Apa Ada Bajingan Tolol?

Gerobak sekarang pakai ban mobil, meski tidak radial. Coba tebak, kira-kira yang mana bajingannya?

KATA makian bajingan tolol beberapa hari ini mendadak menggema di seluruh nusantara. Biangkeroknya si  Rocky Gerung, karena kata-kata kasar itu dialamatkan ke Presiden Jokowi. Ketika banyak yang marah, akademisi yang pakar perdunguan itu berkelit bahwa kata “bajingan” sudah ada sejak jaman Mataram, yang artinya kusir gerobak. Untungnya Presiden Jokowi adem ayem saja, tak peduli dengan pisuhan (makian) Rocky Gerung, sehingga takkan mempidanakannya. Padahal kalau di era Orba langsung ilang dia!

Bawa-bawa jaman Mataram sebagai cara untuk ngeles, apa yang dikatakan Rocky Gerung mungkin ada benarnya. Mungkin lho ya! Sebab di buku sejarah Indonesia karya Sanusi Pane atau juga Anwar Sanusi terbitan Pustaka Pakuan Bandung, sama sekali tak disinggung soal bajingan. Baik itu pada Mataram Islam maupun Mataram Hindu. Kalau raja Metaram yang jahat memang ada, misalnya Sunan Amangkurat I (1619-1677). Dia tega membunuh 600 ulama yang berseberangan dengannya.

Yang jelas, di masa kecil penulis, tukang gerobak di daerah Purworejo (Jateng) juga disebut bajingan. Jaman itu penulis akrab sekali dengan bajingan muda bernama Capuk, dari Desa Kembang Kuning Kecamatan Ngombol. Kala itu ayah penulis memang sedang mau bangun rumah, sehingga wedhi (pasir) pun diangkut pakai gerobag yang berbahan bakar tenaga kuda. Nah, ketika muatan sudah diturunkan saya dan teman-teman dibolehkan naik dalam gerobak dalam perjalanan sekitar 200-an meter saja. Glothak glothak…..begitu suara gerobak yang rodanya pakai “ban” besi.

Dalang terkenal Ki Hadisugito dari Toyan Kulon Progo (DI Yogyakarta), sampai tahun 1970-an juga akrab dengan bajingan, bahkan mempekerjakannya. Sebab wayang dan gamelan untuk pentas selalu dikirim ke rumah penanggap dengan grobak sapi racuk, meski pun berjarak sampai 20 kilometeran. Bajingan dan gerobaknya datang sekitar pukul 10:00 pagi, kembali angkut property wayang pukul 06:00 pagi hari berikutnya. Bajingannya ikut nonton pagelaran, sedangkan 2 ekor sapinya semalaman asyik makan rumput hijau yang tidak berstandar FIFA.

Googling di internet, memang ditemukan kata bahwa bajingan juga punya arti tukang gerobak. Tapi jika merujuk kamus “Bausastra Jawa-Indonesia” karya S. Prawiroatmadja, bajingan itu mengandung makna: penjahat atau tukang copet. Tak jelas kenapa entri bajingan dalam arti tukang grobak kok tak dimaksukkan. Bisa jadi pada pustaka yang jadi referensi pengarangnya tak ditemukan kosa kata yang bermakna seperti itu.

Seiring dengan kemajuan teknologi, gerobak dan bajingannya meskipun ada tidak lagi pakai ban besi, melainkan ban mobil. Tentu saja ban yang standar biasa, tidak harus merk Gajah Tunggal atau Bridgestone yang yang bannya selalu radial dan selalu disebut daya cengkeramnya luar biasa. Sebab tidak ada gerobak ngebut 100 Km perjam. Dan dengan digantinya roda pakai ban karet tersebut, nilai nostalgianya menjadi hilang. Sebab tak terdengar lagi suara glothak glothak …..sebagaimana era tahun 1970-an.

Bajingan dalam arti penjahat sebagaimana kamus “Bausastra Jawa-Indonesia”, hingga sekarang masih ada, tapi telah bertransformasi menjadi bajing loncat. Bukan bajing luncat lagu pasundan, tapi bajingan yang meloncat dari satu truk ke truk lainnya untuk mencuri muatan dalam truk. Di sekitar pelabuhan Tanjung Priok misalnya,  kini masih ditemukan bajing loncat semacam itu. Mereka dengan tenang mengambil besi-besi yang dimuat truk tersebut, ketika jalanan macet. Bajingaaaan!

Di Surakarta yang dikenal sebagai kota budaya, makian bajingan sudah diperhalus menjadi bajindhul atau bajinguk. Dengan dieditnya makian tersebut, nilai kekasarannya jadi menurun, apa lagi jika diucapkan pada kawan akrabnya. Yang dimaki banjindhul atau bajinguk hanya tertawa saja. Ini sama persis dengan asu yang bermakna anjing, ketika berubah jadi asyu dan diucapkan oleh budayawan Butet Kartaredjasa, lawan bicaranya ngekek (tertawa) saja.

Jika Rocky Gerung tega menyebut bajingan tolol, sebetulnya yang sudah demikian populer adalah istilah bajingan tengik. Menjadi pertanyaan kemudian, apakah bajingan itu jenis makanan sehingga bisa dimakan? Sebab yang bisa tengik itu hanya makanan berminyak seperti wajik, apem, serabi dan bakpia Pathok, Yogyakarta. Nah, siapa doyan bajingan tengik? Dipanasi atau digoreng lagi pun, takkan ada yang doyan. (Cantrik Metaram).

 

 

 

Advertisement