diorbitkan sebagai politisi handal, bukan sekedar pewaris pengusaha BBG.
“Sengaja Pujawati kuajak, agar tidak menjadi pemalu macam ibunya, pukulun.” Kata Begawan Bagaspati pada SBG di Bale Marcakunda.
“Wah, cantik juga anak Bagaspati. Sayang jika nanti cuma menjadi ketua umum percantrikan,” saran SBG sambil senyum.
Sekembalinya Bagaspati – Pujawati ke pertapan Hargobelah sesungguhnya tak terjadi perkembangan yang berarti. Saran Bagaspati kepada SBG agar tidak menaikkan dulu harga BBG bersubsidi, juga tak diterima. Cuma yang mengagetkan sang Begawan, 2 malam berikutnya Pujawati mengaku bahwa telah bermimpi ketemu kesatria ganteng bernama Narasoma. Entah kenapa, mendadak dia orgasme duluan dan meminta pada sang ayah Begawan Bagaspati untuk mengawinkan dengan kesatria tampan yang tak jelas domisili dan e-KTP-nya tersebut.
“Kamu kenalnya di mana nduk? Dalam mimpi apa facebook?” selidik Begawan Bagaspati.
“Dalam mimpi, ayah. Tapi sosok Narasoma itu sangat detil, postur sedang-sedang saja, berkumis, kurus-kurus dikit, kulit hitam manis. Tolong segera cari ayah, dia calon suamiku.” Kembali Pujawati merengek.
Begawan Bagaspati menepuk jidat, pusing tujuh keliling. Nama Narasoma kan ombyokan, tanpa RT/RW dan di kampung mana tinggal, jelas susah dilacak. Tapi demi anak tercinta, dia pergi juga meninggalkan pertapan Hargobelah, sekedar untuk mencari calon mantu yang tak jelas. Maklum, sang begawan sangat takut jika putrinya kecewa dan bunuh diri nubruk KRL Bogor – Kota.
Namanya sedang milik, saat Bagaspati makan di Warteg, dia ketemu sosok lelaki berpakaian dinas mirip karyawan Pemda DKI, dengan nama dada jelas: Narasoma. Ciri-cirinya sama persis dengan apa yang dimimpikan Dewi Pujawati. Yakin takkan salah sasaran, Begawan Bagaspati langsung saja mengajak anak muda itu main ke pertapan untuk dikawinkan dengan putrinya.
“Ogah. Kamu tampang jelek begitu, pasti anakmu makin simpang siur.” Kata Narasoma sangat menyakitkan.
“Menghine, ye? Lihat dulu itu barang, baru nanti komentar.”
Narasoma pun bersedia diajak ke pertapan Hargobelah. Selama dalam perjalanan Bagaspati baru tahu bahwa Narasoma adalah putra Prabu Mandrapati dari Mandaraka, yang berarti calon pewaris tahta. Makin mantap saja Begawan Bagaspati. Dengan menjadi istri Narasoma, pasti karier politik putrinya semakin kinclong. Lebih dari itu, dia juga bisa mengembangkan bisnis BBG-nya di Mandaraka.
Tiba di pertapan, Narasoma diperkenalkan dengan Dewi Pujawati. Cantik sekali memang itu barang, cuma kenapa bapaknya seorang raksasa? Padahal sebagai calon raja Mandaraka, dia malu punya mertua bertampang nggilani (menakutkan). Karena pertimbangan itu Narasoma menolak jadi mantu Bagaspati.
“Kamu itu anak muda, tapi belum makan Pancasila. Satria dan raksasa, mempunyai hak yang sama hidup di dunia perwayangan. Mereka punya kewajiban dan porsi yang sama ikut membangun bangsa. Sayang, kamu masih muda sudah intolerans.” Kritik Begawan Bagaspati.
“Kamu kan raksasa, badan gede, pasti makan banyak, butuh tempat juga banyak. Di negeri wayang tak ada perumahan dengan DP nol persen.” Jawab Narasoma sekenanya.
Begawan Bagaspati mencoba menjelaskan panjang lebar, tapi Raden Narasoma meski tak berjubah dan berjenggot justru lebih fundamentalis. Itu artinya, dia tetap tak bisa menerima kalangan raksasa sebagai bagian dari elemen bangsa. Demi anak tercinta, Bagawan Bagaspati harus siap berkorban.
“Kalau itu maumu, tak apalah. Saya rela mati, asalkan Pujawati putriku bahagia dan cemerlang karier politiknya.” Jawab Begawan Bagaspati tegas.
“Terserah, tapi saya nggak nyuruh lho.” Jawab Narasoma acuh.
Biar dibenci Narasoma, tapi Bagaspati tetap menyayangi calon menentunya itu. Ajian miliknya, Candabirawa, segera diwariskan. Ilmu ini menjadikan pemiliknya akan mendapat bantuan raksasa siluman ribuan banyaknya, manakala dibutuhkan. Musuh yang dihadapinya pun: rawe-rawe rantas malang-malang putung.
“Ngasih makannya bagaimana? Tekor dong, gue.” Keluh Narasoma.
“Nggak papa. Mereka dikasih nasi bungkus bekas demo damai mau kok.”
Begawan Bagaspati pun diam-diam menenggak Baygon sambil live di FB, hingga wasalam. Karena ajian Candhabirawa miliknya telah diwariskan pada Narasoma, sehingga nyawa pun makin mudah lepas dari badan. Putra mahkota Mandaraka itu pun menerima Dewi Pujawati jadi istrinya.
Yang sangat mengherankan, saat Begawan Bagaspati dikuburkan, masyarakat penjuru wayang semua mengelu-elukannya. Padahal di mata Narasoma, mertuanya hanyalah begawan yang jadi politisi transaksional. Mengejar kekuasaan tapi melupakan aspirasi para cantriknya. (Ki Guna Watoncarita)



