Bahaya Utang di tengah Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA – Di tengah pembangunan infrastruktur yang masif ternyata menyimpan sejumlah polemik. Peneliti IDEAS, Dinda Dewinta dalam diskusi ‘Mengejar Mimpi Infrastruktur’ mengatakan ambisi pemerintah mengejar pembangunan infrastruktur justru akan masuk keperangkan utang.

Di sisi lain pembangunan infrastruktur yang terfokus di wilayah barat Indonesia juga dapat memperlebar jurang ketimpangan. Dinda berujar sinyal kemampuan PDB yang semakin menurun juga akan mengakibatkan utang kian membengkak.

“Mekanisme pembiayaan infrastruktur 60 persen ditanggung swasta dan ini lah peluang utang negara bisa membengkak,” ujarnya di Jakarta (21/9).

Menurut catatan IDEAS setidaknya masih ada 85 proyek infrastruktur tersebar di seluruh Indonesia yang masih dalam perencanaan dan belum memilikisumber pembiayaan yang jelas.

Peneliti IDEAS lainnya, Vanny Achyani juga berkata demikian. Menurut Vanny semakin banyak pemerintah membangun infrastruktur justru akan membuat utang meningkat dan rupiah melemah karena bahan baku yang didatangkan secara impor.

Bila membandingkan rata-rata belanja modal tahun 2014 dan 2017 di periode yang sama, terjadi peningkatan pengeluaran dari Rp 134 Triliun ke Rp 197 Triliun. Terkait problem tersebut IDEAS merekomendasikan beberapa langkah agar utang negara tak kian membesar.

Pertama dengan memindahkan proyek pembangunan di barat ke wilayah timur dengan kajian ulang. Kedua pemerintah harus membangun infrastruktur yang dibutuhkan, bukan yang diperlukan.

“Sesuaikan pembangunan dengan APBN negara,” tukas Vanny.

Advertisement